72. This or That Heart

1.4K 216 17
                                        

"Oi, Al! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Oz sinis.

Duduk di sudut terujung tembok istana, Al sedang menatap langit kosong yang luas. "Memikirkanmu," jawabnya singkat.

Ekspresi kaget muncul di wajah Oz. "Jangan membuatku merinding!" Ia lalu menampar bahu Al tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Meski Al sama sekali tidak bergerak karena tamparan yang dilakukan oleh Oz, ia justru semakin tersadar akan fakta yang dibencinya. "Memikirkan bagaimana cara menyingkirkanmu dari sekitarku."

Suara bahak Oz lalu terdengar menggelegar. "Itu baru Al namanya. Tidak sadis, tidak Al." Oz lalu duduk di samping Al sembari mengeluarkan sebuah rokok lokal. Rokoknya seperti permen, memiliki rasa dan aroma vanilla. "Saudara-saudara Kakak Agung kita luar biasa ya. Sayangnya dia tidak punya saudara perempuan."

"Nyonya Ruthven tahu jika Kak Ren punya seorang penjahat kelamin sebagai adiknya yang keenam sehingga dia tidak pernah memprogramkan ingin punya anak perempuan."

"Kau . . . bisa tidak kau tidak berkata kejam sekali saja?"

"Padamu? Jangan harap!"

Mengabaikan kata-kata mutiara milik Al, Oz terus melanjutkan, "Ran luar biasa mempesona. Tidakkah kau melihat bagaimana cara dia tersenyum? Sungguh memikat hati. Apakah ini waktunya aku memulai debutku menjadi seorang biseksual?"

"Jangan mengada-ada atau Kak Ren akan mengebirimu dalam sekejap."

Oz mengehela napas santai. "Jika aku tidak bisa mendapatkan Ran, maka aku akan mengincar Rin."

Mata Al segera melirik Oz dari sudut matanya.

"Dia sempat melintas di hadapanku dan coba kau tebak, Al? Dia sangat wangi!"

Dari tempatnya, Al secara kilat berdiri dan melompat turun dari lantai 10 istana. Oz yang melihat itu semakin naik pitam. Baginya, Al benar-benar bersifat aneh. Kan tidak sopan untuk meninggalkannya yang sedang curhat mengenai orientasi seksualnya sendirian? Jika sedang merasa depresi seperti ini, Oz harus mencari obat atau dirinya akan gila. "Obat terbaik adalah bermain-main di Rumah Bordil. Jangan sampai the little monsters melihatku." Oz pergi dengan kecepatan kilat. The little monsters adalah Didi and the gang, bagi Oz, ketujuh dari mereka adalah monster dari para monster.

Al sedikit cemburu pada Oz. Pria itu diciptakan dengan nafsu seksual yang ada di puncak sehingga kemampuannya dalam meromantisasi segala keadaan adalah tingkat dewa.

"Hei, Al." Itu Ajax.

Al menaikkan alis kirinya untuk menjawab sapaan Ajax padanya.

"Kau lihat di mana Kak Ren sekarang?" tanya Ajax. "Aku berusaha menghubunginya melalui mindlink tapi satu pun panggilanku sama sekali tidak membuahkan hasil."

"Mungkin dia sedang bersama Kakak Ipar. Kau juga tahu jika di saat-saat seperti ini kemungkinan besar mereka sedang melakukan sesuatu yang tidak senonoh sangat tinggi."

Penjelasan Al membuat Ajax tersadar seketika. Al dan Ajax memang terlihat bagai pinang dibelah dua. Mereka kembar, tapi dengan warna kulit yang berbeda. "Sayang sekali. Aku ingin memberikan pena ini padanya." Ajax mengangkat sebuah pena yang sebenarnya tampak biasa saja.

Beberapa detik setelahnya barulah Al tersadar akan sebuah nama yang terukir di badan pena itu. Tangannya dengan cepat mengambil benda yang sengaja diputar Ajax ke kanan dan ke kiri itu santai. "Aku akan membantumu memberikannya pada Kak Ren."

Ditinggalkan terbengong, Ajax hanya mengendikkan bahu dan beranjak dari tempatnya saat ini ketika Al pergi dengan kecepatan kilat dan meninggalkannya begitu saja. Syukurlah Al bisa menjadi begitu baik dengan mengambil barang yang ditemukannya untuk dikembalikan ke si pemilik.

KinglessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang