Haii.... 🙋
Kang Mantan hadir lagi😀
Happy Reading 🤗🤗🤗
"Bu, teteh jadi pergi ke acara tunangannya Rindu". Lapor Syifa pada ibunya.
Ia sudah mendapatkan cuti, jadi tidak boleh di sia-siakan bukan?
"Alhamdulillah. Terus kapan mau berangkat ke sana? "
"Hmmm mungkin sabtu siang bu".
"Kalau gitu nanti ibu nitip sesuatu untuk Rindu dan keluarganya".
" Iya".
"Rindu itu sepupunya Rama ya teh?" Syifa menoleh pada ayahnya yang baru bergabung di meja makan.
"Iya. Kok ayah tau. Tau darimana? ".
" Nak Rama yang bilang. Dia juga minta izin sama ayah buat ngajak kamu berangkat ke sana bareng".
Uhuk... Uhuk...
Syifa yang sedang minum, tiba-tiba tersedak mendengar ucapan ayahnya. Syifa salut dengan Rama yang gentleman dengan meminta izin langsung pada ayahnya.
"Hati-hati. Nggak usah buru-buru". Bu Titin mengelus tengkuk Syifa untuk meredakan nyeri di tenggorokan. Walaupun cuma air, tetap saja sakit kalau yang namanya tersedak. Betul??
" Iya bu".
"Ayah ngizinin? " Tanya Syifa pada ayahnya.
"Tentu. Kenapa enggak. Daripada kamu ke sana sendiri. Lebih aman kalau sama nak Rama. Dia juga anak yang baik".
" Kenapa di izinin sih yah. Aku udah biasa kok berangkat ke sana sendiri". Ungkap Syifa dengan wajah memelas.
"Ibu setuju kok dengan keputusan ayah kamu. Daripada kamu ke sana sendirian. Kalau ada temannya kan lebih aman teh".
" Ah ibu mah malah ikut-ikutan ayah".
"Memangnya kenapa kalau kalian berangkat bareng. Kalian udah saling kenal kan? Tadi nak Rama cerita kalau kalian_".
" Dia cerita apa yah? " Untuk pertama kalinya Syifa memotong ucapan ayahnya. Sungguh hal yang tidak boleh di tiru ya kawan-kawan.
Ia melakukan itu karena penasaran dengan apa yang di ucapkan Rama pada ayahnya. Jangan bilang kalau laki-laki itu menceritakan tentang hubungan mereka di masa lalu. Jantung Syifa berdetak sangat cepat.
"Katanya...dulu kalian cukup dekat. Dia senior kamu di kampus dan kalian juga satu UKM bareng. Benar kan? ".
Senyum terpancar di bibir Syifa. Ia mengangguk dan membenarkan ucapan ayahnya. Apa yang di katakan Rama tidaklah bohong. Rama memang seniornya dan mereka juga pernah satu UKM bareng.
" Kalau kalian dulu dekat, kenapa nggak pacaran aja teh? "
Uhuk... Uhuk....
Lagi-lagi Syifa tersedak. Jika tadi karena air yang di minumnya nama sekarang tersedak karena salivanya.
Oh Tuhan.... Apa yang harus ia katakan? Ia tidak mau berbohong pada ibunya dan ia juga tidak mau berterus terang mengenai hubungan yang pernah ia jalin bersama Rama di masa lalu. Lagipula kenapa harus di ungkap, toh diantara mereka juga tidak ada hubungan apapun saat ini.
"Bu, di depan ada orang nyariin ibu".
" Oh iya ibu lupa. Itu pasti baju kamu a'. Harusnya tadi sore Ibu ngambil ke tukang jahitnya. Pasti di anterin tuh sama orangnya"
"Baju a'a bu? " Wajah Abi terlihat antusias. Ia berjalan mendahului ibunya.
"Anan sama teteh dulu ya. Ibu mau ke depan". Adnan mengangguk.
" Teh adiknya ya". Syifa juga mengangguk.
"Ibu kamu tuh kebiasaan. Kalau udah ngegosip pasti lupa sama kerjaan". Ucap ayah Syifa membuat gadis itu terkekeh.
Syifa menggantikan ibunya memisahkan duri dari dagingnya. Adnan yang masih kecil tentu belum bisa melakukan hal itu. Jika di biarkan makan sendiri, akan bahaya nantinya.
🍃🍃🍃
"Ini semua mau di bawa bu? Nggak kebanyakan? " Syifa menatap dengan miris pada dua rantang, dua besek yang terbuat dari anyaman bambu serta beberapa plastik berukuran lumayan besar di hadapannya.
