"Tidak tahu malu!"
"Ayah," tegur Monza kaget. Ia bahkan tidak sengaja membentak ayahnya yang berteriak keras. Terbiasa dimanjakan oleh Ren di awal membuat Monza lupa diri. Membentak orangtua sendiri adalah hal yang sangat tabu untuk dilakukan oleh seorang anak.
"Kau." Ayah Monza semakin murka. "Kurung dia bersama ibunya di kamarnya!"
Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun bawahan yang bisa merespons perintah sang pemimpin. Sampai akhirnya, "cepat! Jangan biarkan mereka keluar sampai tamu kita meninggalkan Desa," perintah Morgan.
Setelahnya, barulah bawahan ayah Monza membawa Monza bersama ibunya ke dalam kamar dan mengunci kamar itu dengan sebuah segel.
Ayah Monza hanya bisa menghela napas pasrah. "Aku sepertinya terlalu memanjakannya. Bagaimana bisa dia berniat merusak hubungan suami istri dari penolongnya? Tugas kita memang menggoda makhluk lain untuk memperpanjang masa kehidupan kita, tapi bukan mereka yang bahkan sudah menolong kita!"
"Ayah, tenanglah. Setelah ini, aku akan turun untuk mendidik adikku menjadi pribadi yang lebih baik. Mari kita jamu tamu kita terlebih dahulu."
Sebuah anggukan pasrah diberikan ayah Monza untuk menjawab putranya.
"Tuan, terima kasih telah menyelamatkan putriku. Aku tidak tahu apa yang bisa kuberikan sebagai balasan atas apa yang kau lakukan padanya." Ayah Monza segera menyapa Ren yang terlihat sibuk membersihkan rambut Kaia dari beberapa helai daun.
"Maafkan atas perilaku adikku, dia pasti telah memberikan banyak masalah padamu dan pasanganmu," sesal Morgan.
'Jadi seperti sifat ayah dan kakak Monza? Benar-benar sama seperti yang Monza pernah ceritakan dulu padanya. Monza dulu bercerita jika ibunya adalah sosok yang paling memanjakannya, namun ayah dan kakaknya adalah sosok yang mendidiknya,' Ren berujar dalam hati.
"Tidak masalah," jawab Ren singkat.
"Jika saya boleh tahu, dengan Tuan siapa saya berbicara?" tanya Morgan dengan sopan.
"Aku Ren dan ini istriku, Kaia." Ren menarik Kaia ke dalam pelukannya dari samping. Morgan itu sangat tampan, jadi rasa waswas di hati Ren tetap ada. Ia bukannya tidak percaya pada Kaia, ia justru tidak percaya pada Morgan! Kecantikan seperti Kaia, di mana lagi bisa didapatkan?
"Sekali lagi, terima kasih, Tuan Ren dan Tuan Kaia." Ayah Monza tersenyum maklum pada perilaku Ren. Jika dirinya adalah Ren, mungkin ia akan melakukan hal yang sama. Ia merutuki tingkah laku anak gadisnya yang berniat mengambil suami dari seseorang yang seindah Kaia! Percaya diri itu perlu, tapi tahu diri juga tidak kalah pentingnya.
Morgan tertawa kecil. Hatinya memang sempat terpantik oleh keindahan Kaia, namun ia tidak menyamakan dirinya dengan Monza. Ia adalah seseorang yang tidak akan pernah tertarik untuk membalas kebaikan dengan keburukan. "Adakah yang bisa kami lakukan untuk membalas kebaikanmu?" tanya Morgan langsung pada poinnya.
"Ada," jawab Ren cepat. "Kami lelah dalam perjalanan setelah mengantar Monza. Jika bisa, kami ingin meminjam satu kamar untuk beristirahat sebelum kami kembali besok."
"Jika itu tidak merepotkanmu," tambah Kaia dengan senyuman.
Sebuah cahaya tak kasat mata bisa dirasakan oleh pasangan ayah dan putra setelah melihat senyuman Kaia. 'Sungguh makhluk agung,' keluh mereka dalam hati.
"Tidak masalah, kami bisa memberikan hal itu." Ayah Monza segera menuntun Ren dan Kaia ke sebuah kamar yang sepertinya memang diperuntukkan untuk tamu yang datang ke Desa Succubi.
"Bersihkan kamar," perintah Morgan pada pelayan yang segera datang mendekat ke arah mereka. "Sembari menunggu kamar dibersihkan, kami telah menyiapkan beberapa hidangan kecil untuk dinikmati. Mari."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kingless
AventureBerparas menawan, tinggi semampai, hingga berbudi luhur. Apalagi yang bisa diharapkan oleh Ren dari sosok Kaia? Bahkan Kaia masih terus mengejarnya dan melindunginya sampai saat terakhirnya. Karma mungkin sedang tertawa padanya, menamparnya dengan f...
