88. Langit Merah Jambu

2.8K 271 104
                                    

Jalanan ke Bogor mulai rame. Sebentar lagi jam pulang kantor, puncak kemacetan harian. Apalagi ini hari Jum'at, volume kendaraan bakal lebih padat dibanding empat hari kerja lainnya. Pekerja yang memilih pulang sepekan sekali akan memenuhi jalanan. Ditambah orang-orang yang mau liburan ke Puncak, mencari suasana baru yang sebenarnya hanya mengalihkan kesumpekan dari kantor ke tempat wisata.

Bulan ngga banyak ngomong, cuma natap lurus ke depan lalu merem, ketiduran. Yeah, kehilangan memang melelahkan.

***

Perempuan-perempuan bercadar keliatan lalu lalang begitu gue masuk area pesantren. Sepertinya ini giliran hari libur banat. Ngelirik jam digital yang tertanam di dashboard, 16.08. Sebentar lagi gerbang akan ditutup.

Tangan gue tiba-tiba basah oleh keringat. Berbagai kenangan berseliweran, bikin ngga konsen. Hampir aja nabrak tukang siomay yang ngetem di pinggir jalan. 

Fiuuuh! Apa gue harus puter balik? Sanggup ngga, nih, masuk ke dalem?

Bulan masih tidur dengan tenang. Matanya terpejam dengan kepala bersandar ke jendela. "Okay, Sayang. This is for you." Cukup sudah. Sekarang waktu yang tepat untuk berhenti. 

Berhenti melarikan diri. Sedalam apa pun mau mengubur masa lalu, ngga ada gunanya. Dia selalu bangkit lagi dan lagi. 

Parkiran mobil mulai agak ruwet menjelang akhir jam berkunjung. Mobil-mobil keluar satu persatu. Pesantren ini benar-benar telah berkembang pesat. Meski posisinya di pinggang gunung Salak, mobil yang berkunjung di sini minimal selevel Innova.  

Bulan masih tidur waktu gue narik rem tangan untuk parkir. Biarlah. Lagipula waktu ashar masih lumayan panjang. Dari dalam mobil, gue bisa liat banyak yang udah berubah. Rumah dinas petinggi pondok kini sudah ada dua gedung. Masjid juga udah dikeramik semua, lantai bawah yang tadinya jadi tempat main kena jaga, sekarang udah difungsikan juga.

Yang penting, teras lantai dua masih ada di sana. Beberapa santri keliatan duduk bersila dengan mulut komat-kamit dan tangan menggenggam Qur'an kecil. Itu gue, dulu. Bertahun-tahun yang lalu. Ketika masjid jadi tempat perlindungan dari neraka di kamar.

***

"Sayang! Udah jam lima!" suara Bulan agak panik, "ayo, sholat."

Wats! Gue ketiduran. Parkiran udah sepi. Bulan bergegas keluar. Ngga pake banyak nanya, dia langsung ke masjid.

"Hey." Gue tahan tangannya. "Numpang shalat di rumah mudir aja."

Bulan noleh dengan muka bingung. "Mudir?"

"Kepala sekolah," gue nerjemahin dalam bahasa yang mungkin lebih dia pahami. "Masjid yang ini khusus buat cowok, ntar santri-santrinya pada mimisan liat cewek cantik shalat di sini." 

Meski heran, dia nurut aja gue gandeng ke rumah mudir. Setelah ngucap salam, seorang laki-laki berjenggot keluar dari dalam. Mukanya bersih dengan rambut ikal yang tercukur rapi. Kaya kenal, "Ustadz Arifin?" Beliau dulu ngajar mata pelajaran favorit gue, biologi.  

"MaasyaaAllah! Kamal! Apa kabar antum? Katanya udah jadi orang sukses sekarang?" Ustadz Arifin nyalamin gue dengan semringah.

"He he he, bisa aja Ustadz. Dapat gosip dari mana, Ustadz?"

"Ah, gosip apa?" Ustadz Arifin nepok bahu gue mantap. "Infonya valid ini. Langsung dari Abdurrahman. Kemaren ana ketemu di walimahan anaknya Ustadz Fuad."

Hadeh, kalo Ustadz Abdurrahman yang ngomong, pasti rada lebay, dah.

"Eh, antum ngga diundang? Anaknya Ustadz Fuad itu seangkatan sama antum, kan?"

Istriku, BulanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang