6. Pacar Pengertian

4.6K 295 35
                                    

Setelah berhasil melewati belantara macet akhir pekan, akhirnya nyampe juga di pulau kapuk. Rumah sepi. Mama papa mungkin lagi nge-date, mumpung masih mampu.

Kirim chat ke Bulan, selagi inget. "Aku tahu kamu punya cowok. Apa dia juga tahu soal deal-deal kita?" Kirim beserta screenshot akun si banci kaleng dari laptop-nya U-Bay.

Centang dua. Chat-nya masih masuk, padahal sekarang harusnya udah boarding. Mungkin pesawatnya delay.

Langsung dibales pake telepon. Hahaha! Dari semalem, dia baru baca chat gue.

"Kok kamu bisa dapet e-ticket aku?"

Nahan ngakak sambil tiduran. "Kan, aku dah bilang, mau cari tahu sendiri."

"Kamu dapet dari mana?" suaranya sewot banget.

"Dari e-mail-lah."

"Maksudnya?"

Masih nahan ketawa, gue jawab santai, "Ganti semua password-mu. Bikin beda password tiap akun medsos. Password-mu terlalu gampang. Cuma nama dibikin pake rumus alay."

Tak ada jawaban. Lalu dia menggeram, "Kamu keluar batas!"

"Oya?" jelas gue ngga terima, "di mana batasan hacker?"

Diam lagi. "Akunku itu wilayah pribadiku. Kamu ngga punya hak ngotak-atik."

Huh! Siapa suruh sembunyi-sembunyi. "Berapa kali aku nanya baik-baik jam berapa kamu berangkat ke Semarang? Apa kamu jawab? Aku cuma nanya jam!"

"Itu karena aku ngga mau kamu tahu!" Suaranya mulai tinggi.

Oke, cukup sampai di sini. Kalau dilanjutkan hanya akan merusak transaksi yang sudah cukup memuaskan. "Fine! Aku minta maaf." Berantem ama cewek emang wajib minta maaf duluan. "Balik ke topik. Apa cowokmu tahu soal semua deal kita? Aku ngga mau kena getahnya karena dia cemburu ngeliat pencitraan nanti."

Suara decaknya terdengar memenuhi di kuping. Di latar belakang, announcer menginformasikan agar para penumpang  pesawat Citilink menuju Semarang bersiap untuk boarding.

"Iya, pacarku tahu semuanya. Dan dia ngga keberatan."

Wow! Sungguh pacar yang sangat pengertian. "Oke, salam buat pacarmu."

"Salam balik, katanya."

"Ha? Dia denger omongan kita?"

Bulan tertawa geli. "Aku berbagi earphone sama dia."

Watde...

"Kenalin, ini Adrian," katanya lagi.

"Hai, Mal!" sekarang kedengeran suara yang lain. Masih suara cewek, cuma jauh lebih rendah. Ternyata ngga cuma mukanya yang kaya cewek. Suaranya pun kaya cewek.

"Hai, Adrian," jadi awkward banget, ngga tahu mau ngomong apa. "Gue bakal jadi suami cewek lo setahun ke depan. Mohon kerjasamanya."

Mereka berdua ketawa. "Jangan macem-macem aja, lo. Tubuh sama hatinya punya gue."

Ya, emang. Gue kan cuma dapet statusnya doang. Tapi begitu diomongin kaya gini, kenapa jadi ga rela?

***

Besoknya Om Hendro nelepon. Ngomongin soal wedding party yang rencananya bakal digelar di salah satu hotel bintang lima ternama di Jakarta. "Kita ganti aja venue-nya jadi di kapal pesiar, gimana?"

Gue melongo. Seumur-umur ngga pernah kepikiran bakal bikin acara di kapal pesiar. Naik aja belom pernah. Cuma liat doang di iklan-iklan liburan.

"Nanti semua DP yang udah kamu bayarin, saya ganti semua."

Istriku, BulanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang