74. Dear, Mr. Bear

2.7K 277 90
                                    

Agak siangan, perut gue udah mendingan. Selera makan juga balik, nyaris kaya balas dendam karena nasi goreng buat sarapan tadi udah keluar waktu muntah-muntah. Abis makan siang, ada yang teriak dari luar, "Paket!"

Ternyata abang ojol bawain parsel buah. "Dari siapa, Bang?" gue basa-basi sambil dia motret bukti bahwa paket udah nyampe.

"Dari Toko Buah, Mas," jawabnya santai sambil masukin hape ke kantong lalu pamit gitu aja. Elah! Anak TK juga tahu ini dari toko buah.

"Wow, buah?" Mama juga heran liat gue bawa buah sekeranjang.

Gue cuma ngangkat bahu, naro sekeranjang buah di atas meja makan, trus beralih ke dispenser buat ngambil air. Dengan hati-hati Mama ngebuka plastik penutupnya lalu mengambil amplop yang diselipin di antara dua buah jeruk.

Di dalam amplop itu ada selembar kartu. Mama narik kertas putih kaku itu lalu membacanya dengan lantang, "Assalamu'alaikum, Mr. Bear...."

Nyaris keselek gue. Untung cuma nelen air. Mr. Bear katanya?

Mama berhenti baca dan ngeliat gue dari balik kartu. "Napa, Mal?"

Di antara batuk-batuk, gue jawab, "Ngga apa-apa. Apa katanya?"

"Assalamu'alaikum, Mr. Bear. Jaga kesehatan, ya." Mama ngeliat gue lagi. "Jaga kesehatan? Buat kamu, ya?"

Ga bisa nahan senyum. Mr. Bear, ngingetin sama boneka beruang yang dibuang Si Banci Kaleng dulu.

Gue ngangkat bahu tapi radar Mama mencium sesuatu. "Dari siapa?" tanyanya mirip sebuah desakan.

Ga mau jawab. Gue ambil buah pir dari dalam keranjang dan beranjak ke washtafel.

"Kamal?" jelas Mama ngga terima dicuekin gini, "dari siapa?" tanyanya.

Gue gigit buah pir sambil ngelemparin senyum. Sambil lalu, ambil satu buah pir lagi, trus naik buat masuk kamar.

Menghempaskan badan ke tempat tidur, sekarang rasanya jadi lebih ringan. Sebulan tanpa komunikasi, cuma curi-curi pandang pake vicall dari Hana. Sekarang dia ngirimin sekeranjang buah. I can't be happier today.

Tiba-tiba terlintas ide buat ngirim ucapan terimakasih. Tapi dia ngga nulis nama pengirim, cuma ngasih pesan berkode. Baiklah, emang cuma dia yang bisa main kode-kodean?

Gue tata dua buah pir di meja dengan latar belakang shampo dan kondisioner yang biasa dia pake. Selama sebulan ini gue udah banyak nyetok dua perawatan rambut itu. Lumayan, bisa dipake juga buat ritual pagi di kamar mandi. Jadi berasa seolah berada bersamanya meski cuma aroma yang memenuhi ruangan.

Selesai difoto, kirim ke IG dengan caption, "It's a pear to be you, thank you." Ngga usah di-tag. Gue yakin dia pasti juga stalking akun medsos, sama kaya gue. Pede tingkat semesta, ha ha ha.

Ga ada balesan apa-apa. Akunnya juga bersih dari update-an apa pun.

Hhh! Napa jadi FOMO gini? Bentar-bentar liat hape, cuma buat mastiin layarnya sepi tanpa notifikasi. Gue banting ponsel ke kasur.

Kerja, kerja, kerja! Daripada mikirin yang ngga jelas, mending langsung fokus nyelesein proyek

***

Ternyata gue ketiduran. Bangun-bangun matahari udah terbenam. Liat hape, ada notif, Bulan akhirnya posting sesuatu lagi di IG setelah sekian lama.

Langsung melek gue. Dia posting foto boneka beruang gede, persis kaya yang dulu dibuang sama Si Banci Kaleng. Caption-nya "Dear, Mr. Bear. Lagi ngidam, ya?"

Istriku, BulanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang