79. Vivi, the Silly

1.1K 169 37
                                        

Melupakan gugurnya 40an orang dari kelompok mereka, Hazel dan yang lainnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Hal ini dikarenakan mereka yang merasa sudah setengah jalan, sangat disayangkan jika mereka harus berhenti di sini sekarang. Toh, ketiga bersaudara Gregory itu tidak peduli dengan kubu mereka yang gugur. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana mereka bisa merebut Istana Ruthven dari Keluarga Ruthven.

Setelah lepas dari lantai tiga, tibalah gerombolan Gregory di lantai 4. Lantai yang diawasi oleh Slora itu adalah Envy Floor, sebuah area berupa hutan belantara. Melihat kondisi sekitar, kelompok Gregory semakin dibuat takjub. Dimulai dari padang pasir, lalu gunung, terus laut, dan sekarang adalah hutan?! 'Semua lantai membutuhkan banyak sekali kekuatan magis, paling tidak masing-masing penjaga lantai berada di level 80-an ke atas,' pikir Hazel.

Di detik ini, tidak hanya Hazel yang merasa sedikit khawatir. Beberapa dari kelompoknya yang memang berotak juga merasakan ketimpangan dari jumlah kekuatan yang dimiliki. Rasa penyesalan sedikit demi sedikit mulai timbul di benak masing-masing. Semakin mereka naik, semakin mereka merasa jika keputusan untuk mengkhianati Negara Ruthven adalah sebuah kesalahan besar. Mereka yang telah terbujuk akan rayuan Kelompok Gregory akan merasakan perasaan yang bahkan lebih mengerikan dari sebuah penyesalan. Mereka akan merasakan teror sebentar lagi.

Sebuah teror besar yang tidak akan pernah mereka lupakan.

Selamatnya Kelompok Gregory sampai ke lantai 4 hanyalah karena mereka menyekap si pangeran kecil. Tanpa Kiki, jangankan sampai ke lantai 4, lantai 1 pun tidak akan bisa mereka tembus.

"Kau yakin masih ingin melanjutkan ini?" tanya seseorang dari kerumunan yang Hazel sendiri juga tidak ingat siapa namanya.

Pertanyaan itu sontak membuat Brown naik pitam. Ia merasa jika orang itu meragukan kekuatan yang dimiliki oleh Keluarga Gregory. Karena amarah yang merasa direndahkan, Brown segera memenggal kepala orang itu di depan semua orang. Atas kelakuannya, Hazel hanya meliriknya jenuh, sementara orang-orang di belakangnya menatap Brown dengan perasaan kaget dan takut. Bisa-bisanya dia membunuh anggota kelompok mereka dengan begitu mudahnya. Belum lagi, apa yang dilakukan oleh anggota kelompok bukanlah sesuatu yang patut dibayar dengan nyawa. Dia hanya bertanya biasa! Tanpa ada nada merendahkan atau pun meragukan. Orang yang baru saja meninggalkan hanya bertanya atas dasar rasionalitas!

Di sisi lain, kelompok Istana Ruthven hanya menatap segerombolan pengkhianat itu dengan perasaan puas. Kesehatan mental orang-orang itu sudah mulai goyah dan ketakutan. Di saat inilah pasti mereka tidak akan fokus lagi dan mulai berpikiran yang aneh-aneh. Hal inilah yang paling ditunggu oleh Kelompok Istana Ruthven.

"Kak Ren, apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Semakin lama mereka semakin dekat dengan kita." Oz yang merasakan kepedihan dari para goblin yang ada di lantainya juga mulai merasa panas.

"Seduhkan teh melati untuk Oz," perintah Kaia. Spirit yang mendampingi Oz kemudian undur diri dan membuatkan secangkir teh melati untuk tuannya. "Tenang, Oz. Situasi saat ini masih di bawah kendali kita."

Ren yang mendengar penjelasan Kaia lalu menambahkan, "kekhawatiranmu dengan bawahanmu, aku sangat menghargai itu, Oz. Namun saat ini yang bisa kita lakukan adalah percaya pada Kiki. Sembari menunggu kondisi mental mereka yang terganggu, kita bisa menyusun rencana perihal bagaimana cara merebut Kiki dari mereka."

"Maafkan aku. Aku benar-benar terlalu khawatir." Oz menundukkan kepalanya.

"Kami semua juga seperti itu, Oz. Tapi tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu dan mengawasi." Al mengepalkan tangannya erat sedari tadi karena melihat bagaimana orang-orang itu memperlakukan Kiki. Salah satu keponakan kecil yang sangat mereka jaga dari seluruh penjaga lantai.

KinglessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang