"Child's Mother, waktunya untuk kembali," ujar Ren pada Kaia. Ia telah menetapkan panggilan yang paling cocok untuk sang istri mengingat mereka saat ini telah memiliki anak.
Kaia akhirnya merasa lega karena Ren tidak akan memanggilnya dengan sebutan aneh-aneh lagi. "Child's Father, haruskah kita kembali sekarang? Didi masih bermain dengan paman dan bibinya."
Ren lalu melihat ke arah Didi dan berjalan mendekat. "Didi, aku dan Ibumu harus kembali ke Desa Phoenix sekarang. Kau ingat kan ketika Bibi Vernon mengatakan jika dia akan mengeluarkan telurnya hari ini? Kami takut sesuatu terjadi padanya, maka dari itu kami akan kembali dulu."
Didi lalu menelengkan kepalanya ke kiri sembari menatap Kaia, "lalu kapan Ibu akan mengeluarkan adik Didi juga?"
" . . . "
" . . . "
" . . . "
Semuanya terdiam. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir masing-masing selama hampir semenit penuh. Kesembilan pasang mata hanya mampu menatap Didi seolah mereka tidak mengerti perihal yang dimaksud oleh si anak.
"Itu." Telunjuk Didi yang masih sangat kecil menunjuk ke arah perut Kaia. "Adik Didi ada di sana tapi masih begitu kecil." Jari telunjuknya yang tidak seberapa dipertemukan dengan ibu jarinya yang jauh lebih tidak seberapa.
Ren sedikit mengeluarkan tawa. Hatinya berdebar. Tawanya bertahap dari kecil ke besar sampai akhirnya ia benar-benar terbahak. Usahanya selama ini membuahkan hasil. Peribahasa usaha tidak akan mengkhianati hasil . . . atau mungkin hasil yang tidak akan mengkhianati usaha? Ah, Ren tidak peduli yang mana yang benar. Hanya saja, berita jika Kaia sedang mengandung sudah membuat hatinya sangat senang!
"Apa kau yakin?" tanya Ren sembari memegang tangan Didi yang hanya sepertiga dari ruas jari telunjuknya.
"Ayah, aku yakin. Banyak orang-orang yang datang menyembahku dengan kondisi yang seperti itu. Mereka memegang cangkangku dan berdoa, padahal Didi tidak bisa melakukan apa-apa selain menjaga segel."
Ucapan Didi membuat Ren semakin yakin. Menjadi sumber energi segel selama ribuan tahun jelas membuat Didi tahu meski kurang mengerti dengan hal-hal seperti ini. Tahu meski kurang mengerti? Ya, itu benar. Karena pertanyaan Didi selanjutnya membuat Ren ingin mengunci kotak penasaran bocah itu untuk sementara.
"Ayah, kenapa adik Didi harus berada di dalam perut Ibu? Bagaimana cara mengeluarkannya nanti? Bukankah lebih baik jika adik Didi dirawat di luar perut Ibu? Jika adik Didi berada di luar perut Ibu, Didi kan bisa menjaga adik Didi. Tunggu seminggu lagi ya, Ayah. Setelah seminggu, Didi akan tumbuh menjadi anak seusia tiga tahun. Didi sudah memaksimalkan pertumbuhan Didi tapi sepertinya hanya bisa sampai ukuran 3 tahun saja. Memaksimalkan pertumbuhan sangat menguras tenaga. Sebenarnya Didi ingin tumbuh menjadi pria tampan dalam seminggu, supaya Didi bisa menikah dengan Ibu."
Kalimat pertama membahas A, tapi kalimat terakhir membahas Z, begitulah Didi. "Maaf ya, Didi si pria tampan. Tapi Ibumu sudah menikah dengan Ayahmu." Ren tidak cemburu. Anak ingusan seperti Didi tidak akan bisa mengalahkan karismanya sebagai seorang ayah beranak 1—yang nantinya akan bertambah terus.
"Tidak bisakah Ibu menikahi Didi juga?" tanya Didi memohon pada Kaia.
"Sayangnya Ibu hanya ingin menikah sekali dan itu hanya dengan ayahmu," jawab Kaia sembari memberikan tatapan permintaan maaf.
Didi si bayi yang patah hati, "jika itu keputusan Ibu, maka Didi akan menerimanya hari ini. Besok Didi tanya lagi."
Untuk pertama kalinya Ren ingin menampar pantat mulus Didi secara 'sayang'. "Bahkan jika kau bertanya lagi besok, Ibumu tetap akan menolakmu," komentar Jurado yang memicu gelak tawa dari semuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kingless
AdventureBerparas menawan, tinggi semampai, hingga berbudi luhur. Apalagi yang bisa diharapkan oleh Ren dari sosok Kaia? Bahkan Kaia masih terus mengejarnya dan melindunginya sampai saat terakhirnya. Karma mungkin sedang tertawa padanya, menamparnya dengan f...
