44. Detox

3.1K 259 46
                                        

Bulan panik ngelapin darah yang keluar sampe ke kaos banci kaleng. Keliatan dia ga tahu apa-apa soal P3K. Bagus, sekarang gue tahu, di mana dia berdiri.

Balik kanan, waktunya pergi dari sini. Kembali ke Jakarta, nunggu Om Hendro keluar ruang isolasi buat minta maaf, gue ga bisa memenuhi harapannya. Nasehatin orang yang mabok cinta emang ga ada gunanya. Mending diemin aja. 

Beresin headset dan kacamata ke dalam case masing-masing. Masukin laptop ke ransel.

"Kamal, kamu mau ngapain?" suara Bulan parau sambil megangin lengan gue.

Liat matanya melas, pengen banget ngomong, 'Ngga liat, gue mau pergi? Urus aja banci kaleng sana! I'm done with you!'

Tapi ga ada suara yang keluar. Gue hentakkan tangan trus lanjut  ngambil baju kotor.

Baru jalan dua langkah, Bulan langsung mendekap perut gue dari belakang. Sambil nangis dia bilang, "Jangan pergi! Jangan tinggalin aku!"

Damn! Ni anak maunya apa, dah?

Ada suara langkah menghentak dari belakang. Pas gue berbalik, banci kaleng udah narik tangan Bulan lagi.

Gue rangkul pinggang Bulan cepat. Kaki kiri nendang lengan atas banci kaleng.

Jari-jarinya refleks kebuka. Dia mundur dua langkah ke belakang, tapi dalam beberapa detik maju lagi buat nendang kepala gue.

Refleks, tangan kiri nangkep pergelangan kakinya. Dengan satu hentakan, gue banting si banci ke lantai.

Dia berhasil menyeimbangkan diri dengan salto ke belakang untuk menghindari jatuh berdebam. Gue lepas rangkulan di pinggang Bulan. Kalo terus dalam lingkar lengan kaya gini, khawatir kena tendangan nyasar.

Banci kaleng masih bisa berdiri. Darah dari hidungnya belom berenti. Dia usap aja pake punggung tangan lalu pasang kuda-kuda siap nyerang lagi.

Untung barang di ruangan ini ga banyak, masih cukup buat dipake duel. Dia melepaskan satu tinjuan, gue tangkis. Satu tinjuan lagi, tangkis lagi.

Dikombinasi dengan tendangan, gue tangkep. Plintir kakinya, dia jatuh berdebam ke lantai.

Gue tindih sambil lipat kakinya ke bokong. Ambil tangan kanannya dan kunci di punggung. Suara teriakannya menggema di dinding ruangan.

Bulan ikut teriak, melangkah mendekat mau nolongin banci kaleng. Gue kasih tatapan mengintimidasi biar dia berenti bergerak. Ini kesempatan terakhir. Kalo dia masih belain banci kaleng juga, ga ada ampun, gue tinggalin di sini. Bodo amat mau bisa tidur, kek. Mau begadang, kek. Terserah!

Langkahnya terhenti, tubuhnya terpaku. Biarin! Kalo dia ga mau gue pergi, wajib ngikutin aturan suaminya.

Dia jatuh terkulai di lantai. Tangisnya tertahan dalam tangkup dua tangan.

Gue tarik leher kaos banci kaleng. Suaranya tersekat di tenggorokan. Dengan segenap kekuatan, gue seret dia lalu dorong keluar kamar.

Langsung tutup pintu dan kunci sambil ngatur napas. Berbalik menghadap Bulan. Rasanya pengen banget marahin anak itu abis-abisan. 

Dalam situasi gini, dia wajib milih. Ngga ada seorang pun di dunia ini yang bisa mendapatkan segalanya. Harus ada yang dikorbankan untuk mencapai impian.

Kesel banget, gue duduk di sampingnya. Suara isaknya kaya pisau yang menyayat hati berkali-kali. Biarin! Biar dia tahu, ngga semua bisa dimiliki.

Dia masih aja sesenggukan ditutupin tangan. Lama-lama ngga tahan juga gue. Sialan! Buat yang satu ini, kenapa gampang banget jadi lemah.

Istriku, BulanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang