75. Couvade Syndrome

2.7K 256 132
                                    

"Ngga balik ke Poli Umum?" tanya Bulan, pengen ngusir kayanya.

Well, ngga semudah itu, Princess. "Aku dapet nomor urut ratusan. Masih lama." Sebenernya ga peduli lagi beneran bisa periksa apa ngga di sana. Tujuan ke sini buat ketemu Bulan, buat ketemu calon anak gue.

"Nyonya Cahya," suara perawat manggil Bulan.

Gue ikut berdiri begitu dia bangkit dari duduk. "Aku bisa masuk sendiri," katanya sadis.

Oh, no way! Gue juga harus ikut. "Yang ada di dalem situ anakku. Kamu ngga punya hak misahin aku dari anakku!"

Mata Bulan mendelik, tapi dia ngga bantah. Gue bukain pintu ruang periksa, biar dia masuk duluan.

Bulan berbaring di tempat tidur sambil ditanya-tanya. "Haid terakhir kapan, Bu?"

"Ngng ...." dia ngelirik gue.

Tuh, kan. Untung gue ikut. Tinggal buka aplikasi kalender menstruasi, dan tunjukin ke dokter. Bu Dokter manggut-manggut, mencatat di kartu lalu beralih ke alat USG.

Perut Bulan masih terlihat rata. Sebentar lagi bakal jadi bulet kaya bola basket. Waktu itu terjadi, apa gue boleh pegang perutnya?

"Nah, itu dia anaknya," Bu Dokter menunjuk sesuatu seperti kecebong di layar.

"Eh?" Bu Dokter berseru ketika si cebong tiba-tiba seperti menghentak berenang ke bagian atas layar.

Gue bengong. Ada cebong berenang di perut Bulan. Kepalanya bulet gede ngga sebanding sama badannya. Dokter berusaha beberapa kali ngambil gambar tapi gagal. Si Cebong muter-muter mulu di layar.

"Ada yang lagi seneng banget kayanya," kata Dokter disambut tawa kami semua. "Diam sebentar, Dek. Kita foto kepala sama badanmu dulu, ya."

Si Cebong masih muter-muter, fotonya Dokter meleset mulu. Kami ketawa-tawa menyaksikan atraksi yang ditampilkannya. Ni anak, masih dalam kandungan aja udah jadi performer. Udah lahirnya apa mau jadi artis? Ha ha ha!

"Yes, alhamdulilah!" sorak Bu Dokter begitu berhasil ngambil gambar kepala dan badannya utuh.

"Hmm, sembilan pekan, ya, Bu. Sama dengan perhitungan kalender," kata Bu Dokter sambil menulis lagi di kartu.

"Emang kalo banyak bergerak gitu, berarti dia hepi, ya, Dok?" penasaran gue.

Bu Dokter kasih senyum manis lalu bilang, "Yah, kita kalo stress juga kan biasanya males ngapa-ngapain."

Manggut-manggut. "Emang dalam perut bisa stress juga, ya, Dok?"

Si Dokter ketawa. Kayanya pertanyaan gue goblok banget. "Yah, kalo ibu bahagia atau pun sedih atau stress, tubuh akan mengeluarkan hormon tertentu. Hormon ini akan direspon oleh si Dede-nya. Jadi jangan bikin ibunya stress, ya, Pak."

Ooooh! Pengen ngakak gue. "Berarti sekarang ibunya lagi bahagia banget kali, ya, Dok. Makanya anaknya jadi segitu aktifnya."

Semua orang di ruangan itu tertawa, kecuali Bulan yang tiba-tiba pipinya merona merah. "Jadi, apa ada anjuran buat saya, Dok?" Bulan ngalihin pembicaraan.

Gue berusaha keras nahan ketawa. Ha ha ha! Gayanya sok cool, aslinya hepi, kan, ketemu gue?

Dokter ngga ngasih anjuran spesifik selain don't worry, be happy. "Ibu hamil bukan orang sakit, kok," katanya dengan mengulas senyum.

Jadi pengen ikutan konsul, "Oya, Dok. Apa mungkin dia yang hamil, saya yang muntah-muntah?"

Bu Dokter ketawa. "Bapak masuk angin kali?"

Istriku, BulanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang