Hai guy's.... 🙋
Selamat pagi semuanya 🙂
Akhirnya Kang Mantan hadir lagi 🙂
Oh ya, sebelumnya mau ngucapin selamat idul Adha buat semuanya 🙂🙂
Yang belum bisa kurban tahu ini, seperti aku🙂 semoga tahun depan bisa berkorban.
Bukan korban perasaan loh ya😁😁
Aamiin kan semua ya guy's 🤲
Langsung aja yuk
Happy Reading 🤗🤗🤗
Dering telepon genggam membangunkan Syifa yang tengah tertidur lelap. Tanpa melihat, ia sudah tahu telepon milik siapayang sedang berdering itu.Syifa menggoyangkan lengan Rama, agar suaminya itu bangun.
"Kang bangun! Itu HP nya bunyi"
"Hemm," Rama hanya menanggapinya dengan lenguhan. Ia malah menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Kang,bangun dulu.Itu HP-nya bunyi terus.Angkat! Siapa tahu penting." Rama mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut
Masih menahan kantuk,ia mencoba membuka matanya dengan mengerjap beberapa kali.Tangannya diusapkan ke wajah dengan harapan kantuknya menghilang. Ia kemudian mengambil telepon genggamnya yang diletakkan di samping tempat tidur.
"Dika, sayang." Rama memberitahu istrinya tanpa diminta.
"Ya udah angkat aja.Siapa tahu penting.Ini kali pertama loh ada orang yang menelpon selama kita di sini." Syifa tidak berbohong.Sebulan mereka mengelilingi negara-negara yang ada di benua Eropa ini, sekalipun tidak ada telepon dari keluarga ataupun orang-orang terdekat mereka. Jadi jika Dika sampai menelpon, Syifa menyimpulkan hal yang akan disampaikan sahabat suaminya itu adalah hal yang penting.
Rama mengubah posisinya dari terlentang menjadi duduk dan bersandar pada tumpukan bantal.
"Akang angkat ya," Syifa mengangguk. Ia memperhatikan Rama sambil tiduran.
"Ada apa Dik?"Tanya Rama tanpa basa-basi. Syifa yang mendengar suaminya mulai berbicara dengan si penelepon,mencubit perut sang suami hingga kesakitan.
"Kenapa di cubit?"
"Ucapin salam dulu kan bisa."
"Iya-iya maaf," Rama kembali berbicara dengan Dika melalui panggilan telepon. "Assalamualaikum Dik. Ada apa nelpon gue pagi-pagi begini?"
"Ohh di sana masih pagi ya?"
"Nggak usah pura-pura nggak tau. Ada masalah penting apa, sampai elo berani-beraninya nelpon gue? " Jawab Rama dengan kesal. Dika tidak mungkin tidak tahu kalau di tempat ia berada sekarang masih pagi.
"Sorry deh kalau gue ganggu.Gue cuma_"
"Nggak usah bertele-tele.ngomong cepetan!"
"Kayaknya elo udah nggak sabar banget. " Rama diam. Ia menantikan ucapan Dika selanjutnya.
"Besok, elo sama Syifa beneran pulang? "
"Heem " Jawab Rama singkat.
"Take off jam berapa? "
"Gue udah bilang, nggak usah bertele-tele!Elo mau apa? Atau gue matiin!" Kesabaran Rama habis karena Dika terus-menerus mengulur waktu dan tidak langsung to the point.
"Jangan!! Oke gue bakal ngomong sesuai permintaan elo." Rama jadi heran. Sepertinya ada yang salah.Kenapa jadi begini?Rama seperti sangat membutuhkan informasi yang kan disampaikan Dika kepadanya.
"Hmm gue minta parfum dong. Parfum yang kayak dulu elo pernah beliin. " Rama ingat. Ia pernah menghadiahi Dika parfum saat sahabatnya itu berulang tahun.
Rama menghembuskan napas kasar. Jadi ini alasan Dika meneleponnya pagi-pagi begini?
"Bisa kan?Katanya, elo beli parfum itu di Belanda.Jadi, mumpung elo ada di sana dan sebentar lagi gue ulang tahun,gue akan menganggap itu kado dari elo." Rama menggelengkan kepalanya.Tingkah absurd Dika memang tidak ada duanya.
