Udah hampir jam sebelas, waktunya pulang, tapi pas gue balik ke depan TV, Papa ngilang. Hana keliatan cuek aja. Santai banget dia melenggang keluar. "Ayo, ke teras," ajaknya.
Jadi terpaksa ngikutin ke teras. "Papa mana?"
"Paling di kamar," jawabnya sambil mulai ngecek hape di bangku teras.
"Maksudnya di kamar?"
Hana menjawab santai, "Ngga usah sok polos, deh, Mas. Dapet bonus waktu gini, masa ga dimanfaatin?"
Astagah! Kenapa ga kepikiran? Keterlaluan sekali Papa, bikin gue ngebayangin yang iya-iya. "Hhh! Aku pulang duluan aja kalo gitu."
"Jangan! Ntar bulan depan, Papa ngga boleh nginep sini. Kasian Bunda."
Heh? "Emang pernah gitu?"
"Pernah dulu," Hana menjawab tanpa ngelepas pandangan dari hape. "Waktu itu Papa nginep lama. Ada kali dua minggu. Pokoknya itu pertama kalinya bisa nge-date sama Papa di hari Minggu."
"Nge-date?"
"Iya, nonton gitu sama Papa," dia ngomong diikuti tawa, "pengalaman nge-date terbaik."
"Kapan itu?" Gue ikut duduk di sebelahnya. Bangku teras ini hanya cukup untuk dua orang. Cocok buat mereka yang lagi pacaran.
Dia mengalihkan pandang dari layar. "Waktu kelas dua SMP kayanya."
Berarti gue kelas dua Aliyah. "Itu waktu Papa sama Mama naik haji, kan?"
Hana noleh, ekspresinya antara kaget dan ngga terima. Kemudian mengedikkan bahu dan bilang, "Mungkin."
Lalu dia sibuk dengan gawai lagi. Scrolling IG satu-satu sambil menebar hati di sana-sini. "Bunda juga udah pernah naik haji, kan?" gue nanya sehati-hati mungkin, takut nyinggung.
Hana menggeleng diikuti tawa pahit. "Gimana mau naik haji, jatah waktunya kan cuma seminggu dalam sebulan."
Gue jadi ga enak hati.
"Tapi kalo cuma jalan-jalan aja, sih, pernah. Ke Singapur, ke Hongkong, ke Thailand. Yang cukup dijelajah selama enam hari termasuk perjalanan bolak-balik."
Itu sama dengan negara-negara yang pernah kami kunjungi sekeluarga, gue dengan Mama Papa maksudnya. Harus banyak-banyak narik napas panjang. Ngga tahu, siapa yang lebih menderita sebenernya. Mama, Bunda, Papa, atau Hana. Semua seperti berusaha keras menepis perih.
Jadi ngerasa sebagai pihak paling goblok di antara semuanya. Selama ini, gue udah buta menghadapi realita. Kirain Papa punya agenda rutin dinas luar tiap bulan. Ternyata bukan dinas luar kota, tapi dinas keluarga kedua.
"Sorry."
Hana ngangkat kepala dari hadapan layar. "Kenapa?" tanyanya.
"Kamu pasti menderita."
Dia tergelak. "Dulu, sih, agak ga terima gitu, tapi sekarang udah cuek aja. Yang penting Papa ngga pernah lupa dateng, ngga lupa soal kewajibannya. Udah cukup buatku."
"Kamu ngga pengen punya waktu lebih banyak sama Papa?"
Seulas senyum pahit terukir di bibir. "Aku ngga mau berharap terlalu banyak. Segini aja udah cukup," jawaban tegasnya bikin gue ga bisa berkata-kata.
Langit berawan malam ini. Bulan tak terlihat, apalagi bintang-bintang. Jadi kepikiran yang di rumah. Kira-kira dia udah tidur, belom? Tumben ngga ada telepon-telepon.
Buka aplikasi chat. Ga ada notif apa pun dari Bulan. Jadi kirim pesan aja, "Sorry, masih nungguin Papa nyelesein urusannya."
"Maaf, ya," ujar Hana tiba-tiba.

KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku, Bulan
RomanceWARNING 18+ Cerita ini pertama kali diterbitkan November 2019 dan tamat tahun 2020. Pada tahun 2021, Istriku, Bulan diplagiat dan saya menarik penerbitannya di wattpad. Cerita ini memang tidak diniatkan untuk dikomersilkan. Saya ingin agar maki...