🌜2🌛

3K 150 2
                                        

Pukul 1 siang, Syifa sampai di rumahnya. Keadaan rumah terasa sepi karena memang tidak ada orang. Kedua orang tuanya serta si bungsu sedang berada di ladang.
Syifa adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Kedua adiknya laki-laki dan masing-masing bernama Abizar Fatullah dan Adnan Ar-rosyid.
Abizar merupakan siswa sekolah menengah pertama sedangkan Adnan sendiri belum sekolah karena umurnya masih 4 tahun.

Selepas melaksanakan sholat dan makan siang, Syifa istirahat sebentar sambil menunggu adiknya pulang sekolah. Abi, sapaan akrabnya biasa pulang dengan teman-temannya dengan menaiki angkutan umum. Kedua orang tua Syifa memang belum membolehkan Abi mengendarai kendaraan sendiri walaupun sebenarnya Abi sudah bisa.

Syifa menyalakan televisi yang menampilkan FTV dengan judul yang membuatnya menghembuskan nafas. Dari mantan jadi manten.
Begitulah kira-kira judul FTV itu.

"Ada-ada aja nih judulnya. Mana ada dari mantan bisa jadi manten. Aneh-aneh aja". Komennya.

Walaupun terus memberi komentar, Syifa tetap menikmati suguhan yang ada di TV. Lama-kelamaan mata Syifa mulai sayu dan akhirnya ia tertidur.

" Teh... Bangun".

"Teteh bangun".

Perlahan Syifa membuka matanya saat mendengar seseorang memanggil namanya. Ia juga merasakan badannya di goncang-goncang.

"Kamu baru pulang? " Tanya Syifa saat melihat adiknya masih menggunakan seragam sekolah dan tas yang menempel di punggungnya.

"Iya. Geser teh. Abi capek" Syifa menurunkan kakinya agar sang adik bisa duduk di sampingnya.

"Teteh kenapa pintunya nggak di kunci. Gimana kalau ada orang lain yang masuk. Teteh loh kalau tidur kaya kebo".

Syifa rasanya ingin memarahi adiknya karena sudah berani menyamakan dirinya dengan kerbau tapi ada benarnya juga sih. Kalau sudah tidur, Syifa memang sangat sulit untuk di bangunkan.

"Hehehe lupa".
Karena tadi niatnya hanya menonton TV dan akhirnya ketiduran, Syifa lupa mengunci pintu rumah.

" Besok-besok jangan gitu lagi. Kunci aja pintunya. Abi kan juga bawa kunci rumah".

"Iya". Syifa mengangguk seperti anak kecil yang sedang di nasehati orang tuanya.

Di desa tempat tinggal Syifa sedang marak maling yang berkeliaran. Mereka tidak segan-segan melakukannya di siang hari bolong makanya para warga di anjurkan untuk berhati-hati.

" Oh iya kamu kok jam segini baru pulang, emang langsung belajar ya?".

"Belum teh. Tadi di sekolah cuma bersih-bersih doang".

" Kalau cuma bersih-bersih kenapa jam segini baru pulang? Kamu main ya? "

"Hehehe teteh tau aja".

" Main kemana? Jangan di biasain. Kalau pulang sekolah langsung pulang. Nanti kalau mau main bisa setelahnya ".

" Tadi sama teman-teman diajakin ke rumah Edi. Kita di sana latihan gitar".

Kening Syifa mengerut. "Rumah Edi? Latihan gitar? "
Abi mengangguk.

"Iya. Aku ikut ekskul musik di sekolah. Aku kan belum punya alat musik jadi aku minjem sama Edi. Di sana lengkap teh".

" Ya gimana nggak lengkap. Abah nya Edi kan punya grup organ tunggal".

"Nah ya karena itu teh, makanya kita latihan di rumahnya Edi".

" Kalau sekali dua kali nggak masalah tapi kalau keseringan ya nggak enak juga sama abah nya Edi. Kenapa nggak minta ayah beliin aja? ".

Wajah Abi berbinar saat Syifa mengatakan hal tersebut.

"Teteh yang bilang ya".

" Nggak mau. Kan kamu yang butuh"

"Teh pleaseee.... Tolongin aku bilang ke ayah". Abi mengelus lengan Syifa.
"Kalau teteh mau bantu ngomong ke ayah, apapun yang teteh suruh, aku bakal lakuin" Lanjutnya.

Syifa berfikir sebentar sebelum mengiyakan. Lumayan dengan tawaran yang di berikan Abi.

"Oke. Teteh akan bantuin kamu".

