EXTRAORDINARY [10] END

1.1K 126 231
                                        

Tak ada percakapan atau sekedar sapaan. Ucapan manis yang akhir-akhir ini sering Sehun lontarkan belum terdengar lagi sejak kemarin. Bahkan ia keluar pagi sekali.

"Tadi mama liat Sehun keluar pagi-pagi. Mama kira jogging tapi sampai jam segini belum balik juga."

Ayuna memindahkan nasi goreng dari wajan ke wadah nasi.

"Kamu gak tau suamimu mau kemana?"

"Mungkin lagi ada urusan yang Ayuna gak tau."

"Tapi kamu istrinya. Masa suami pergi gak tau."

"Gak semua hal yang Sehun lakukan, Yuna harus tau, ma. Lagipula Yuna juga gak liat dia tadi. Kalo mama liat kenapa tadi gak nanya langsung?"

"Ya mama mana kepikiran. Kirain mau olahraga."

Tanpa mengatakan apapun lagi, ia segera sarapan. Hening, Ayuna ingat semalam Sehun pulang malam, ia sengaja menunggu di balik pintu kamarnya sambil memasang telinga. Begitu terdengar ketukan alas kaki menggema pada lantai, lantas Ayuna meraih gagang pintu. Meski sedikit ragu, ia menariknya perlahan kemudian menyembulkan kepalanya.

Sehun masuk dan menutup pintu dari dalam sementara langkah kaki Ayuna kini berhenti tepat di depan pintu itu. Tangannya yang terulur nyaris mengetuk tetapi diurungkannya. Sorot sendunya menatap kosong pintu kayu di hadapannya saat ini.

Bukankah lebih baik ia tidak mengganggu Sehun? Benar..

Memutar tumitnya lalu kembali menuju ke kamar. Memang harus begitu bukan? ia sudah membuat Sehun marah dan merugikan Meyna. Jika saja besok tidak berangkat ke Korea, Ayuna memastikan dirinya akan mencari cowok brandal itu sampai dapat lalu habis di tangannya.

***

"Sehun! Gue mohon tolong ijinin gue ketemu adek gue."

"Apa masih belum cukup bertahun-tahun hidup di balik jeruji besi? Atau masih pengen lagi?"

"Gue udah bilang berkali-kali, gue udah berubah!"

"Sekali psiko lo bakal tetep psiko. Mending lo balik, sebelum gue tonjok kaya kemarin. Pergi sejauh-jauhnya dari hidup Meyna. Kehadiran lo bikin dia tambah sakit. Kalo lo beneran berubah, seharusnya lo paham apa yang harus lo lakuin."

"Tapi gue masih keluarganya."

"Mana ada keluarga yang mau bunuh adeknya sendiri hng?! Hukuman yang lo terima gak sebanding sama penderitaan Meyna."

Sehun masih kekeuh pada pendiriannya tidak akan mempertemukan mereka lagi mengingat betapa histerisnya Meyna saat melihat Andrew lagi.

"Lo mau gue sujud di kaki lo? Bakal gue lakuin. Asalkan.. pertemukan gue sama adek gue." Tatapan Sehun menyorot tajam kedua mata Andrew yang menyiratkan penyesalan yang luar biasa. Dia sedang bingung mencari cara agar Sehun mengijinkannya bertemu dengan Meyna. "Lo bisa awasi gue dengan berada di samping Meyna."

Penampilan Andrew benar-benar berbeda, yang dulunya terkesan urakan dan nakal, kini lebih rapih dengan mencukur tipis rambutnya. Tidak ada lagi anting yang terpasang di telinga maupun aksesoris lain.

Seperti yang terlihat, saat ini Meyna benar-benar beringsut, meremat erat pakaian di bagian lengan Sehun. Sorot matanya memohon agar Sehun menyelamatkan dirinya dari orang itu. Lalu ia sendiri menjelaskan dengan lembut. Sementara Andrew hanya dapat menunduk, bergeming di dekat pintu.

Sebelumnya Andrew mengaku selama tahun-tahun pertama di dalam jeruji besi, dadanya masih dipenuhi dendam. Suatu ketika, seorang tahanan yang satu sel dengannya sebelum dipindah bercerita tentang dirinya. Dan lambat laun, setiap malam yang temaram dan sunyi, Andrew kerap melamun. Bayang-bayang wajah pucat Meyna mengusik sanubari. Tangisan Meyna dan mata sembabnya...ada apa dengannya? Ia bahkan tidak mengerti mengapa benaknya mulai melunak.

SHORT STORIES || YoonHunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang