EXTRAORDINARY [5]

725 111 39
                                        

"Kayla, Elvino, berhenti!"

Dua bocah itu tak mengindahkannya, mereka tetap berlarian saling melempar bantal. Sedangkan Ayuna mulai menghampiri. Dan begitu tahu, El dan Kay  menjerit segera menghindari Ayuna. Alhasil, mereka bertiga tidak ada bedanya. Terlibat kejar-kejaran tanpa ujung. Ayuna bahkan nyaris terpeleset air di lantai.

"Hey kalian awas ya kalo ketangkep."

Sehun yang berniat melerai dialihkan pada handphone-nya yang bergetar. Ia sedikit menjauh. "Halo?"

"Iya saya sendiri."

"Ya?"

"Baik pak, saya akan segera konfirmasi ulang nanti, terimakasih." Orang di seberang sana telah memberi instruksi pada Sehun untuk mengkonfirmasi kembali tiket ke Lombok sebagai hadiah kontes.

Sejujurnya ini merupakan moment yang ia nantikan, liburan dan jauh dari dengungan ketus Ayuna. Mulanya Sehun bimbang, namun ia menyakinkan diri mungkin jika ia tinggal sehari saja, Ayuna bisa menangani si kembar lagipula bibi Jum pasti besok juga sudah kembali. Sepertinya tidak masalah jika ia berangkat ke Lombok dan menyempatkan diri mengunjungi Meyna sebelum itu.

Melihat Ayuna yang masih mengejar si kembar membuatnya geleng-geleng. "Stop," Sehun menarik pergelangan tangan cewek itu saat lewat tepat di hadapannya. "Mau sampai kapan gitu terus? Malah ikutan jadi bocah kayak mereka."

"Mereka bikin gue kesel." Sementara El dan Kay naik ke lantai 2, cewek itu berusaha melepaskan cekalan Sehun.

"Kali ini ngalah. Kalo udah nangkep mereka mau lo apain emang? Coba inget tuh anak ibunya lagi sakit." Ayuna tak lagi melawan, ia mendengus pelan. "Ambilin pel, lap sama sapu. Biar gue yang bersihin." Benar, Sehun harus menyelesaikannya hari ini supaya besok dia bisa berangkat dan kembali lusa.

"Nih!"

"Lo gak pengen bantuin?" Sehun berhenti sejenak.

"Lo tadi bilang apa? 'Biar gue yang bersihin' yaudah bersihin sana."

"Terus lo mandor gitu?"

"Iya," singkatnya. Sehun membuang nafas kasar. "Sebelah sana belum bersih tuh. Ya ampun bihun lo niat gak sih bersih-bersih? Tuh meja sama sofa masih banyak remahan." Tentu saja Sehun sedikit jengkel, Ayuna sangat cerewet tapi tidak ada tindakan apapun. Bukan Ayuna jika tidak menyebalkan.

"Lo bisa masak?"

"Hm? Lo ngeremehin gue?"

"Daripada lo sibuk ngebacotin gue, mending ke dapur sana."

Tanpa protes Ayuna pun beranjak ke dapur. Setibanya, dia mematung, berpikir lama soal apa yang hendak dilakukan sekarang. Mengecek bahan di lemari es, lalu akhirnya mengambil telur.

Sehun lega telah menyelesaikannya, setelah mengembalikan peralatan, ia menuju dapur untuk melihat apakah cewek itu benar-benar bisa memasak.

"Wowowoo," Ayuna heboh saat minyak panas di teflon nyaris mengenai tangannya.

"Lo bikin apa?"

"Telor dadar."

"Gak ada bentuk."

"Ya kan masih proses."

"Kegosongan tuh. Lo sebetulnya bisa masak apa enggak sih?"

"Kok gosong? Ih gara-gara lo ngrecokin gue jadi begini."

"Dih ngeles, emang lo nya aja yang gak bisa masak."

"Gue bisa!"

Sehun mendekat dan segera mengecilkan api kompor. Ia mengambil telur lagi, dipecahkannya ke dalam mangkuk, diaduk bersama bumbu.

SHORT STORIES || YoonHunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang