79. Tornado Dalam Kepala

3K 265 308
                                    

"Sounds familiar, Pa?"

Papa melorot di kursi yang didudukin. Jari telunjuk dan jempolnya ngebentuk lingkaran nutupin mulut.

Hana menyentak bingung, "Maksudnya?" Gara-gara terlalu fokus nyiapin pisang goreng buat Bulan, jadi  ga sadar dia udah duduk di kursi tepat di hadapan Papa. Kayanya adek gue ini ngga tahu apa-apa soal kisah cinta kedua orangtuanya.

Bulan masih belom brenti ngunyah. Emang bener kata orang, bumil nafsu makannya ngga tanggung-tanggung. Biarin aja, dah. Ngga usah dikomentarin, mending bantuin dia ngerasa nyaman makan banyak-banyak.

Bunda dateng bawa sepiring pisang goreng lagi. Asap tipis masih keluar samar dari masing-masing potongannya. Setelah naro piring di meja, dia duduk di tangan kursi tempat Papa sedang bersandar.

"Maksudnya gimana, Pa?" Hana nanya lagi, kali ini suaranya kedengeran lebih mendesak meski dengan nada lebih rendah.

Yang ditanya malah meraih tangan Bunda lalu menggenggamnya erat. Mereka saling menatap seolah bicara dengan sinar mata.

Cih, bikin sakit ati! Gue alihin fokus dengan kembali nyiapin pisang goreng buat disantap Bulan.

Ngga dapet jawaban dari Papa, Hana beralih ke gue, "Mas?" desaknya, "maksudnya apa, sih?"

Gue angkat bahu. Ini urusan dia sama orangtuanya, biar Papa sendiri yang cerita.

"Ngga apa-apa. Ini cuma mirip sama cerita Papa," kata Papa dengan suara tenang yang kedengeran dibuat-buat.

"Maksudnya Papa dulu nikah sama Bunda juga waktu Mama abis lahiran?"

Papa menggeleng. "Ngga, bagian itunya ngga sama."

Grrrr! Ngga sabar gue. Kenapa ga bilang semua sekalian? Jujur itu susah banget ternyata, ya?

"Trus?" Hana minta kejelasan.

Papa cuma narik napas. Tangannya masih menjalin erat dengan jemari Bunda. Jadi inget waktu konferensi pers dulu, tangan gue juga kaya gitu sama Bulan. Kita saling menguatkan, saling nawarin bantuan untuk jadi sandaran. Gue bisa ngerasain cinta mereka, di saat yang sama ngerasain sakitnya Mama.

"Pa?" Hana makin mendesak ngga sabaran, "Bun?"

Bunda menghela napas. "Kalau harus menengok ke belakang sekarang, hanya bisa ngasih satu jawaban, semua karena cinta," akhirnya dia angkat bicara, "semua karena Papa sama Bunda memilih untuk memperjuangkan cinta."

Tangan Bulan terhenti beberapa senti dari atas pisang goreng. Wajahnya membeku, entah  apa yang terlintas di pikirannya.

"Bunda akui, kami memulainya dengan cara yang tidak sepenuhnya benar," kata Bunda langsung menatap Hana, "namun kita selalu berusaha agar dapat menjalaninya dengan cara yang benar. Karena itu, akhirnya menikah jadi keputusan," Bunda lanjutin cerita dengan ati-ati banget.

Huh! Ngerasa bersalah, tapi tetep aja dilakuin.

"Ya, ini adalah kesalahan yang ngga bisa dielakkan, namun kami selalu berusaha memperbaikinya setiap waktu," Papa nimpalin, masih berusaha tenang.

Kening Hana berkerut. "Maksudnya?"

Ngga ada jawaban. Ini adalah cerita yang sangat sulit diungkapkan. Dalam hati langsung bertekad, jangan sampe jadi kaya Papa. Ditanyain sama anak kaya gini rasanya lebih parah dari ngadepin kematian.

"Kami pernah melakukan kesalahan, dan selalu berusaha memperbaikinya," kali ini Bunda yang jawab. "Bagaimanapun, cinta ini Allah yang ciptakan, Allah juga yang bisa menghentikannya."

Hana makin ngga sabar, "Maksudnya apa, sih? Bunda sama Papa selingkuh?"

"Ngga bisa dibilang selingkuh. Bunda malah jadi pendukung utama Papa untuk membantu Mama keluar dari depresi," potong Papa cepat.

Istriku, BulanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang