Sesaat setelah Rama pulang, Wulan datang bersama anaknya. Syifa menyambut kedatangan Wulan dan Meira. Syifa menundukkan kepalanya agar sejajar dengan Meira.
"Cantiknya ponakan ateu. Udah mandi ya? Ibu kamu pasti yang belum mandi". Syifa menoel pipi tembam Meira.
" Sembarangan kalau ngomong! ".
Wulan melotot tidak terima. Enak saja ia di bilang belum mandi. Penampilannya sudah cantik begini, masa di bilang belum mandi.
" Yang ada kamu tuh yang belum mandi".
Syifa tidak membantah. Memang benar apa yang di ucapkan Wulan. Ia memang belum mandi. Baju yang di pakainya pun masih baju yang ia gunakan untuk mengajar.
"Eh masuk yuk" Syifa mengajak Wulan masuk dan mengajaknya duduk di kursi yang ada di teras.
"Jadi apa yang mau kamu omongin?". Ucap Syifa basa-basi.
" Ini masalah penyebar gosip itu".
Syifa menghela nafas pelan. Benar kan dugaan nya. Pasti Wulan ingin membicarakan mengenai hal ini.
"Aku udah tau".
" Siapa yang ngasih tau? "
"Mereka baru aja ke sini".
Mata Wulan membulat. "Demi apa?"
Syifa mengangguk. "Iya".
Wulan menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Syifa.
" Mereka ngaku? "
"Bukan ngaku. Lebih tepatnya di suruh ngaku".
" Please kalau cerita jangan setengah-setengah ".
Kening Syifa mengernyit. " Kenapa jadi aku yang cerita. Yang mau cerita kamu loh tadinya ".
" Tadinya emang iya. Tapi sekarang aku yang kudet. Jadi cepetan cerita".
Syifa berdecih. Kenapa malah ia yang di suruh cerita.
"Kamu pasti udah tau lah gimana dan siapa aja orangnya. Waktu aku pulang, di rumah udah rame. Pikir aku ada apa. Terus aku masuk dan lihat ada mereka semua. Tiba-tiba aku di tanyai hukuman apa yang cocok di kasih ke mereka. Aku bingung dan minta penjelasan. Aku cuma di kasih tau kalau mereka yang udah nyebarin gosip itu. Aku kesel dan marah ke mereka. Aku ngelempar tas ke arah mereka. Aku_"
"Bentar". Wulan memotong ucapan Syifa. Syifa menatap Wulan dengan tatapan bertanya. Kenapa?
"Waktu kamu lempar, tas itu ada isinya enggak? "
"Banyak. Aku bawa buku paket_".
" Alhamdulillah".
Syifa menggeleng. Ia merasa aneh dengan tanggapan sahabatnya. Bukannya iba malah terlihat lega.
"Lanjut". Perintah Wulan agar Syifa melanjutkan ceritanya.
"Aku nangis kayak orang kesetanan, kata ibu"
Mungkin Syifa tidak sadar jika ia menangis hebat setelah mendengar pernyataan dari pak lurah. Wajar kan kalau reaksinya demikian. Ia yang selalu netral dan tidak pernah mengusik orang lain, tiba-tiba mendapat serangan berupa gosip yang mengatakan hal yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Aku paham sih fa. Mungkin kalau itu menimpa aku, aku bukan kayak orang kesetanan lagi. Lebih kali ya".
"Hmmm..... Coba aja kamu bayangin, seminggu lebih aku takut keluar rumah karena omongan pedas mereka. Aku dan keluargaku jadi di asingkan sama tetangga sekitar. Adikku yang nggak tau apa-apa kena imbasnya. Abi bahkan sampai nggak mau main karena kalau dia keluar rumah pasti temen-temennya tanya tentang kebenaran berita itu. Giliran di kasih penjelasan,mereka tetap nggak percaya tapi giliran diem mereka nganggap nya ini benar. Aku nggak habis pikir. Bisa-bisanya gitu mereka nyebarin hal nggak bener. Mereka memang nggak melakukan kekerasan secara fisik tapi apa yang mereka lakukan benar-benar merusak mental kami".
