THE HOUSE [2]

320 61 39
                                        

Saat ini Yuna sedang menggandeng putrinya, mereka berjalan bersama melewati taman sekolah sambil mengobrol. An berceloteh memperkenalkan teman-teman barunya pada sang bunda dengan antusias. Yuna senang mendengarnya.

Taman kanak-kanak Permata Hati letaknya berdekatan dengan sekolah dasar. Secara kebetulan saat melewatinya, ada seseorang yang memanggil nama Yuna.

"Wah, bener."

Yuna masih bergeming dan tersenyum canggung ketika seorang perempuan menghampirinya.

"Kayaknya lupa sama gue ya?" dia tertawa. "Gue Erika, Na. Orang yang lo bayarin bakso di kantinnya bu Ida. Inget gak?"

"O-oh mbak Erika kelas 12 IPA 4?" Yuna menebak, pantas saja Erika terlihat pangling karena ketika masih SMA dulu dia tidak pernah memakai make up sedang saat ini Erika jauh lebih cantik dan lebih berisi.

"Gak salah sama sekali! Hihi.. eh ini anak lo ya? Gimana kalian kabarnya? Lama banget gak pernah ketemu."

"Baik, mbak. Iya ini anakku, namanya Cassandra, panggilannya An."

An dengan sopan mencium punggung tangan Erika. "Halo tante." Sementara perempuan itu tersenyum gemas mencubit pipi berisi An.

"Imutnya. Lo pindah ke sini udah berapa lama, Na?"

"Baru 3 hari yang lalu kok mbak. Ke sini ngikut suami, sebelumnya tinggal di apartemen deket rumah ibuk. By the way kapan-kapan boleh loh mbak main ke rumah."

"Next time kali ya."

Mereka mengobrol sampai 15 menit. Erika senang bertemu adik kelasnya lagi di SMA dulu. Setidaknya dia tidak sendirian seraya menunggu anaknya keluar. Erika memiliki 2 anak, 1 yang masih SD dan satu lagi masih berusia 6 bulan dimana saat ini sedang dititipkan ke baby sisternya di rumah.

***

Seperti yang dikatakan Sean, dirinya memang pulang terlambat dari jam seharusnya dikarenakan harus ikut serta dalam membahas proposal workshop. Dari kaca mobil yang ditimpa rintikan gerimis, dia melihat gadis kecil berdiri di teras rumahnya.

Sean tersenyum, saat itu dia turun membuka pagar. Sambil berlari kecil dengan payung lipat pada genggaman, dia menutup kembali pagar tinggi itu.

"Ayah pulang!"

"Ayah!"

"Eits, ayah basah sayang. Ayah ganti baju dulu ya." Sean mengacak rambut An sambil memperlihatkan kemejanya.

Yuna melanjutkan kegiatannya menyiapkan hidangan makan malam. "An, tolong ambilin bunda 1 gelas, nak."

"Siap, bunda!"

Seusainya membersihkan diri dengan air hangat, Sean bergabung di meja makan bersama An dan Yuna. "Tadi An cepet banget sih ngilangnya. Ayah mau manggil, An-nya udah gak ada."

An dan Ayuna dibuat bergeming. Yuna menghentikan uluran tangannya saat menaruh lauk di piring Sean. "An dari tadi di sini bantuin aku masak sama nyiapin makan malam."

"Hm?" Begitupula Sean yang juga berhenti setelah menyendok nasi. Sean yakin dia melihat An, walau agak remang. Namun kemudian dia mengendikkan bahu memilih tak ambil pusing. "Salah lihat mungkin aku karna efek laper," kekehnya.

"Kamu ini."

Sedangkan An, tanpa diketahui keduanya sedang memandang ke arah dekat pintu gudang. Hanya berkedip dalam diam, An tidak mengatakan soal apapun.

"Mas, aku diundang ke acara syukuran di rumah bu RT besok. Disuruh sekalian ajak An. Andai mas kelas pagi dan sorenya kosong, mas boleh ikut sih."

"Sayang banget ya. Jadi gak ada waktu kenalan lebih akrab sama tetangga."

SHORT STORIES || YoonHunTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang