Dingin.
Dingin.
Dingin.
Buka mata, yang tertangkap langsung tatapan khawatir dari Bulan. Gini ternyata kalo punya istri, bangun tidur yang pertama diliat istri tersayang, haha.
"Kamu demam," lirih suara Bulan. Telapak tangannya terasa sejuk di dahi.
Berusaha bangun, emang kepala agak pusing. Mungkin efek begadang dua malam berturut-turut ditambah capek hati, pikiran, dan badan.
"Yakin masih mau konpers?" Nada khawatir jelas terdengar dari suara Bulan.
"Yeah! Udah janji, harus ditepati." Bangkit dari tempat tidur, siap-siap mandi. Konpers jam delapan, seenggaknya harus udah siap setengah jam sebelumnya.
Di tepi ranjang, duduk sebentar. Kepala beneran pusing ternyata.
"Lemes, ya?" tanya Bulan lagi, masih bernada cemas.
Gue ngangguk. "Ngga kuat buat mandi rasanya."
"Tuh, kan. Udah, cancel aja konpers-nya." Bulan meraih hape yang tergeletak di nakas.
Gue tahan tangannya, lalu dengan wajah sememelas mungkin mengajukan permohonan, "Mandiin, dong."
"Jiah! Kalo udah bisa ngerayu kaya gini, berarti udah sehat. Mandi sendiri, sana!"
Et dah! malah ngegas. Ke mana nada cemas bercampur khawatir yang tadi?
***
Di meja makan, lidah rasanya pahit. Nasi goreng tuna bikinan Mama aja bisa kerasa ngga enak banget di mulut.
"Hari ini katanya bakal ada mogok di kantor," kata Papa di sela sarapan.
"Katanya gitu, Pa. Makanya kita mau konpers sebelum mogoknya mulai. Mudah-mudahan bisa meredakan aksi," jelas Bulan singkat.
"Baguslah. Sukses konpers-nya," respons Papa yang tenang seolah ga terjadi apa-apa sedikit bikin muak.
Mengingat gimana Mama bangun tengah malam dan ngadu sama Allah, bikin kesel. Apa Papa segitu ga perhatiannya sama Mama sampe ga tahu apa yang terjadi dalam kehidupan batin istri sendiri? Apa Mama sama sekali ngga pernah cerita apa yang dirasakannya? Gimana sebenernya komunikasi mereka berdua?
Melihat Bulan mengunyah nasi goreng dengan tenang. Mungkin gue sedikit beruntung, punya istri dengan ekspresi yang mudah ditebak. Atau bisa jadi dia memang ngga berusaha menyembunyikan perasaan.
"Ngga makan, Sayang?" pertanyaan Bulan ngelempar gue balik ke dunia nyata.
"Hmm." Kembali menyuap nasi goreng, tapi rasanya masih hambar.
"Kamu sakit?" Mama menatap khawatir.
"Hmm, mungkin kurang tidur dikit." Mau nyuap nasi, rasanya males banget.
Akhirnya nasi goreng terpaksa disisain dikit, ga sanggup lagi gue. Bulan mengajukan usaha terakhirnya buat nyuruh gue istirahat di rumah. "Kamu demam, Sayang. Ngga enak badan, kan?" bisiknya sebelum beranjak dari meja makan.
"Perusahaan kita bergerak di bidang jasa. Kalo semua beneran mogok, berapa kerugian kita?"
Dia mendengkus pelan.
"Aku cuma kurang tidur aja, Sayang." Gue serahin kunci mobil ke Bulan. "Ntar kamu yang nyetir, aku mau tidur."
Mulutnya membulat saat menerima kunci. Asli ngegemesin, bikin pengen nyipok. Well, just do it. Ngga ada yang protes ini.
Seperti biasa, Papa akan mencium Mama sebelum berangkat. Bukan pemandangan baru sebenernya, tapi sekarang jadi kerasa beda.
Gue ga bisa bilang kalo Papa memberikan ciuman sebagai bentuk kepura-puraan. Ga ada sedikit pun kebohongan di sana. Cuma, ngga ada binar itu, yang keliatan jelas waktu Papa menatap Bunda. Tadinya gue pikir ini karena hubungan Mama sama Papa udah naik ke level yang lebih tinggi, ketika cinta bukan lagi tentang romansa.

KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku, Bulan
RomanceWARNING 18+ Cerita ini pertama kali diterbitkan November 2019 dan tamat tahun 2020. Pada tahun 2021, Istriku, Bulan diplagiat dan saya menarik penerbitannya di wattpad. Cerita ini memang tidak diniatkan untuk dikomersilkan. Saya ingin agar maki...