Pernahkah kamu membayangkan ketika tujuh orang balita menangis bersamaan?
Pernahkah kamu merasakan bagaimana rasanya dimusuhi oleh anak-anakmu?
Pernahkah kamu menyaksikan terasingnya seorang ayah atas sesuatu yang tidak ia lakukan?
Itulah yang dirasakan Ren saat ini.
Ketujuh anaknya tiba-tiba menjadi sangat membencinya. Semuanya menangis bersamaan dan menuntut agar dirinya tidak berada dekat-dekat dengan ibunya. Bahkan Zizi yang masih bayi sekali pun tidak menyimpankan wajah untuknya dan ikut-ikutan menangis dengan keras. Hal ini sukses mengundang ketujuh bersaudara-minus Cass- untuk datang dan berkerumun mengelilingi anak-anak yang menangis dengan keras.
"Ada apa?" tanya Esther khawatir.
Al yang tumpul juga bingung ingin melakukan apa. Belum lagi tingkahnya sama dengan Ajax, Oz, dan Jurado. Esther dan Slora cepat-cepat mengangkat anak-anak perempuan untuk ditenangkan. Gigi dan Lili menangis di dalam pelukan mereka. Hal ini juga membuat sisanya segera menarik anak laki-laki terdekat yang ada di sekitar mereka. Al segera memeluk Didi, Ajax memeluk Kiki, Oz memeluk Vivi, dan Jurado memelum Riri. Jeritan anak-anak itu hanya membuat sakit kepala.
Ren-si tersangka- hanya bisa berdiri diam tanpa seorang pun berdiri di sisinya. Karena Kaia juga sedang berusaha menenangkan Zizi yang ada di pelukannya.
Hanya setelah sejam penuh, akhirnya anak-anak berhenti menangis dengan masih sesenggukan. Mata mereka sangat merah dengan hidung yang juga merah. Oh! Tidak lupa juga bengkak, mata mereka semuanya bengkak. Pipi mereka yang penuh juga memerah sebagai konsekuensi karena mereka menangis dengan sangat lama.
"A-apakah sudah waktunya?" tanya Didi terbata-bata.
"Ku-kurasa seperti itu." Kiki menjawab dengan masih mengeluarkan beberapa tetes air mata. Hebat baginya yang masih bisa mengeluarkan air mata setelah menangis seperti itu.
"Tapi hatiku sangat sakit." Gigi mengeluarkan opininya.
"Haruskah kita memilih sekarang?" Riri menunjukkan sorot mata yang kosong.
"Tapi aku tidak ingin berpisah." Vivi segera menolak.
"Aku juga." Lili berteriak tidak terima.
"Ow!" Seolah setuju dengan pendapat kakak-kakaknya, Zizi juga menyuarakan suara protesnya.
Kaia menghela napas pasrah.
"Kakak, Kakak Ipar, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Ajax tidak mengerti.
Mata Kaia segera bergulir ke Ren yang hanya bisa diam mematung, benar-benar menunjukkan jika dia adalah seorang penjahat di dalam cerita ini.
Sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Ren lalu mengendikkan bahu dan mulai bercerita. "Sebelum sarapan dimulai, seperti biasa, anak-anak datang dan menjemput kami di kamar. Kau tahu, kami baru saja melakukan itu dan kakak iparmu tidak sempat menutupi kejahatanku di lehernya." Seluruh mata keenam bersaudara teralih ke leher Kaia dan memang benar ada begitu banyak cupang di sana. "Anak-anak mungkin kaget dan mulai menangis keras."
Al melirik Didi yang ada di pelukannya. "Apa yang kau pikirkan? Lihatlah Ayahmu, apa kau tega membiarkannya bingung seperti itu?"
Mata Didi melirik ayahnya, hanya saja wajahnya kembali cemberut dan siap menangis lagi. Al dengan sigap memeluknya agar pria kecil itu tidak akan menangis.
"Ayah memukul Ibu!" tuduh Kiki.
Keenam anak lainnya mengangguki tuduhan Kiki. "Ayah jahat," keluh Lili.
"Sudah waktunya kita memilih antara Ayah atau Ibu." Dengan bibir yang gemetar, Gigi mengatakan ketakutannya.
"Aku . . . tidak ingin memilih," cicit Vivi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kingless
AdventureBerparas menawan, tinggi semampai, hingga berbudi luhur. Apalagi yang bisa diharapkan oleh Ren dari sosok Kaia? Bahkan Kaia masih terus mengejarnya dan melindunginya sampai saat terakhirnya. Karma mungkin sedang tertawa padanya, menamparnya dengan f...
