"Lucu banget sih kamu... Nanti ikut Ateu pulang ya".
"Nggak mau Ateu. Aku mau di rumah aja sama bunda ku". Itu adalah suara Wulan yang menirukan suara anak kecil.
"Anak kamu makin lucu. Cantik banget. Ngegemesin". Syifa mencubit pelan pipi anak Wulan yang baru berusia 4 bulan.
Syifa kini berada di rumah Wulan. Kebetulan Wulan tidak di jemput suaminya dan Syifa berinisiatif mengantarkan sahabatnya itu pulang ke rumah.
" Iyalah. Kan nurun emaknya ". Ucap Wulan bangga. Syifa memutar bola matanya malas.
" Aku gendong ya? " Wulan mengangguk. Pelan-pelan Syifa mengangkat tubuh Meira, anak Wulan ke dalam gendongnya.
Syifa menciumi pipi Meira hingga membuat bayi itu menggeliat.
"Masya Allah cantiknya". Binar kebahagiaan terpancar dari mata Syifa saat melihat Meira.
Syifa memang menyukai anak kecil makanya ia memilih guru sekolah dasar yang notabene di kelilingi anak kecil.
" Kamu udah cocok punya anak. Kapan rencananya? ".
" Nggak usah ngada-ngada. Suami aja belum punya. Gimana mau punya anak? ".
" Ya maksud aku nyari suami dulu, nikah dulu. Kapan sih kamu mau nikah? Aku udah nggak sabar mau makan rendang". Mendapat pertanyaan seperti itu sudah menjadi hal biasa bagi Syifa. Bukan sekali dua kali ia mendapat pertanyaan yang sama dan bukan satu dua orang yang bertanya hal demikian.
"Gegara pengen makan rendang, kamu nyuruh aku nikah? ".
" Ya nggak gitu bunda cantik".
" Aku bakalan nikah kalau udah ketemu jodohnya". Jawab Syifa. Syifa menatap Meira yang tengah menatapnya juga.
"Gimana mau nemu, nyari aja kagak".
" Ngapain di cari. Nanti juga datang sendiri ". Jawab Syifa tak mau kalah.
Wulan menghembuskan nafasnya pasrah. Lagi dan lagi jawaban nya seperti ini. Wulan bukannya mau ikut campur masalah pribadi Syifa tapi sebagai sahabat, ia ingin melihat Syifa bahagia. Syifa seperti menutup pintu hatinya karena pernah gagal mempertahankan lelaki yang sangat ia cintai.
" Fa, jujur deh sama aku. Kamu masih cinta ya sama mantan kamu?"
Wulan memang sedikit tahu perjalanan cinta Syifa dengan mantan kekasihnya. Lelaki yang menjadi cinta pertama gadis itu. Mereka putus bukan karena tidak saling mencintai lagi tapi karena alasan tertentu. Mungkin itu yang membuat Syifa sulit melupakan masa lalunya.
"Enggak". Jawab Syifa setelah diam beberapa saat.
" Yakin udah enggak? Gak percaya aku. Dari jawaban kamu yang masih ragu ,kayaknya kamu belum ngelupain dia".
"Sok tau kamu mah. Ngapain juga mikirin orang yang udah bahagia dengan orang lain".
" Darimana kamu tahu? "
"Yahhh pikir aja deh. Kita putus udah lama. Masa iya dia belum ada yang lain". Jawaban Syifa menerka-nerka. Ia sendiri tidak tahu karena sejak mereka putus, Syifa memblokir segala sesuatu yang berhubungan dengan lelaki itu.
" Kenapa enggak? Kamu aja belum ada gandengan setelah putus sama dia ". sarkas Wulan.
" Ya kita kan beda".
"Apa bedanya kamu sama_".
" Eh Meira nya nangis". Syifa memindahkan Meira ke pelukan bundanya.
"Aku pulang ya". Syifa meraih tas dan menggendongnya di punggung.
" Iya. Hati-hati ".
" Ateu pulang dulu ya cantik. Nanti kita ketemu lagi". Syifa mengelus kepala Meira yang masih menangis.
"Assalamu'alaikum".
" Wa'alaikumsalam. Inget omongan aku. Kebahagiaan itu harus di cari, dia nggak akan datang sendiri kalau kamu nggak ngelakuin apa-apa ".
Sesampainya di rumah, Syifa melihat mobil pak lurah terparkir di depan rumahnya. Dari suara yang ia dengar, tamu yang datang sepertinya lebih dari satu orang. Syifa memutuskan untuk memarkirkan motornya di belakang rumah. Ia akan masuk lewat pintu belakang saja.
" Assalamu'alaikum".
"Wa'alaikumsalam. Baru pulang?". Syifa mengangguk.
" Biasanya kalau di rumah Wulan, sampek lupa pulang ".
" Hehehe itu kan dulu bu. Sekarang Wulan udah ada suami sama anak yang harus di urus. Masa iya aku main kayak dulu".
Kebiasaan Syifa dan Wulan sejak dulu adalah sering lupa waktu saat bersama. Mereka sering menghabiskan waktunya setelah pulang sekolah. Kadang di rumah Syifa, kadang juga di rumah Wulan. Mereka baru akan berpisah saat orang tua masing-masing mencari.
"Wulan udah punya tanggung jawab yang harus ia prioritaskan. Teteh kapan kayak gitu".
Jleb....
Jantung Syifa seperti berhenti berdetak saat ijinkan bertanya demikian. Secara tidak langsung, ibunya memiliki keinginan agar Syifa segera menikah. Tapi dengan siapa??
"Nanti lah bu. Belum nemu yang pas buat di jadiin prioritas".
" Iya. Ibu doain semoga jodoh teteh segera datang".
"Aamiin". Syifa tersenyum. Ia bahagia memiliki orang tua seperti ayah dan ibunya yang selalu mendukung semua keputusannya.
" Oh ya bu, yang di depan itu mobilnya pak lurah bukan? ".
" Iya. Tapi yang make mobilnya bukan pak lurah. Itu orang kota yang waktu itu pernah datang ke desa kita". Syifa memang pernah mendengar dari ayahnya bahwa desa mereka akan menjalin kerja sama dengan salah perusahaan dari kota.
"Terus? Kenapa mereka ke rumah?".
" Ayahmu kan di tunjuk sebagai ketua pelaksana kegiatan UMKM yang di sponsori sama orang kota. Mereka lagi diskusi membahas hal itu".
"Kenapa ayah yang di tunjuk ketuanya bu? Kenapa bukan pak lurah? "
"Katanya sih ayah yang lebih paham . Lagipula pak lurah kan punya banyak pekerjaan di balai desa. Nggak mungkin kan beliau mengesampingkan pekerjaan utamanya dan mementingkan pekerjaan yang ini. Walaupun keduanya sama-sama penting tapi tugas sebagai kepala desa adalah amanat dari para warga, jadi itu yang harus di utamakan".
" Iya juga ya. Kapan mulai pengerjaannya bu? ".
"Ibu kurang tau. Mungkin secepatnya". Syifa manggut-manggut pertanda ia sudah paham.
" Aku ke kamar dulu ya bu. Mau ganti baju". Ibu Syifa mengangguk.
Syifa melihat kedua adiknya sedang tidur siang dengan TV yang masih menyala. Ia mematikan TV karena tidak ada yang menonton.
Samar-samar Syifa mendengar suara yang tidak asing baginya. Ia seperti pernah mendengar suara itu. Suara yang familiar.
Diliputi rasa penasaran yang tinggi, Syifa memutuskan mengintip dari balik hordeng. Syifa menyibak sedikit hordeng berwarna biru tua itu. Ia melihat 4 orang laki-laki termasuk ayahnya. Dua orang memakai kemeja rapi dan satu lagi memakai seragam khas pegawai kelurahan.
Syifa berusaha melihat dua wajah asing, pemilik suara yang dikenalinya.
"Susah banget sih. Gini nih kalau umur banyak tapi badan kayak bocil". Gerutu Syifa.
Syifa kesusahan melihat wajah pemilik suara yang familiar baginya. Wajah orang itu sedang menunduk sambil menjelaskan sesuatu pada ayahnya.
Syifa tidak mau menyerah. Ia masih berusaha melihat orang yang membuatnya penasaran.
" Teteh ngapain? "
"Astaghfirullah". Syifa berjengit kaget saat Abi tiba-tiba berdiri dan berbicara di belakangnya. Kain hordeng yang tadi ia singkap, langsung di tutup kembali.
" Nggak pa-pa. Kamu tidur lagi sana. Temenin Adnan ".
Abi mengangguk. Ia kembali berbaring di samping Adnan. Rasa penasaran Syifa seketika menguap. Ia sudah tidak ingin melihat wajah itu. Mungkin hanya kebetulan, suaranya sama dengan orang yang ia kenal di masa lalu.
