Lari tunggang-langgang adalah apa yang dilakukan oleh Vivi. Tidak sempat mengingat gulungan tanaman rambat mana kakaknya berada, ia masih tetap berlari tak tentu arah.
Dari dalam tanaman rambat, Kiki sudah bisa menebak ini sehingga ia mengetuk tanaman dengan pelan. Tanaman itu terbuka sedikit, dari dalam kungkungan tanaman itu, Kiki memberikan semacam kode berupa pantulan cahaya yang mengenai wajah Vivi. Dan memang benar, lupakan berlari tunggang-langgang, ia sedang lari pontang-panting ke arah Kiki. Dengan gerakan menyelam, gulungan tanaman segera terbuka dan menelan Vivi kemudian.
Dari dalam mini pouch ajaibnya, Kiki segera mengeluarkan sebotol air dan menyerahkannya segera pada Vivi. Yang terakhir dengan buru-buru mengambil botol itu dan meminumnya dengan rakus.
"Bernapas dulu," tegur Kiki ketika Vivi sudah siap untuk bercerita.
"Ya." Vivi lalu mengatur napasnya agar lebih bisa stabil.
"Kau terlalu nekat," tegur Kiki begitu melihat Vivi yang sudah sedikit lebih tenang setelah berlari terbirit-birit tadi. "Aku percaya, Ayah dan Ibu kita bisa menyelamatkanku."
Vivi kemudian hanya bisa cengengesan. "Aku tidak sabar, ok? Melihatmu yang bisa berdiam diri seperti orang tolol di belakang membuatku greget."
Sebuah geplakan kecil di kepala diberikan Kiki pada Vivi. Meski yang merasakan nyeri adalah Kiki karena baru saja memukul sebuah batu, Vivi tetap masih bisa merasakan amarah sayang yang diberikan oleh sang kakak. "Lain kali jangan ulangi. Kau baru saja membuat Ayah dan Ibu khawatir."
"Benarkah?" tanya Vivi.
Kiki mengangguk yakin. "Rasa cinta mereka begitu besar, tidak mungkin jika mereka tidak memiliki rasa sayang sama sekali pada kita setelah melihat apa yang telah mereka lakukan pada kita. Ayah dan Ibu sama mencintai kita sebesar rasa cinta mereka pada Zizi yang notabene adalah anak kandung mereka."
Selama ini, Vivi memang tidak merasa diasingkan atau dianggap sebelah mata karena statusnya yang diangkat anak oleh Ren dan Kaia. Ia lebih ke . . . semaunya? Ia melakukan apapun yang dirinya suka tanpa mempertimbangkan perasaan kedua orangtuanya, sama ketika dulu dirinya masih terjebak di dalam gua.
"Kau tahu, aku dulu ketakutan karena berpikir yang tidak-tidak setelah Zizi lahir."
Ucapan Kiki membuat Vivi menelengkan kepalanya ke kanan pertanda ia bingung. "Memangnya kenapa kalau Zizi lahir?"
"Aku takut jika Ayah dan Ibu akan membuangku setelah kelahiran Zizi. Belum lagi aku adalah yang terlemah dibanding seluruh saudaraku."
Sebelum Vivi sempat memprotes, Kiki buru-buru memotong.
"Ya, ya, ya, aku tahu jika ketakutanku memang tidak berdasar. Hanya saja aku sungguh ketakutan. Vivi, melihat Zizi yang sangat lucu aku menjadi paranoid dan memikirkan hal yang tidak-tidak. Namun kemudian Gigi datang kepadaku."
"Gigi? Ada apa dengan Gigi? Apa hubungan semua ini dengan Gigi?"
Sebuah suara tawa kemudian muncul dari bibir Kiki yang kecil. "Ingat, jika kamu membutuhkan sesuatu, dalam hal ini adalah saran yang bijak, maka datanglah pada Gigi. Dia akan memberikanmu saran yang baik dan penuh pertimbangan. Waktu itu, dia datang kepadaku dan menjernihkan pikiranku. Mengatakan semua hal yang bisa meringankan beban pikiranku dan setelahnya dia mendiskusikan semua hal ini dengan ayah dan ibu sehingga semua ketakutanku hanya akan menjadi ketakutan belaka."
"Semuanya terdengar sangat hebat. Aku tidak sabar mendiskusikan banyak hal dengan saudariku, Gigi."
Suara tawa kemudian muncul, siapa lagi jika bukan dari Kiki? "Tidakkah menurutmu kita terlalu tenang ada di sini? Aku sangat yakin jika di luar pasti sedang gempar," ujar Kiki sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan melanjutkan kikikannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kingless
AdventureBerparas menawan, tinggi semampai, hingga berbudi luhur. Apalagi yang bisa diharapkan oleh Ren dari sosok Kaia? Bahkan Kaia masih terus mengejarnya dan melindunginya sampai saat terakhirnya. Karma mungkin sedang tertawa padanya, menamparnya dengan f...
