Happy reading!
***
Empat buah roda mobil yang dikendarai Sean berhasil memasuki pekarangan luas dalam pagar yang berada di antara kompleks perumahan. Disana, berdiri seorang pria dewasa 40-an yang membukakan pintu gerbang serta menyambut hangat kedatangan mereka. Begitu turun, mereka saling bertegur sapa.
"Ini kunci rumahnya, bu."
"Terima kasih banyak pak Aryan," ujar Ayuna sembari menerima benda itu.
"Sama-sama, bu Yuna. Seperti yang dipesan nyonya, semua perabotan sudah diganti dengan yang baru, catnya juga sudah dilapisi lagi. Kamar utama ada di lantai dua, 7 langkah dari tangga dan tepat setelahnya adalah kamar nona An. Ruang khusus kerja untuk pak Sean berada di ujung. Di lantai dasar ada 1 kamar tamu, kamar mandi, lalu dapur di dekat tangga, ruang gym, tv dan ruang tamu. Selain itu juga ada gudang. Saya harap pak Sean dan ibu Yuna merasa nyaman tinggal disini. Kalau ada yang perlu dibantu, bisa segera hubungi saya," Pak Aryan tersenyum ramah.
"Pak Aryan baik sekali. Maaf sudah banyak merepotkan. Mama pasti minta macam-macam ya?"
"Ah, gak repot kok bu," mereka tertawa ringan. Tak lama, Sean bersama anak kecil dalam dekapannya bergabung dengan mereka. Anak itu menggeliat dengan mata menyipit.
"Putri bunda baru bangun? Pulas banget boboknya," Yuna membelai surai lembut putrinya. Cassandra Kiella Abraham, putri tunggal Isabella Ayuna dan Sean Allenzo Abraham.
Sean baru saja diterima sebagai pegawai negeri sipil di salah satu universitas negeri yang bertempat di Jakarta Timur. Alasan itulah yang mengharuskan mereka untuk pindah rumah. Dan kediaman mereka saat ini memang telah direncanakan orang tua Sean jauh-jauh hari sebelumnya agar lebih dekat dengan cucu mereka.
"Pak Aryan gak mau mampir? Kita ngopi-ngopi dulu gitu."
"Wah terima kasih sekali atas tawarannya pak Sean. Tapi saya harus lanjut jualan, kasian istri sama anak jaga warung, tadi saya tinggal pas lagi rame."
"Aduh jadi saya yang gak enak udah ngerepotin," lanjut bapak beranak satu itu.
"Gak sama sekali kok pak, bu. Kan memang sudah tugas saya menyerahkan ini. Lain waktu saya pasti kesini lagi."
"Janji ya pak Aryan?"
"Siap bu Yuna. Nanti saya bawain soto daging best seller warung saya deh. Dijamin nagih," Aryan mengacungkan jempol dan tertawa singkat.
"Cakep deh, jangan lupa ekstra empal sama ususnya pak," tambah Sean dengan tawanya.
"Siap siap, hehe. Kalau begitu saya permisi, mari.."
"Hati-hati pak Aryan," ujar Yuna.
***
"Jadi pak Aryan itu yang ngasih tawaran rumah ini ke mama?"
"Mama minta tolong pak lurah Hasan buat cariin rumah sekitar komplek sini, mama bilang mas pasti tau pak lurah Hasan, soalnya pernah jadi lurah di tempatnya mama. Terus kebetulan bu RT ada rumah kosong yang diurus sama sepupunya alias pak Aryan, jadi mama kamu langsung hubungi pak Aryan sekalian minta tolong cari orang-orang buat ngerenovasi tempat ini. Pokoknya semua disesuaiin sama kita. Kamar yang mau ditempatin An juga didekor ulang biar An suka."
Sean menggeleng pelan. "Ternyata senengnya mama punya cucu segitunya."
Sean menyadari dirinya terlalu sibuk sehingga tidak mengetahui jika mamanya sudah banyak membicarakan hal itu dengan Ayuna.
Ayuna mengeluarkan kotak makan hijau tosca dari dalam tas mini milik An. Wadah itu berisi potongan buah segar, yogurt serta parutan keju.
"An, saladnya dimakan dulu sini," ujar Yuna menuntun putrinya pada sofa lalu menyalakan televisi. An menurut, menempatkan kotak salad di pangkuannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHORT STORIES || YoonHun
ContoBukan oneshoot, satu judul bisa terdiri dari beberapa chapter, genre suka-suka » Baku » Semi baku Baca aja, barangkali suka :))
