58. Aku Butuh Obat Penenang

3.1K 276 81
                                    

"Jadi gimana kabarnya sekarang? Hafalan udah nambah?"

Uhuk! Pertanyaan Ustadz bikin kerongkongan pedes keselek cabe.

"Pelan-pelan, Mal." Ustadz Abdurrahman spontan nyodorin gelas isi air.

Gue ngangguk-ngangguk. Sumpah, ni cabe sadis banget. Mo ngomong pun jadi susah.

Tiba-tiba Si Pedang Allah dateng lagi. Sekarang bawa pedang cahaya ala Star Trek. "Ayo, kita tanding lagi!" ajaknya sambil nyodorin pedang dengan tabung bening yang bisa berkelip-kelip ketika tombol dekat gagang ditekan.

"Bentar, dong," kata Ustadz, "Bang Kamal kan belom selese makannya."

Nah, bener, tuh. Padahal di piring gua tinggal kuah doang, tapi emang kuahnya enak pake banget.

"Iya, aku tunggu," ujarnya duduk bersila, bertopang dagu di depan gue.

Jiah, bikin grogi aja ni anak. Mana ngeliatinnya serius banget. Ustadz malah senyam-senyum sambil terus makan dengan santai.

"Eh, Hamzah. Bang Kamal ini hafizh, tau," Ustadz lagi-lagi ngasih kejutan. Untung sendok belom nyampe mulut, jadi ngga keselek.

Gilanya, Si Pedang Allah ini langsung berbinar matanya. "Iya, Bang?"

Kuah petis yang super gurih itu tiba-tiba langsung kehilangan rasa. Enaknya dijawab apa, nih? Ngga tega gue ngerusak harapan anak kecil.

"Coba al-Mulk, Bang," pintanya penuh semangat.

Mampus! Mana inget. Juz berapa lagi, tuh?

Piring udah licin. Gue ambil pedang cahaya dan langsung berdiri. "Ayo, mulai!" Daripada disuruh muroja'ah mending duel, dah.

Dia berdiri penuh semangat. Dengan gembira Si Pedang Allah berseru, "Tabarakalladzi biyadihil-mulku wa huwa ala kulli syai'in qadīr."

Gue Ampe bengong. Itu ayat Alqur'an, kan? Biar pun makhrijul huruf-nya masih ada yang meleset, tapi kayanya ayat yang diucapkan udah bener. Yakin ini bukan dari juz terakhir, tipe ayatnya beda. Mungkin ini di juz dua delapan atau dua sembilan. Berarti hafalannya udah nyampe sejauh itu.

Ngga nyangka gue. Padahal kayanya baru lima tahunan.

"Ugh!" Kelamaan bengong, pedang plastik telak nusuk perut. Ngga sakit, cuma nyeri dikit dan pedangnya jadi kelipet.

Si Hamzah ternganga liat pedang sendiri. Lagian, berantem boongan aja serius amat. Sedetik kemudian, air ngambang di pelupuk matanya.

Hwaduh! Salah, nih gue. Bikin pedang jadi rusak.

Abinya tertawa. "Perut Bang Kamal keras banget, ya?" katanya mengembangkan tangan, menyambut Hamzah yang menunduk sambil mengusap mata. "Wa huwa 'ala kulli syai'in qadīr," kata Ustadz lagi sembari mengusap punggung putranya. "Dan Allah berkuasa atas segala sesuatu."

Hamzah mengusap mata dengan punggung tangan. "Tapi pedangku rusak," suaranya lirih mengadu.

"Itu udah jadi ketetapan Allah, berarti itu yang terbaik," ucap Abinya lagi dengan suara tenang nan dalam.

Gue jongkok bertongkat pedang cahaya di depan mereka berdua. Kata-kata Ustadz Abdurrahman terasa membombardir dada. "Itu udah jadi ketetapan Allah, berarti itu yang terbaik."

Ketetapan Allah. Satu frase yang mengesalkan. Apakah ini semua adalah ketetapan Allah?Kalo semua udah ditetapkan, buat apa kita disuruh milih? Itu ngga adil!

Ah, terserah! Toh, gue ngga ada hubungan lagi dengannya.

"Wahai, Pendekar Pedang Allah. Terimalah pedang cahaya ini sebagai pengganti pedangmu yang patah." Gue berlutut dan menghaturkan pedang bertabung yang tadi diberikannya.

Istriku, BulanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang