27. Extra Time

3.1K 235 22
                                    

Pagi itu, sembari sarapan di restoran hotel, Dokter Ardan ngajakin diskusi soal terapi yang disarankan buat Om Hendro. Setelah berkonsultasi dengan dokter onkologi yang merawat di Jakarta, dia menyarankan kriopterapi dikombinasikan dengan kemoradioterapi. "Memang hanya untuk menambah harapan hidup. Soal kesembuhan, probabilitasnya kecil sekali."

Masalahnya, Om Hendro nolak semua jenis terapi. Dia lebih milih fokus nyiapin diri buat menghadap Allah. Ini kaya ngebiarin diri sendiri mati pelan-pelan.

"Yah, lagipula memang udah ga ada lagi yang bisa dilakukan, kan?" Bulan nimpalin pasrah.

"Ada," gue ga setuju, "bukannya tadi Dokter Ardan udah nyaranin dua jenis terapi dikombinasi?"

"Tapi itu cuma nambah waktu, apa gunanya?" Bulan mengajukan argumen.

"Bukannya itu yang kita lakukan setiap saat?"

Dokter Ardan ngelipet tangan di dada, nunggu kelanjutan kata-kata. Bulan membalas ngga sabar, "Maksudnya?"

"Emangnya kamu tahu berapa banyak waktu yang kamu punya? Lagi sarapan enak-enak gini, bisa aja kamu keselek terus mati. Yang kita jalani ini cuma tambahan waktu setiap saat."

Ga ada balasan lagi dari Dokter Ardan maupun Bulan. Dua-duanya diem, ga tau mikirin apa.

Buat gue, emang itu yang terjadi. It's all about extra time!

Sialan, emang! Gue kaya dipaksa balik lagi dan lagi ke masa itu. Asli bikin dada sesek dan kepala berat.

Malam itu kabur dari maktabah. Ijinnya ke toilet, aslinya mlipir ke masjid. Naik ke teras lantai dua lanjut ke atap pake tangganya tukang bangunan. Di situ, merem lalu terjun bebas.

Kirain bisa mati dengan cara itu, ternyata malah nimpa ustadz yang kebetulan lewat. Badannya remuk ketimpa bodi gue yang segede gaban. Lupa berapa tulang yang musti diperbaiki gara-gara patah dan retak. Sementara gue cuma pusing doang ketambahan kaget karena ternyata masih napas.

Orang-orang bilang, untung badan gue tebel, lumayan buat bemper. Untung juga badannya si Pak Ustadz ngga tipis juga, jadi cuma patah-patah sama retak doang tulangnya. Tapi masa kaya gitu dibilang untung? Pak Ustadz sampe harus bedrest berminggu-minggu karena badannya ngga bisa digerakkan.

Asli, waktu itu ngerasa bersalah banget. Sambil nangis-nangis gue minta maaf sama Pak Ustadz. Dia cuma cengengesan sambil bilang, "Mungkin itu sebabnya Allah bimbing ana buat ke masjid tadi, supaya ana bisa nolongin Antum."

Gue makin kejer waktu itu. Buat apa coba Allah nolongin hidup gue? Ini ga adil. Kenapa orang yang ga bersalah malah dibikin menderita?

Terus dengan santainya Pak Ustadz ngomong, "Antum masih muda. Masih banyak yang bisa Antum lakukan untuk menjadi penolong agama Allah. Jangan sia-siakan kesempatan ini."

Akhirnya gue mati-matian, berdarah-darah bertahan di penjara suci sejak malam itu. Biar badan penuh memar, tiap hari kena gampar, gue terima  semua. Demi apa? Demi ngurangin rasa bersalah. Demi semua omong kosong bernama dosa dan pahala.

Untung akhirnya insap. Sekarang bisa manfaatin waktu dengan lebih berguna. Buat ngebantu kehidupan orang lain.

Gimanapun, gue tetep ngerasa. Hidup ini cuma soal extra time dari waktu ke waktu.

"Ada banyak hal yang bisa dilakukan Om Hendro jika beliau dapat tambahan waktu. Bayangkan soal kebijakan-kebijakan perusahaan yang bisa ditetapkan, berapa banyak yang bisa terbantu. Menurutku, extra time ini layak diperjuangkan," gue nambahin argumen biar makin kuat.

Istriku, BulanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang