Bulan terpaku. Matanya menatap bingung. Abis itu dia jadiin lengan gue guling trus merem.
Udah? Gitu aja? Mana yang tadi katanya mau bikin bayi?
Ganti posisi biar Bulan bisa pake tangan gue jadi bantal. Ini posisi favoritnya. Senyumnya mengembang, trus tidur meluk gue. Beneran, langsung ketiduran.
Sebenernya agak curiga. Dia ketiduran karena lengan gue yang supernyaman, atau keder nyium bau ketek?
***
Paginya, gue seduh lemon tea hasil belanja kemaren. Cahaya merah matahari masih keliatan jelas di ufuk timur. Sebentar lagi bumi akan menghangat. Tapi hangatnya lemon tea udah duluan menjalar dari kerongkongan sampe lambung.
Sepasang tangan sehalus mentega tiba-tiba nutup mata. Jelas itu tangan Bulan, siapa lagi yang ada di apartemen ini?
"Tebak," katanya setengah bisik-bisik, "berapa ekor burung yang ada di pohon rambutan?"
Et dah. Meneketehe! "Kalo aku bener, hadiahnya apa?"
"Hmm. Apa, ya?" malah balik nanya, "maunya apa?"
Aha! Kesempatan emas ngga boleh lewat. "Ciuman dua menit."
Bulan tergelak. "Okay!"
Yeeaay! Tebakan gue harus bener. Pertama dengerin dulu, ada suara burung, ngga? Jangan-jangan Bulan cuma asal ngasih pertanyaan.
Ternyata ada suara burung. Kayanya dua, sahut-sahutan. Juga ada kepakan sayap mendekat. "Tiga!"
Bulan narik tangan dari mata gue trus mulai ngitung. "Satu, dua!" serunya penuh kemenangan.
"Tiga!" Satu burung baru aja dateng dan bertengger di dahan, tepat di atas dua burung yang tadi.
"Tapi itu baru dateng, ngga diitung," protes Bulan keras.
"Dia ada di situ waktu proses penghitungan sedang berlangsung. Jadi satu, dua, tiga!"
Bibir merah muda Bulan mencong-mencong, seolah kesel. Argumen gue sebenernya ga logis, anak kecil juga tahu.
"Aku menang!" Gue taro dua tangannya di pinggang. Hangatnya merayap sampai perut. "Sekarang mana hadiahnya?"
Mukanya masih dibikin kesel tapi ngga nolak. "Merem? Melek?"
"Terserah. Ini pertama kalinya sama cowok, kan? Senyamannya kamu aja."
Dia ngga merem, malah keliatan agak kaget. Bola matanya bergerak-gerak mencari fokus lain. Gue deketin, bibirnya tiba-tiba gemetar. Sesaat kemudian dia memejamkan mata keras sampe dua alisnya nyaris ketemu.
Pelan-pelan tangannya mulai mencengkeram pinggang gue. Makin lama makin kuat. Pipinya terasa beku di telapak tangan. Ngga satu embusan napas pun keluar dari hidungnya, bikin khawatir.
"Sayang?"
Dia buka mata, kaget.
"Kamu takut?"
Segumpal napas seketika diembuskan dari mulut. Digigitnya bibir dengan mata berembun.
Astaga! Dia bener-bener ketakutan. Gue rangkul tubuhnya yang gemetar. Ciuman dua menit itu ga perlu sekarang. Masih banyak menit-menit lain yang bisa digunakan.
Gue lupa kalo dia pernah punya pengalaman buruk soal ciuman cowok. Gosh! Kenapa bisa ngga inget?
Gimanapun, dia lebih milih tidur sama cowok yang baru dikenal aja udah bisa dibilang satu langkah besar. Harusnya bisa bersabar dikit lagi sampai semua trauma terobati dan segala ketakutan teruraikan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku, Bulan
RomanceWARNING 18+ Cerita ini pertama kali diterbitkan November 2019 dan tamat tahun 2020. Pada tahun 2021, Istriku, Bulan diplagiat dan saya menarik penerbitannya di wattpad. Cerita ini memang tidak diniatkan untuk dikomersilkan. Saya ingin agar maki...