Mama ngga jawab. Tangannya terpaku, sama seperti matanya. Sementara otak gue terasa beku, ngga bisa mikir lagi. Tanpa pamit, langsung ninggalin dua perempuan kesayangan di dapur.
Berbagai kata dan rasa menembak dari segala arah. Memaafkan itu ngga gampang. Tapi nasi yang udah jadi bubur juga ngga mungkin dibikin nasi goreng.
Merunut lagi berbagai peristiwa sejak penipuan Tania ketahuan. Dijodohin sama Bulan, dan mengira ini akan jadi sarana yang baik buat balas dendam. Biar dia liat, kalo apa yang dilakukannya sama sekali ngga ngaruh ke hidup gue.
Sialnya, gue salah. Perempuan secantik bidadari itu ternyata lesbian. Kemudian kehidupan beruntun bawa gue sampe di sini. Semua topeng terbuka, bikin hidup makin kacau.
Di tengah kekacauan, ternyata Bulan malah bisa jadi sandaran. Anak manja itu bisa tegar banget nahan gue yang hampir hancur. Sekarang pun dia bisa berada di sisi Mama dan menguatkannya.
Sesuatu yang gue kira kesialan, sebenernya keberuntungan. Beruntung banget bisa nikah sama bidadari yang cantik ngga cuma di luar tapi sampe jauh ke dalam hati.
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan," suara khatib di khutbah Jum'at pertama setelah sekian tahun itu terngiang kembali. Berulang-ulang, bergema di setiap dinding kepala. Nyakitin, kepala rasanya mau pecah.
Semua kejadian, semua peristiwa, kesedihan, keburukan, kemarahan, kesulitan silih berganti lewat di ruang kenangan. Gue bisa sampe di titik ini, karena pernah selamat dari kematian dulu. Berhasil bangkit, tapi malah menghancurkan kehidupan orang lain.
Bertemu Ratna. Berhasil bangkit lagi, tapi malah mematikan perasaan sendiri.
Bertemu Tania dan bangkit lagi. Menyusun rencana masa depan kembali, lalu hancur lagi.
Bodo amat dengan dunia. Menjalani kehidupan kini dan di sini, malah ketemu Bulan. Dan hidup seperti berubah arah. Dia bikin langkah gue punya tujuan, tapi sekarang goyah lagi.
Bulan bener, kita butuh panduan yang lebih besar dari nurani untuk mengambil keputusan yang benar. Nurani gue udah salah ngasih pertimbangan. Papa yang selama ini jadi panutan ternyata cuma lelaki pengecut yang bahkan ngga berani buat bilang ngga sama godaan.
Yeah! Seenggaknya gue jadi tahu darimana bakat bucin itu diturunkan.
Pintu kamar kebuka pelan-pelan. Kepala Bulan muncul dengan senyuman. "Hai," katanya, "Mama ngerasa pusing, jadi kusuruh istirahat aja." Dia berjalan mendekat lalu bersimpuh pas di depan kaki gue. "Kamu tahu gimana caranya bikin kari?"
Hahaha! Gini kalo punya istri tuan putri konglomerat, ngga boleh berharap bakal dimasakin.
Siang itu, dengan menahan perut yang keroncongan belom sarapan, gue bikin kari bareng Bulan. Maksudnya, gue yang masak, dan Bulan jadi asisten magang. Bukan apa-apa, megang pisau aja musti diajarin biar bisa lemes. Motong bawang bombay, malah dia yang nangis bombay.
It's okay, ngga masalah. Ada dia dalam hidup gue aja udah berkah banget saat ini. "Kamu ngga ada niat buat ninggalin aku, kan?" elah, kenapa jadi bucin begini, dah.
Dia menoleh sedikit dan mendaratkan ciuman di pipi, lalu melingkarkan tangan ke pinggang gue. "Yang punya kesempatan lebih banyak ninggalin aku tuh kamu. Secara mantanmu di mana-mana."
"Cuma dua." Gue rangkul erat tubuh istri tercinta sambil mengecup halus daun telinganya.
Dia tergelak kegelian lalu berkata, "Dua, dan dua-duanya karyawanmu."
Eh? Iya, juga ya. Baru nyadar. "Tapi kamu, kan, selalu jadi istriku."
Bulan melontar tawa lagi. "Udah, ah. Ayo, masak," ajaknya melonggarkan pelukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku, Bulan
RomansaWARNING 18+ Cerita ini pertama kali diterbitkan November 2019 dan tamat tahun 2020. Pada tahun 2021, Istriku, Bulan diplagiat dan saya menarik penerbitannya di wattpad. Cerita ini memang tidak diniatkan untuk dikomersilkan. Saya ingin agar maki...
