Gagasan-gagasan yang bercabang, menjadi mandiri tapi masih saling terkait. Begitulah pikiranku memulai perjalanannya dari satu hal ke hal lainnya. Seperti gagasan lingkungan hidup yang ternyata lupa aku selesaikan dan akhirnya teringat kembali saat aku sedang mengerjakan buku Hak Untuk Membunuh Manusia dan Menghancurkan dan Memperbudak Perempuan. Juga sewaktu aku membeli buku Kapitalisme Hijau dan banyak hal yang terkait dengannya.
Aku lupa menulis gagasan terakhir mengenai lingkungan, yang terkait dengan sabotase dan eko-terorisme.
Ada satu tulisan yang aku persiapkan dalam buku Hak Untuk Membunuh Manusia, yaitu tulisan berjudul Hak Untuk Membunuh Para Pengusaha dan Hak Untuk Membunuh Para Politisi Korup, yang ternyata bisa dijadikan sebagai perpanjangan dari gagasan lingkungan milikku dengan menggabungkan keduanya menjadi satu tulisan yang terpisah.
Sedangkan buku satunya, aku mendapatkan gagasan yang aku beri judul Berternak Manusia/Peternakan Manusia. Pikiran lama yang belum sempat aku tulis dan akan aku masukkan ke dalam buku mengenai perempuan yang sedang aku kerjakan dan menuliskannya lagi sebagai esai agak panjang yang juga terpisah.
Akhir-akhir ini pikiranku sedang sibuk karena perpindahan dari beragam topik yang cepat yang harus ditulis dan diselesaikan secara bergantian. Dari persoalan bunuh diri, feminisme, psikologi dan filsafat anti-manusia, politik warga negara, puisi dan perjalanan, dan kini kembali ke masalah lingkungan hidup.
Dalam kondisiku yang berantakan. Aku masih luar biasa sangat produktif.
Gagasan atau tulisan mengenai Hak Untuk Membunuh Para Pengusaha dan Pejabat Korup juga bisa aku masukkan sebagai solusi atau epilog dalam buku Menunggu Perang Saudara. Aku ingin menuliskan perihal ini tapi tak sempat atau lebih tepatnya tak tahu harus dimulai dari mana.
Sekarang semuanya sudah pada tempat dan juga saling terkait. Aku rasa, aku sudah memiliki gagasan-gagasan yang kelak akan jadi penting dan mengunci namaku sebagai seseorang yang mengawali.
**
Kita tak lagi hanya sekadar melakukan protes di jalanan, berkumpul membahas krisis lingkungan hidup, menulis dan meneliti berbagai macam kerusakan yang dialami makhluk hidup lain atau terlibat dalam organisasi politik berbasis lingkungan atau bahkan partai hijau. Semua itu tak lagi cukup bahkan jika harus membakar dan meledakkan pabrik atau rumah para pengusaha dan politisi yang terkait. Berbagai sabotase ke alat produksi, menutup akses menuju atau memasuki sumber bahan produksi juga masih tak menyakinkan. Mereka masih terus melakukannya lagi dan lagi. Kenapa tidak memulai cara baru yang lebih langsung, yaitu mengambil nyawa politisi, pengambil kebijakan dan para pengusaha yang terlibat? Saat kritik dan sabotase tak lagi efektif. Membunuh mereka yang menjalankan bisnis pengrusakan alam menjadi langkah yang mau tidak mau harus dilakukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKU, NIHILIS
Non-Fictionapa jadinya, jika hampir semua orang lebih memilih menghindari menyelesaikan persoalan utama kehidupan dan lebih memilih hidup tenang dan kepura-puraan yang disepakati? lalu, kapan akan ada akhir? kapan ulangan akan berhenti?
