Pagi-pagi Tanjung Priok udah dipenuhi orang-orang yang akan ikut berlibur merayakan pernikahan kami. Meski buat gue sama Bulan ini semacam permainan rumah-rumahan yang dimainkan ketika masih kecil, tapi buat para undangan, ini adalah liburan gratis yang wajib dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Kabarnya 5.000 orang bakal jadi penumpang di kapal ini. Semua karyawan Purwaka Group, mulai dari dewan direksi sampe cleaning service tumplek di sini. Gue dapet kamar di dek 14a bareng sama seluruh pemegang saham, keluarga besan, dan dewan direksi.
"Mimpi apa kamu bisa nikah sama anak Pak Hendro, Mal?" ucap Papa masih takjub dengan fasilitas mewah yang ia dapatkan. Beliau cuma salah satu direktur di anak perusahaan Purwaka Group. Kalau bukan karena hadir sebagai besan Om Hendro, maka di acara seperti ini, keluarga kami pasti hanya akan dapat fasilitas sekelas di bawah yang kami nikmati sekarang.
Kalo inget semua itu, gue cuma bisa kasih senyum aja. "Mimpi buruk kayanya, Pa."
"Hush!" Lengan gue langsung dapet tepukan halus dari Mama. "Dapet nikmat itu bersyukur. Malah dibilang mimpi buruk."
Ga tau, dah. Ini bahkan terlalu rumit buat otak gue yang terlalu simpel.
Kamar gue disebut kamar pengantin. Posisinya paling ujung di dek. Begitu masuk, mata langsung dimanjain sama cahaya matahari yang melimpah berkat jendela besar di dua sisinya. Pemandangan dari balkon juga sangat menyegarkan. Lautan terlihat sampai batas cakrawala. Mudah-mudahan nanti ada lumba-lumba atau paus beratraksi di hamparan samudera.
Bulan datang sekitar limabelas menit setelah gue masuk kamar. Dia bawa satu ransel gede buat rencana tiga hari liburan. Tentu petugas porter yang mengangkutnya ke sini.
"Udah siap?" tanyanya, basa-basi sambil sembarangan lempar topi pantai ke atas nakas. Kemudian menghempaskan diri seenaknya ke atas ranjang. Ngga peduli jantung gue blingsatan liat badannya yang cuma pake kemeja putih nyaris transparan dan celana pendek warna biru muda. Kulit putih dari keempat anggota badannya terpapar bebas tepat di bawah hidung. Itu belum terhitung aroma parfum yang menguar, memabukkan ujung-ujung syaraf penciuman.
Seolah itu semua belum cukup, dia malah meregangkan badan dengan menarik tangan jauh-jauh ke atas kepala. Area perutnya tersingkap sedikit, ngasih liat kulit putih mulus tanpa cela.
"Woy!" Gue lempar bantal juga, ni anak. "No love, no sex. Tapi kalo kamu terus-terusan ngegodain kaya gini, jangan salahin kalo aku ngeelanggar perjanjian."
Dia gelagapan menghindarkan bantal dari muka dan balik melempar ke badan gue. "Heh! Yang ngegodain itu siapa? Aku cuma tiduran di tempat tidurku sendiri. Kamu yang omes, trus aku yang salah?"
Gue balikin bantal yang tadi dilempar. "Seenggaknya jangan pake baju yang terlalu seksi di depanku."
Bantal dilempar balik lagi. "Kaya gini dibilang terlalu seksi? Hello! Tolong otaknya disapu, ya Mas. Kayanya udah lama ga dibersihin."
Cih! Apa dia ngga sadar kalo pakaian dalamnya membayang dari balik kemeja?
Gue balas ngelempar bantal lagi. Dia ngga mau kalah. Empat bantal yang ada di atas kasur bergantian jadi senjata hingga terdengar ketukan pintu. Dua orang dari butik dan seorang penata rias udah berdiri di depan pintu, siap buat make over.
Mereka tertegun ngeliat ranjang berantakan. Apalagi ditambah Bulan dengan santainya ngerapiin rambut yang awut-awutan akibat perang bantal barusan.
"Maaf, ya, Mas. Jadi mengganggu. Soalnya jam sepuluh semua udah harus siap," si penata rias kedengeran canggung berbasa-basi.
"Nyantai aja, Mbak," Bulan menjawab cepat, "kita cuma sedikit perang-perangan aja tadi." Hahaha, nice response!
***

KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku, Bulan
RomanceWARNING 18+ Cerita ini pertama kali diterbitkan November 2019 dan tamat tahun 2020. Pada tahun 2021, Istriku, Bulan diplagiat dan saya menarik penerbitannya di wattpad. Cerita ini memang tidak diniatkan untuk dikomersilkan. Saya ingin agar maki...