"Yang ini jauh lebih bagus."
"Aku tidak mau. Itu terlalu mewah."
"Bagaimana dengan yang ini?"
"Tidak mau juga, terlalu besar."
"Kalau yang ini?"
"Terlalu tipis, nanti tidak awet."
"Babe, jadi yang mana?"
"Lebih baik kamu yang memilih."
Ren berteriak tertahan di dalam hatinya. Sekarang ia mengajak Kaia untuk membeli cincin kawin yang baru. Namun seperti yang bisa dilihat, Kaia sangat susah memilih! Untung saja Ren sayang.
Mata Ren kemudian tertuju ke sepasang cincin yang tidak terlalu mewah namun juga tidak terlalu buruk. Lima permata kecil terpahat di cincin yang lebih kecil, sedangkan cincin yang lebih besar tidak memiliki satu pun permata. Sepasang cincin itu dihiasi dengan pahatan rumit yang indah. "Yang ini berapa?"
"Itu . . . 1000 koin emas." Jawaban si penjual cincin dengan angkuh.
"Kenapa menatapku seperti itu?!" Ren terpancing jika ia merasa direndahkan oleh orang lain.
"Kuulangi, itu 1000 koin emas!" jawab si pedagang tetap kukuh.
"Kau—"
"500 koin emas," tawar Kaia menengahi Ren yang sebentar lagi hampir membalik lapak si pedagang.
"Apa?! Turun setengahnya? Jika kalian tidak punya uang maka—"
"450 koin emas," potong Kaia lagi.
"Jangan bercand—"
"400 koin emas."
"Hei! Kenapa semakin turun?!"
"Tiga ratus lim—"
"Ok, deal! 400 koin emas. Ambil dan pergi dari sini."
Ren melirik Kaia ngeri. Ia harus menanamkan cara ini di kepalanya untuk kelak bisa digunakan di kesempatan lain.
"Coba pakai cincinnya, Sayang." Ren mengambil cincin yang lebih kecil dan memasangnya di jari manis Kaia. Yah, ukurannya sedikit kebesaran.
Ketika Ren memakai cincinnya. "Fuck!" kecamnya pada jari-jari tangannya yang besar. Cincin itu kekecilan!
"Bagaimana? Kau mau menggantinya atau mau dijadikan bandul kalung?" tanya Kaia sembari membelai lengan Ren.
Sementara Ren membayangkan tanpa cincin pernikahan yang melingkar di jarinya dan jari Kaia, bagaimana semua orang bisa tahu jika mereka telah menikah?!
"Ayo pulang. Berikan cincin ini pada Jurado. Dia pasti tahu sesuatu." Ren lalu menggandeng tangan Kaia dan berjalan kembali ke Istana.
Atau mungkin tidak.
Ren khawatir jika Kaia akan kelelahan karena berjalan, jadi ia mengaktifkan Cincin Teleportasinya dan membawa Kaia kembali ke gerbang Istana Ruthven.
"Jurado!" panggil Ren setibanya ia dan Kaia di lantai 10— Lantai Taman Surga milik Kaia. Ada sebuah kursi taman yang ada di tengah-tengah taman yang masih cukup kosong. Ren dan Kaia duduk di kursi itu bersama.
Jurado tidak datang sendirian, ia datang bersama dengan saudaranya yang lain. Sebuah permintaan muncul di hadapan Kaia, dengan tenang Kaia mengizinkan ketujuh bersaudara itu masuk ke lantai miliknya.
"Kakak! Kakak Ipar! Kalian telah kembali." Jurado berlari mendekati Ren dan Kaia yang masih duduk di kursi taman.
Tidak ada kursi lain yang ada di hadapan Ren dan Kaia sehingga ketujuh bersaudara hanya bisa duduk di atas lantai dengan patuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kingless
AventureBerparas menawan, tinggi semampai, hingga berbudi luhur. Apalagi yang bisa diharapkan oleh Ren dari sosok Kaia? Bahkan Kaia masih terus mengejarnya dan melindunginya sampai saat terakhirnya. Karma mungkin sedang tertawa padanya, menamparnya dengan f...