" Yeeee". Sorak Abi gembira.

🍀🍀🍀

Selepas Isya, Syifa di suruh ibunya untuk membeli sabun di warung. Syifa heran tumben-tumbenan ibunya kehabisan stok sabun. Biasanya sang ibu selalu menyetok banyak di rumahnya.

Syifa mengendarai motornya pergi ke warung terdekat. Warung ini paling lengkap di sini. Ibaratnya, warung ini adalah supermarket di desa tempat tinggal Syifa. Mau apapun ada.

Sampai di tempat yang di tuju,Syifa segera pergi ke bagian sabun. Ia mengambil beberapa sabun mandi dan sabun cuci, odol, sampo dan pewangi pakaian.

Saat barang di butuhkan sudah di dapatkan, Syifa bergegas pergi ke kasir. Ia menghela nafasnya saat melihat antrian di bagian pembayaran.

" Neng Syifa belanja? ".

" Eh bu Endah. Iya bu belanja. Ibu juga belanja? " Tanya Syifa basa-basi.

"Iya ih belanja bulanan. Mau belanja di betamart kok ya jauh. Ya udah deh akhirnya terpaksa belanja di sini". Syifa tersenyum tipis menanggapinya.

" Kamu sendirian? " Bu Endah bertanya lagi.

"Iya bu. Sendiri".

" Ibu mah sama si kasep. Tapi anaknya lagi nungguin tuh di mobil. Di suruh masuk nggak mau. Katanya takut ada yang godain". Kalau Syifa boleh bilang, maaf bu saya nggak tanya.
Berhubung Syifa Syifa anak yang baik menurut ibu dan ayahnya,kata-kata itu hanya terlintas di kepalanya saja.

"Neng Syifa belanjanya itu aja? Nggak mau ambil yang lain?".

" Iya bu. Ini aja".

"Ih beli lagi atuh. Biar ambu yang bayarin. Kamu tenang aja. Kamu sudah ambu anggap anak sendiri. Apalah kalau sampai jadi sama si kasep".
Mendadak kepala Syifa pusing mendengar penuturan istri juragan beras.
Beliau juga menyebutkan dirinya ambu pada Syifa? Oh no!.

Berhubung antrian masih panjang, Syifa dengan lapang dada mendengarkan setiap ucapan bu Endah. Topik pembicaraan nya selalu sama, membangga-banggakan anak-anaknya dan juga harta bendanya.
Giliran barang belanjaan Syifa yang di hitung. Bu Endah yang tepat berada di belakangnya tiba-tiba nyelonong dan memberikan barang belanjaan nya pada petugas kasir.

"Neng ipah, punya neng Syifa nanti bayarnya biar sama saya sekalian ya". Ucap bu Endah pada petugas kasir. Wanita itu mengangguk.

" Eh nggak usah. Saya bisa bayar sendiri bu".

"Ih si eneng mah. Nggak papa. Biar ambu sekalian yang bayar". Paksa bu Endah.
Malas berdebat lebih panjang dan takut karena antrian semakin panjang akhirnya Syifa mengiyakan ucapan bu Endah.

" Totalnya 235ribu".

"Oh iya". Syifa tidak langsung pergi walaupun kantung belanjaan nya sudah di tangan. Ia akan berterima kasih terlebih dulu karena sudah di bayarkan. Syifa dan si mbak kasir sedang menunggu bu Endah mengambil uang di tasnya yang besar.
Sudah lima menit menunggu, bu Endah sepertinya hanya mengubek-ngubek isi tasnya saja.

"Bu Endah saya bisa minta uangnya sekarang? Kasihan yang pada ngantri". Ucap si mbak kasir.

" Bentar ya". Jawab bu Endah tanpa melihat petugas kasir.

Akhirnya bu Endah minggir dulu dan meminta antrian di belakangnya maju.

Sudah lama menunggu dan antrian pun sudah sedikit, tiba-tiba bu Endah mengatakan sesuatu yang membuat Syifa naik darah.

"Saya nggak ada uang cash neng".

"Kalau begitu biar saya bayar punya saya sendiri bu".ucap Syifa.

"Ohh gitu. Ya udah deh. Maaf ya neng".
Syira menyunggingkan senyumnya penuh paksaan. Bukan karena tidak jadi di bayarkan oleh bu Endah tapi karena ia kesal sudah lama di buat menunggu.

Syifa membuka dompetnya dan saat akan mengambil uang, bu Endah kembali berulah.

" Sekalian punya ambu ya neng".

KANG MANTANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang