Rasanya canggung banget berhadapan sama Om Hendro lagi sore ini. Terutama mengingat kata-kata Dokter Ardan semalam, "Yah, paling bagus enam bulan lagi. Bisa lebih cepat, bisa lebih lambat." Cuma bisa narik napas dan embuskan pelan-pelan mikirinnya
Ada yang masuk kamar, dengan senyum ngasih cemilan sore. Semangkuk bubur sumsum yang menerbitkan liur. Om Hendro minta supaya diletakkan saja di nakas sebelah ranjang. Selanjutnya malah lebih fokus ngajakin ngobrol, padahal buat ngeluarin suara aja masih susah payah. "Gimana? Udah siap? Dua hari lagi, kan?" tanyanya putus-putus kaya sinyal di ujung hutan.
"Siap ngga siap, Om," asal aja jawabnya. Males banget ngomongin soal nikahan. Gimana pun, ini bukan pernikahan yang sesungguhnya. Jadi buat gue, ngga ada gregetnya.
Selanjutnya berusaha ngalihin pembicaraan, "Ngga dimakan buburnya, Om?"
"Buat kamu aja," serak suara Om Hendro menjawab.
"Ini kan buat Om Hendro." Gue ambil mangkok plus sendoknya. "Om Hendro butuh banyak protein buat pemulihan pasca operasi, tapi protein ngga bisa kerja kalo ngga ada energi. Makanya dikasih bubur sumsum yang full karbo biar bisa jadi bahan bakar protein buat memperbaiki sel-sel." Sumpah, sotoy banget ngomongnya.
Si Om baru mau buka mulut buat ngejawab, tapi langsung mingkem lagi karena keburu disuapin sesendok penuh bubur sumsum. Dia mengulum bubur sambil senyum-senyum kesel gue kerjain.
"Sebenernya saya mau ngasih tahu Bulan, Om, tapi ngga boleh sama Dokter Ardan."
Sebelum Om Hendro sempet jawab, mulutnya langsung gue sumpel lagi ama bubur. Keliatan banget dia buru-buru nelen sambil geleng-geleng.
"Tapi menurut saya, bagaimana pun, Bulan wajib tahu kondisi ayahnya ...." Gue sodorin sesendok penuh bubur lagi tapi langsung ditahan sama Om Hendro.
"Jangan!" sergahnya cepat.
Gue juga balas ngga kalah cepet, "Saya paham, Om sayang banget sama Bulan sampe ngga mau dia ikut ngerasain sakit yang Om rasakan, tapi ...."
"Dia benci sama saya," tukas Om Hendro menghentikan omongan.
Terjeda sejenak, otak gue langsung ganti topik. "Ngga mungkin. Saya tahu dia pasti sayang sama Om."
Om Hendro motong lagi, "Apa yang kamu tahu?"
Ga bisa jawab. Gue tahu, Bulan nikah demi ngelepasin diri dari ayahnya. Mungkin dia ngerasa punya orangtua yang terlalu mengekang. Jiwa pemberontaknya menggeliat pengen lepas, tapi, gimanapun, ngga mungkin karena benci. Yakin, ngga ada anak yang benar-benar benci orangtuanya.
Langit Jakarta keliatan suram dari balik jendela. Matahari tepat di tengah bingkai, kaya koin tembaga membakar angkasa. "Waktu cepat berlalu," kata Om Hendro ngelempar pandang ngelewatin kaca.
"Yang saya ingat terakhir kali adalah mengantarkannya berangkat ke TK di hari pertama sekolah," pundak Om Hendro agak terguncang karena dengkus yang kedengeran kaya tawa. "Dia kesal sekali karena kami ngga mau membiarkannya berangkat sendiri," katanya lagi ditingkahi gelak sesak.
Kebayang bibir manyun Bulan bareng sama muka kesalnya.
"TK-nya itu cuma lima menit jalan kaki dari rumah, jadi dia mau pergi sendiri aja," Om Hendro terputus-putus dalam tawa.
Gue berusaha ikut ketawa. Tentunya ini adalah kenangan yang lucu meski ada nada sedih di sana.
Om Hendro noleh, nantang gue tepat di mata. "Itu yang terakhir. Setelah itu, saya ngga tahu kapan dia lulus SD. Ke mana dia masuk SMP. SMA apa yang dipilih." Ketawa lagi, miris. Si Om melarikan pandangan kembali ke jendela. Sekilas, matanya keliatan berembun. "Mungkin kalo sekarang dia udah lulus, saya ngga akan tahu di mana dia kuliah." Punggung telunjuknya mengusap ujung mata buru-buru.
Ngga tahu musti ngomong apa. Akhirnya diem aja, nyimak cerita Om Hendro.
Selesai ngusap kedua ujung mata, Om Hendro noleh lagi. "Kamu tahu apa yang paling mengkhawatirkan Nabi Ya'qub sebelum dia meninggal?"
Entahlah, gue ngga mau tahu. Angkat bahu aja sambil geleng satu kali.
Om Hendro narik napas berat. "Apa yang bakal disembah anak-anaknya setelah beliau meninggal."
Spontan, sendok di tangan gue lepas. Suara dentingnya menghantam tepian mangkuk, nyaring melengking ke antero ruangan. Jantung di dalam dada segera memacu lebih cepat. Otak merespon dengan menyiapkan berbagai kemungkinan arah pembicaraan.
"Itu juga yang jadi kekhawatiran saya." Bahu Om Hendro agak terguncang. Dua jarinya menekan pangkal mata, menyembunyikan isak yang tertahan.
Buru-buru gue taro mangkok di atas nakas. Airmata bakal meningkatkan produksi lendir di hidung. Itu akan mempersulit proses pernapasan yang memang sudah sangat sulit.
Gue pindah duduk di samping Om Hendro, berusaha menenangkannya dengan mengusap punggung berkali-kali.
Lalu setelah beberapa detik, Om Hendro keliatan lebih tenang. "Saya ngga bisa mengembalikan waktu yang udah kelewat. Tapi seenggaknya, sebelum mati, saya bisa melaksanakan tugas terakhir sebagai seorang ayah."
Dia menepuk pundak gue pelan. "Saya udah berhasil memilihkan seorang imam untuk memandu perjalanan hidup Bulan."
Refleks berdiri denger kalimat Om Hendro barusan. Sumpah, tiba-tiba jadi takut setengah mati. Jadi imam? Jelas gue sama sekali ngga qualified buat peran itu.
Di kepala mulai ngitungin dosa satu-satu. Udah lama ngga sholat. Puasa juga ngga inget lagi kapan bener-bener full, kayanya pas jaman masih kuliah. Zakat juga cuman zakat fitrah doang, itu pun gara-gara ditagihin mulu sama Mama tiap malam takbiran. Pacarin anak orang beberapa kali. Nidurin anak orang, biar pun cuma dua, dosa tetep aja dosa.
Pendosa kaya gini mana pantes jadi imam. Bukannya bawa ke surga, jangan-jangan malah bikin makmumnya belok ke neraka.
"Ng ... saya ngga yakin cukup baik untuk jadi seorang imam buat Bulan ...." Berhenti sampai di sini. Ngga tega buat ngelanjutin begitu ngeliat ekspresi Om Hendro yang tak bisa dideskripsikan antara bingung dan heran.
Untungnya Om Hendro malah ketawa. "Seorang yang rendah hati selalu merasa bahwa dirinya tidak cukup pantas."
Ikutan ketawa, tapi rasanya pahit. Rendah hati jelas bukan alasan di sini.
"Kalo nunggu sempurna, kapan nikahnya?" Om Hendro tergelak lagi.
Tawa gue makin pahit. Ngga nikah juga ngga apa-apa sebenernya.
Om Hendro bicara dengan susah payah, "Jadi tolong ...." Tatapan matanya begitu tegas meski susah payah didera kelemahan. "Jaga Bulan baik-baik."
Aaargh! Pengen teriak langsung di muka Om Hendro. Ini cuma pernikahan main-main! Kita saling memanfaatkan, that's it!
Tapi bibir ini kekunci. Lidah sama sekali ngga berani gerak.
"Om Hendro berlebihan," akhirnya berusaha mengalihkan pembicaraan, "Bulan udah dewasa. Dia bisa jaga dirinya sendiri."
Gue ambil mangkuk bubur sumsum yang masih baru dimakan dua suap. "Abisin dulu buburnya, Om."
Sesendok penuh bubur gue sodorin lagi, tapi cepat ditahan Om Hendro dengan tangan. "Janji kamu akan jaga Bulan."
Damned! Pernikahan ini cuma setahun. Sekarang gue musti bikin janji sama orang yang lagi menghadapi kematian?
"Jaga dirinya, hatinya, juga agamanya."
Astagah! Agama gue aja sekarang ngga jelas. Apa iyain aja, biar cepet? Mulai pegel, nih megangin sendok.
Mana Om Hendro keliatan serius banget lagi. "Kamal?" dia nunggu jawaban.
Hadeh! Gue tarik lagi sendok ke mangkuk bubur. "Dua hari lagi saya akan menikahi Bulan. Apa itu tidak cukup?"
Om Hendro tersenyum manggut-manggut. "Akad nikah sendiri adalah sebuah janji," katanya.
Tersentak. Otak gue dibangunkan oleh kata-kata. Tentang janji, tentang komitmen. Di antara semuanya, kata-kata yang mana yang bakal jadi pegangan?

KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku, Bulan
RomanceWARNING 18+ Cerita ini pertama kali diterbitkan November 2019 dan tamat tahun 2020. Pada tahun 2021, Istriku, Bulan diplagiat dan saya menarik penerbitannya di wattpad. Cerita ini memang tidak diniatkan untuk dikomersilkan. Saya ingin agar maki...