HELP [4]

872 170 12
                                        

Sehun menoleh membuat pandangan mereka bertemu. Ia melambaikan tangan. Senyuman lebar Sehun begitu hangat. Yoona sempat berpikir, apa Sehun tersakiti dengan kata-kata kasarnya?

"Yoong? Kenapa berhenti disitu?" Sehun bangkit dan hampir melangkah maju sebelum akhirnya Yoona lebih dulu berlari hingga menubruk tubuhnya. Yoona mengeratkan rangkulan pada leher Sehun dan terisak disana.

"Sayang, kau kenapa?" tanya Sehun sambil mengusap punggung Yoona yang bergetar. Sementara gadis itu justru semakin mengeraskan tangisannya. Tentu Sehun kebingungan. "Yoona..."

Yoona masih belum menjawab. Sehun tertegun dengan tanda tanya besar di kepala. Kemudian perempuan itu mengangkat muka dan Sehun menatapnya cemas.

"Sehun...kau tidak akan meninggalkanku kan?"

"Tidak, memang aku mau kemana?"

Yoona hanya menggeleng dalam diam. "Sehun, aku mau pulang."

Sehun mengangguk ragu, masih tidak mengerti sambil mengusap pipi Yoona yang basah juga ingusnya tanpa jijik. Pria itu berbalik lalu menggendong Haechan dengan tangan kanan sementara yang kiri terselip pada sela-sela jemari Yoona.

Haechan sempat bertanya ada apa dengan kakaknya dan Sehun menjawab kalau Yoona menangis karena mereka meninggalkannya sendirian di Swing Park. Haechan kemudian minta maaf pada Yoona. Sedangkan Sehun sendiri masih belum mengerti alasan Yoona menangis.

---

Hari berikutnya, hubungan Sehun dan Yoona membaik. Tunggu, lebih tepatnya sikap Yoona kepada pria itu yang menjadi baik, tidak sekasar sebelumnya. Entahlah, mungkin Yoona sedang dalam masa mendapat hidayah(?)

Mereka duduk berdua dalam bus menuju ke sekolah. Tidak seperti biasanya Yoona yang mati-matian mengusir pria itu seolah Sehun itu kuman yang harus disingkirkan. Ya ampun.

"Kenapa selalu suara penyanyi laki-laki yang kau dengarkan hng? Penyanyi perempuan kan banyak."

"Kau ini kenapa sih. Aku kan jatuh cinta pada mereka. Tampan dan berbakat. Sungguh anugerah terindah yang diberikan Tuhan." Yoona tidak salah, dia hanya mengungkapkan kekagumannya.

Ia tak menyadari perubahan ekspresi Sehun. Earphone yang semula mereka bagi dua, Sehun segera melepaskan dari telinganya. Pandangan datar ke depan. Hingga bus berhenti dan ia turun tanpa mengucap sepatah katapun. Membuat Yoona harus berlari mengejar sambil mengumpat pelan.

Yoona mengerutkan dahi ketika melihat seorang perempuan berseragam sekolah namun bukan seperti yang ia kenakan. Untuk apa siswi sekolah lain datang ke tempatnya? Dan berjalan mengikuti Sehun? Untuk apa?

"Hei Na." Si pemilik nama menoleh ketika seseorang menyentuh bahunya. "Kenapa berhenti disini?"

Yoona menggeleng singkat. "Cuma sedang kepikiran sesuatu." Kemudian mereka berjalan beriringan.

"Tumben sekali pacarmu tidak bersamamu seperti biasanya."

"Hng? Aku tidak punya pacar." Padahal Yoona sudah menebak kalau yang dimaksud Minhyun itu Sehun. Laki-laki itu terkekeh.

"Jangan bohong. Ah ternyata yang dibilang Sehun itu benar. Kau itu tsundere. Wanita itu harga dirinya setinggi langit ya. Gengsi jadi nomor satu."

"Sehun bicara begitu padamu?" tanya Yoona sengit sambil berkacak pinggang. Mendapat tatapan nyalang, Minhyun meringis dan menggaruk tengkuknya. Menelan saliva dengan susah payah. Dia salah sudah membangunkan singa tidur.

"D-dia juga bilang meski begitu, kau tetap cantik kok. Dia selalu gemas ingin menciummu."

Yoona terkesiap dan manik matanya bergerak malu, bagaimana bisa pria albino itu blak-blakkan mengatakan itu pada orang lain, astaga.

"D-dia bilang begitu?" lihatlah sekarang ganti Yoona yang gugup.

Minhyun menahan tawanya lalu menangguk. "Ya...Sehun bilang begitu. Dia tak tanggung-tanggung bila memujimu. Kau sangat cantik, pintar, luar biasa. Kau juga unik, tunggu sebenarnya yang satu itu aku belum tahu maksudnya. Unik? Kenapa ya dia mengatakan kau unik, menurutku kau seperti perempuan lain. Kau manusia, bernafas dengan hidung, berjalan dengan kaki-"

Tukk

Minhyun mendapat jitakan dari Yoona yang geram. Kemudian perempuan itu melangkah menjauh meninggalkan Minhyun yang sibuk mengusap kepalanya dan berpikir mungkin ini yang dimaksud unik oleh Sehun, Yoona itu galak tapi cantik. Lalu dia terkekeh seperti orang bodoh.

---

Yoona menarik tangan Sehun menyusuri koridor. Karena itu gadis kesayangannya, maka ia hanya diam menurut. Tapi aneh, kenapa Yoona tiba-tiba begini?

"Kau mau membawaku kemana Yoong?"
Perempuan itu tak menjawab. Lalu mereka sampai di lab komputer. Kebetulan pagi ini tidak ada kegiatan belajar mengajar di lab. Jadi disana sepi.

Sehun semakin bingung. Jika ingin membicarakan hal penting Yoona tidak pernah seperti ini, biasanya ia akan bicara langsung. Setelah masuk dan menutup pintu, Yoona berbalik dan menatap Sehun.

"Kau...sakit?" Sehun menyusuri wajah Yoona yang tampak pucat, perempuan itu menggeleng pelan dan tersenyum tipis seraya menggenggam tangan besar Sehun di wajahnya.

"Aku hanya merindukanmu."

Tunggu, Sehun tidak salah dengar? Apa gadisnya ini salah minum obat? Sehun hanya heran, tidak biasanya. Yoona yang ia kenal itu cuek. Kenapa tiba-tiba...ah masa bodoh, well ia bersyukur Yoona berubah. Sejak kejadian saat Yoona menangis sambil memeluknya kan hubungan mereka memang sudah membaik.

Sehun membalas senyuman itu dengan begitu manis. Ia terkekeh merapikan rambut gadis itu. "Kau tidak sadar CCTV sedang merekam kegiatan kita? Kau tidak takut kita digiring ke ruang BK?"

Yoona mengendikkan bahunya. "Aku tidak peduli."

"Tapi kita harus segera keluar. Aku tidak ingin kau kena masalah. Kalau ada hal penting yang ingin kau bicarakan, kita bisa membahasnya di perpus atau atap. Kita biasa berdiskusi disana kan?"

"Benarkah?"

Sehun mengeryit. "Kau lupa? Ck, dasar. Makanya jangan terlalu memikirkan urusan makhluk lain, pikirkan juga hubungan kita." Yoona menyengir malu dan minta maaf.

Detik berikutnya Sehun mendapat sebuah panggilan dari ponsel. "Halo Jae, ada apa?"

"Kau kemana saja Hun? Ini waktunya rapat, kau menghilang kemana? Para perwakilan kelas sudah berkumpul."

"Iya iya tunggu sebentar." Sehun memutus sambungan dan menoleh. "Yoong aku harus rapat, kau kembali saja ke kelas ya." Yoona merengut kesal. Sehun yang gemas mengacak surai gadis itu. "Sampai nanti sayang."

Sehun berlari menuju ruang rapat. Sampai disana, para siswa sudah berkumpul. Sehun hampir terlambat. Ia dengan sopan membungkuk sebentar kemudian duduk di bangku yang kosong sambil menetralkan nafasnya.

"Hei albino, kau kemana saja sih? Lama sekali." Itu Krystal. Sehun menoleh dan seketika matanya membulat, mulutnya terbuka. Hampir saja mengumpat.

"Yoong, sedang apa kau disini?" tanya Sehun.

"Aku menggantikan sekretarismu yang tidak masuk."

Jadi sebetulnya yang menjadi perwakilan rapat adalah ketua kelas dan sekretarisnya dari masing-masing kelas. Yoona dan Sehun sekelas, sedangkan Krystal dari kelas lain.

"Kenapa tadi tidak bilang kau juga ikut? kita kan bisa kemari bersama. Eh tunggu kau sudah sembuh? Wajahmu sudah tidak pucat."

Yoona menautkan alisnya lalu bertatapan sebentar dengan Krystal. "Kalau Yoona sakit, sudah pasti dia di ruang kesehatan sekarang. Dari tadi dia bersamaku disini. Yoona bilang tadi kau buru-buru keluar dari kelas dan dipanggil tidak merespon sama sekali. Jadilah Yoona kesini sendirian."

Sehun tercekat dan menegang namun kemudian tubuhnya melemas bersandar pada bangku. Ia mengusap kasar wajahnya.

Yoona menaikkan kedua alisnya dan mendekat. "Kau kenapa?" Yoona berbisik.

"Nanti saja aku ceritakan," jawab Sehun lirih sambil memijat pelipisnya.

---

TBC

Sehun kenapa yak? Shock gitu wkwk jangan-jangan....

SHORT STORIES || YoonHunTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang