Hiruk pikuk penonton memenuhi tribun, menghadap tim yang tengah bertanding di bawah penerangan di malam hari. Sorak sorai pendukung berusaha membakar semangat para pemain.
Menggaungkan satu nama sebagai idolnya hattrick. Striker andalan tim.
"OH SEHUN OH SEHUN OH SEHUN."
Menit-menit menegangkan berlalu cukup lancar baginya. Oh Sehun. Pria itu telah mengabulkan keinginan para penggemar. Ya, ia berhasil membawa timnya unggul dengan skor 3-0 hingga detik terakhir.
Oh Sehun, si tokoh utama dijunjung tinggi pada pundak para pemain setim dengan tangan mengepal di udara. Senyum lebar menghiasi. Sungguh hari terbahagia dalam hidupnya.
Cita-cita Sehun untuk membawa tim kebanggaannya ke puncak podium sudah di depan mata. Satu langkah lagi. Lusa adalah final.
"Wow selamat bro, kau hebat, benar-benar hebat. Tak sia-sia kakakku menjadikanmu tokoh utama di skenario dramanya." Gadis itu terkekeh, menepuk bahu lebar Sehun.
Sehun mengeryit, adik dari pelatihnya ini menyebut pertandingan sebagai drama? Namun akhirnya ikut tertawa. "Terima kasih Krys. Ngomong-ngomong, sendirian?"
"Ya, sebelum aku bertemu denganmu. Ah kakakku menyuruh kita segera merapat. Bersiaplah, aku tunggu di bawah."
"Oke."
Mereka merayakan kemenangan tidak terlalu mewah. Sekedar berpesta barbeque dan wine sambil bersenandung ria.
Sehun melirik ponselnya dan kebetulan ada pesan masuk.
Sayang - Aku menontonnya, kau sangat hebat sayang, aku bangga padamu.
Sehun tersenyum, segera menekan tombol dial. Tentu langsung diangkat oleh si penerima.
"Aku mencintaimu."
"Apa sih. Tidak nyambung."
Sehun tertawa. "Aku serius. Aku merindukanmu. Sangat. Matamu, hidungmu, bibirmu, senyumanmu. Membuatku ingin pul-"
"Tidak. Jangan konyol Sehun. Kau tidak boleh membuang waktu latihan hanya untuk menemuiku."
"Semua bisa diatur Yoong."
"Maka aku tak sudi menampungmu di rumahku."
"Ya Tuhan, istriku kejam sekali." Ia terkekeh.
"Habisnya kau pasti nekat kalau tidak aku marahi begini. Aku paham, tapi dibanding dirimu, aku lebih rindu sebenarnya. Tapi aku tak mau egois. Cita-citamu adalah prioritas. Aku tidak ingin jadi kerikil. Meski sebenarnya aku sudah-"
"Dengarkan aku Yoona. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Aku melakukannya karena murni keinginanku. Termasuk menikahimu. Bila akhirnya kita bersama, itu bukan kebetulan atau sekedar paksaan melainkan takdir. Tuhan mengijinkanku melabuhkan hatiku padamu."
Yoona mengulum bibirnya, menahan air mata yang hampir jatuh. Meski akhirnya tak terbendung. Ini yang membuatnya tidak kuat menahan beratnya rindu. Sungguh.
"Sayang, masih disana?"
"Kau jahat."
"Eh?"
"Kau membuatku menangis malam-malam. Kan tidak lucu kalau mataku bengkak besok pagi. Bisa-bisa teman sekantor menertawaiku habis-habisan."
Ungkapan itu membuat tawa Sehun pecah. Sedangkan Yoona mendengus kesal sambil mengusap pipi yang mulai basah.
"Sudah makan?"
"Ini tengah malam, Sehun. Seharusnya kau tanya kenapa aku belum tidur, dasar bodoh."
KAMU SEDANG MEMBACA
SHORT STORIES || YoonHun
Short StoryBukan oneshoot, satu judul bisa terdiri dari beberapa chapter, genre suka-suka » Baku » Semi baku Baca aja, barangkali suka :))
