Ren sebenarnya masih ingin menyiksa Mahasura yang telah membunuh istrinya, namun ia tidak ingin menimbulkan teror di tanah orang lain. Sebelum Mahasura bisa mengatakan kalimat menyerah, Ren mengayunkan sabitnya ringan. Dalam sekejap, kepala Mahasura telah terpenggal. Ren menatap sinis ke arah jasad pria itu. 'Manusia golem, eh? Selamat datang di Neraka,' pastinya dalam hati.
Jangankan Mahasura, bahkan Maharga telah tiba di Neraka. Tidak cukup 7 hari dia di Sheol, jiwanya sudah sampai ke Neraka. Pengikut Ren menyambutnya dengan tatapan licik. Jika Maharga bisa tiba dengan begitu cepat, Ren mengira-ngira bagaimana dengan pria yang ada di depannya? Ia lalu melirik tribun dimana The Maha Family berada. Matanya menatap Mahabala tajam. Biar bagaimana pun, pria itulah otak dari pembunuhan Kaia.
Di sisi lain, Mahadewa yang lepas dari kematian karena pengampunan Ren segera merasa lega bukan kepalang. Ia ingat hari dimana Mahabala mengajaknya untuk membunuh seseorang, namun ia menolak karena hari itu bertepatan dengan ulangtahun putrinya dan ia merasa tidak pantas untuk mengeroyok orang lain. Lupakan Mahadewa, kali ini adalah giliran Maharaja. Setelah Ren menang dari Mahasura, waktunya ia melawan Maharaja.
Selain keringat dingin, Maharaja tidak yakin apa yang harus ia lakukan. "Menyerahlah," bisik Mahadewa. "Jika kau menyerah, dia akan melepaskanmu."
"Benarkah? Haruskah aku menyerah?" tanya Mahatma.
Maharaja lalu melihat Mahatma, bahkan Mahadewa yang omongannya didengar segera melirik adiknya itu. "Jika itu kau, aku tidak yakin. Kau ikut hadir ketika pembunuhan istrinya. Mari kita lihat apakah dia akan melepaskanmu atau tidak."
Seperti yang dikatakan Mahadewa, Maharaja menyerah. Apakah Ren melepaskannya? Jawabannya adalah ya. Ren telah berjanji untuk tidak menyentuh yang tidak bersalah. Maharaja melihat punggung Ren yang lebar. Entah bagaimana, ia bisa melihat kilasan sosok kakak tertuanya, Mahawira. Jika Ren seorang pemimpin, maka dia pastilah akan menjadi pemimpin yang hebat.
Mahatma sengaja kalah dari lawannya agar ia tidak bertemu Ren di babak semi-final. Bukannya sedih, ia merasa bahagia karena tidak harus bertemu dengan Ren. Memisahkan diri dari kakak dan adiknya, ia lalu menikmati malamnya di sebuah rumah bordil. Mabuk dan bermain wanita, benar-benar surga bagi para lelaki. Dengan kereta kuda yang ditarik ajudannya, Mahatma tertawa dan bermesraan dengan para wanita yang ia bawa. Ia merasa sangat senang karena bisa lepas dari teror Ren. Ia yakin jika Ren tidak berani membunuhnya di luar arena.
Tidak lama setelah Mahatma berpikir demikian, supir keretanya berteriak kencang. Kuda menjadi tidak terkendali dan berhenti secara mendadak. Mahatma yang marah lalu mendorong wanita-wanita yang ada di sekitarnya. Ia bangkit dan keluar dari kereta. "Rakyat jelata mana yang berani melawanku, ha?! Kau tidak tahu siapa aku?! Aku adalah— hm? Siapa kau?" tanya Mahatma bingung. Ia menatap seorang pria tampan berkulit kehijauan. Ia tidak yakin jika dirinya pernah bertemu dengan pria semacam itu.
"Wanita yang ada di keretamu? Apa aku boleh mengambilnya?" tanya pria berkulit hijau.
"Ha?! Jadi kau hanya seorang bandit yang tidak punya uang?!" bentak Mahatma.
Pria berkulit hijau mengeryitkan dahinya. Ia bukannya tidak punya uang, hanya saja semua penghasilannya sedang ditabung untuk membuat kamar super mewah demi keponakannya! Tidak ada sepeserpun yang boleh lari ke wanita. Keponakan jauh lebih penting! "Aku bukan bandit."
"Kau adalah bandit! Ambil wanita-wanita itu dan biarkan aku pulang. Aku sedang tidak ingin melawan siapapun."
"Aku juga sedang tidak bernegosiasi denganmu. Aku ke sini untuk membunuhmu."
"Ha?! Aku yakin jika kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Ada urusan apa kau denganku?!"
"Kita memang tidak, tapi dengan kakak iparku, ya. Berani-beraninya kau membunuhnya ketika dia sedang lemah. Mari kita lihat seberapa kuatnya dirimu." Oz lalu bersiul. Di sekitarnya kemudian muncul kilauan mata merah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kingless
MaceraBerparas menawan, tinggi semampai, hingga berbudi luhur. Apalagi yang bisa diharapkan oleh Ren dari sosok Kaia? Bahkan Kaia masih terus mengejarnya dan melindunginya sampai saat terakhirnya. Karma mungkin sedang tertawa padanya, menamparnya dengan f...