"Ya enggak lah teh. Kamu nggak inget kemarin malam Rindu bilang apa ".
Seketika ingatan Syifa mengingat obrolannya dengan Rindu kemarin malam. Ia menghubungi sahabatnya itu dan mengatakan akan ke sana. Tentu saja Rindu sangat senang. Ia minta berbicara dengan ibu Syifa dan tanpa malu gadis itu minta ibu Syifa memasakkan beberapa menemukan favoritnya. Menu yang biasa di santap saat Rindu datang ke rumah Syifa.
" Bu, Rindu kangen deh masakan ibu".
"Nggak usah berbelit-belit, kamu mau di masakin apa sama ibuku? ".
" Hahaha my bestie ini memang paling top. Tau aja".
"Nggak banyak ko bu. Rindu cuma kangen sama mochi buatan ibu. Terus pesmol bandeng, nasi tutug oncom, ikan bakar, asinan_".
" Kalau kamu mau itu semua, mending beli aja di restoran atau apa kek pasti ada".
"Ihhh aku kan mau buatan ibu fa. Udah lama banget aku nggak makan masakan ibu".
" Ya udah besok ibu buatin biar nanti di bawa Syifa ke sana ya".
Itulah sedikit obrolan Rindu, Syifa dan juga ibunya.
Ibu Syifa benar-benar membuatkan semua makanan yang di inginkan Rindu. Sesayang itu memang ibunya pada Rindu. Maklum lah, posisi Rindu sama seperti Syifa. Ia sudah di anggap seperti anak sendiri.
Selain makanan ada juga camilan khas daerah yang di produksi oleh warga.
Untungnya Syifa akan membawa mobil bukan motor. Kalau motor, yakinlah ia akan kerepotan dengan bawaan yang seabrek ini.
Kenapa Syifa berangkat dengan mobil sendiri? Padahal kan Rama sudah meminta izin pada ayahnya untuk pergi bersama. Alasannya karena Rama ada urusan yang harus ia selesaikan bersama pak lurah dan laki-laki itu baru bisa pergi pada minggu pagi. Syifa tidak bisa menunggu. Ibunya sudah terlanjur memasak dari sabut pagi. Kalau harus menunggu hari minggu, makanan tersebut tentu sudah tidak enak di makan.
"Hati-hati. Jangan ngebut bawa mobilnya". Pesan ibu Syifa.
" Heem. Teteh berangkat ya".
Syifa mengendari mobilnya dengan hati-hati. Ini pertama kalinya Syifa membawa mobil sampai ke Bandung. Biasanya palingan hanya muter-muter di sekitar daerahnya saja.
Ting...
Syifa mengambil HP yang ia letakkan di dasbor mobil. Rupanya Rama mengirimkan pesan.
Adek udah berangkat?
Hati-hati ya. Kalau ada yang gangguin, teriak aja. Jangan lupa bawa gunting atau sesuatu yang tajam. Biar nanti kalau ada yang macam-macam, tinggal di tusuk.
Hahaha... Tinggal di tusuk? Sate kali ah pake di tusuk😁😁
Syifa tertawa membaca pesan dari Rama. Pesan yang sama seperti saat mereka masih pacaran. Mungkin Rama pikir saat ini Syifa berangkat menggunakan travel atau bis seperti dulu. Tidak tahu saja jika Syifa naik mobil sendiri.
Sedikit cerita....dulu saat Syifa pulang kampung, Rama selalu membekali Syifa dengan gunting atau carter. Saat di tanya kenapa harus membawa dua benda itu, Rama menjawab untuk jaga-jaga. Adek kan nggak bisa bela diri. Jadi kalau ada yang macam-macam di mobil, tinggal teriak atau tusuk aja tangannya pake gunting.
Eits jangan berpikir bahwa Rama seorang kriminalitas ya. Laki-laki itu melakukan hal tersebut untuk tujuan yang baik kok. Untuk melindungi Syifa dari orang-orang yang bisa saja berbuat jahat di jalan. Syifa juga tidak mungkin menggunakan barang-barang itu dengan sembarangan.
Lagipula barang yang di bawa juga punya kegunaan lain. Gunting bisa di gunakan untuk membuka cemilan dan Carter bisa di gunakan untuk mengupas buah. Maklum setiap dalam perjalanan Syifa selalu membawa bekal. Kadang camilan ringan kadang juga buah segar.
Syifa mengetikkan balasan untuk Rama.
Udah
Tulis Syifa dengan singkat.
Perihal Rama yang bisa mendapat nomornya, laki-laki itu dengan gentleman meminta sendiri pada Syifa pagi tadi.
