HEAD OVER HEELS [4]

120 21 21
                                        


Yoona berdiri dengan kedua lengan terlipat di depan dada. Tatapannya datar tak mengarah kemanapun. Telinganya sedang menyimak dari balik dinding. Tak lama, dia berjalan pergi.

Kebungkaman yang berselisih dengan akal sehat, rasanya sulit untuk diterka apa maunya.

Bahkan ketika dia memperhatikan Sehun yang berbaring miring menghadapnya, kepalanya berisik menebak sesuatu tak pasti. Sedangkan pria itu terlelap nyaman di posisinya.

"Jadi, apa aku gagal mengenalimu?"

Beberapa saat yang lalu sebelum Sehun pulang, Yoona sengaja memasak menu untuk membuktikan sesuatu.

'Sehun tidak menyukai lobak. Jika dia tak sengaja menelannya, dia akan muntah.'

Sepatah kesimpulan dari percakapan kakak beradik di laptop Chanyeol.

***

Tanda tangannya sama persis. Dia bahkan sangat ahli meniru Chanyeol. Yoona sempat memeriksa tumpukan berkas di meja kerja Sehun. Dia beralasan berkunjung membawa makan siang dan sengaja menunggu Sehun kembali dari ruang meeting.

Dia menyadari selama ini terlalu hanyut dalam keterpurukan, hingga membuat hatinya lemah menyangkut apapun tentang Chanyeol. Denial, Yoona tidak mengelak rasa itu. Dia tidak bisa menerima kenyataan yang harus dihadapi. Hidupnya terasa hampa, tak lagi berguna jika tanpa suaminya. Hingga pikiran bodoh itu muncul tanpa kendali, mengantarkannya yang nekat hendak lompat dari rooftop lantai 9 rumah sakit. Dia pikir, dia akan lebih gila jika hidupnya masih berlanjut.

Sehun, mengisi kekosongan, seolah Yoona diberi kesempatan nyata demi melanjutkan momen indah yang sempat terjeda. Siapa sangka dirinya bergantung pada perasaan semu.

"Kau sudah lama?"

"Tidak. Oh ya, kau lihat gelang bunga daisy milikku, tidak? Entah kapan rantainya putus, jadi aku meninggalkannya di suatu tempat saat buru-buru. Tapi saat aku mencarinya lagi, tidak juga kutemukan."

"Laci meja rias? Nakas dekat tempat tidur? Apa sudah kau periksa?"

"Sudah. Tetap saja tidak ketemu. Padahal itu hadiah darimu, tapi aku tidak bisa menjaganya dengan baik."

Langkah Sehun mendekat, mencubit pelan pipi putih yang terasa halus oleh sentuhan. "Nanti kita cari bersama, ya. Kalau ketemu dan tidak bisa diperbaiki, aku akan menggantinya dengan yang baru."

"Tidak, tidak. Aku kan tidak sedang ulang tahun."

"Yoona. Aku bisa jadikan setiap hari yang kulalui sebagai ulang tahunmu."

Senyum Yoona mengembang kala Sehun mendaratkan belaian lembut pada pelipis. Perhatian itu terkesan tulus, bermakna dalam, tanpa tuntutan.

'Aku tak melihat gelangmu.'

'Ah, ya. Maafkan aku Chan, padahal baru semalam kau berikan padaku, tapi aku rasa harus melepasnya saat mandi, bunganya cantik jadi aku takut merusaknya. Aku berencana mengenakannya lagi, karena aku sedang buru-buru jadi tak sempat membuka kotak. Ibu menelfonku dua kali.'

Secercah ingatan bermunculan. Menunjuk fakta sebenarnya. Bagian itu tak tertulis di pesan Chanyeol dan mendengar respon Sehun, tentu Chanyeol tidak menceritakannya juga melalui telfon atau secara langsung.

***

"Yoona? Kau baik-baik saja?"

Celetukan Yeojin membuyarkan lamunan singkat.

"Iya, ibu. Aku hanya kepikiran sesuatu. Hm.. desain perhiasan milik ibu mendapat respon bagus dari klien, tapi dia belum bisa menentukan pilihan gaun yang senada. Beberapa rancangan yang aku tunjukkan belum bisa dia terima sepenuhnya. Dia memberikanku referensi lebih detail yang cenderung mendekati. Aku mungkin akan menjadi sangat sibuk."

SHORT STORIES || YoonHunTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang