Alger sedang menatap Ren dan Monza dari atas pohon. Ia adalah seorang ksatria iblis yang harus selalu peka terhadap sekitarnya. Sebelum tiba di kota selanjutnya, Kaia ingin beristirahat. Ren mendirikan tenda untuknya meski Monza tidak setuju. Mereka hanya istirahat sebentar, kenapa perlu repot-repot membangun tenda?
Ren sadar akan wajah Kaia yang sedikit pucat dari biasanya sehingga apapun yang dikatakan Monza hanya ia anggap angin lalu.
Lama Al menatap kakaknya bersama dengan seorang wanita, matanya mulai panas dengan perasaan yang gerah. Sedetik saja tangannya hampir mengambil pedangnya dan menebas tangan yang terus bergelayut di lengan kakaknya itu sampai tiba-tiba Ren berdiri. Monza menunjukkan wajah kaget dan menatap Ren tidak percaya.
"Di sini berbahaya, pergi dan beristirahat sebelum kita melanjutkan perjalanan." Ren segera meninggalkan Monza.
Monza boleh tidak sadar akan kehadiran Al, namun tidak dengan Ren. Al adalah potongan kecil jiwanya yang paling dekat dengan dirinya. Bahkan sampai di ujung dunia sekali pun, Ren masih bisa merasakan kehadiran Al.
Langkah kakinya membawanya kembali ke tendanya, Ren menatap pintu tenda yang sedikit terbuka. Hanya tenda ini satu-satunya yang ia dirikan, bahkan Jurado yang paling manja tidak mendirikan tenda. "Kau baik-baik saja?" tanya Ren ragu.
Kaia tidak beristirahat. Ia sedang duduk di dalam tenda dengan menatap cermin yang kira-kira berdiameter 30 cm. "Rambutku tidak lagi bergelombang, bisakah kau membantuku untuk membuatnya kembali bergelombang?" tanya Kaia tidak berbalik sama sekali.
Ren yang dimintai tolong segera masuk ke dalam tenda dan menutup pintu tenda. Tendanya adalah tenda yang paling luas dan nyaman, beberapa hal diletakkan di dalamnya agar ia bisa memastikan bahwa Kaia tidak kekurangan suatu hal pun.
Setibanya di belakang Kaia, Ren segera duduk di belakangnya. Tangannya mengambil sisir secara sadar dan mulai menyisir rambut Kaia. Sebelum Ren selesai menyisir, tangannya segera ditepuk ringan oleh Kaia. "Kau hanya akan membuatnya lurus kembali jika kau menyisirnya seperti itu," protesnya segera.
"Kenapa?"
Kaia sedikit menurunkan bulu matanya, namun tidak mengatakan apa-apa.
"Kaia," panggil Ren selembut mungkin.
Yang dipanggil kemudian memejamkan matanya sebelum berujar, "tidakkah kau menyukai seseorang yang memiliki rambut bergelombang?
Sementara yang ditanya hanya menyipitkan matanya tidak mengerti.
Ren kemudian melihat Kaia yang awalnya sedikit menunduk kini telah mengangkat kepalanya dan menatapnya melalui cermin. "Tidakkah kau menyukai seseorang yang senang dengan makanan pedas?"
Akhirnya Ren mengerti. "Maksudmu . . ."
"Aku sedang mencoba untuk menjadi seseorang yang kau sukai itu Ren, jadi kembalikan rambutku ke bentuk bergelombangnya. Tidakkah aku terlihat indah dengan model rambut seperti itu?"
" . . . "
"Suatu hari, aku pasti bisa makan pedas dengan mudah."
Ren yang paling tahu kemungkinan terakhir dari apa yang Kaia katakan. Sampai pria indah itu kehilangan nyawanya terakhir kali, dia tidak pernah tahan dengan makanan pedas. Kaia tidak bisa makan pedas sama sekali. "Rambut lurus juga indah," ujar Ren pasrah.
Dengan rambut lurus setengah dan bergelombang setengah, Kaia kemudian berbalik untuk menatap Ren di matanya. "Kenapa? Aku bisa jadi Monza jika itu yang kamu mau. Selama itu bisa menjadi aku, aku akan melakukan segalanya, Ren. Jadi . . . pilih aku."
"Pada akhirnya . . . aku pasti akan memilihmu." Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika ia mengatakan kalimatnya.
Dan hal itu bisa ditangkap Kaia dengan mudah. "Apa aku . . . tidak bisa menjadi orang itu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Kingless
AdventureBerparas menawan, tinggi semampai, hingga berbudi luhur. Apalagi yang bisa diharapkan oleh Ren dari sosok Kaia? Bahkan Kaia masih terus mengejarnya dan melindunginya sampai saat terakhirnya. Karma mungkin sedang tertawa padanya, menamparnya dengan f...
