GLIMPSE OF HER [12]

325 43 16
                                        

Sementara itu, Yuna telah bersiap-siap, berdandan dan mengenakan blouse-nya yang berwarna biru langit. Surai panjangnya kali ini sedikit bergelombang, menampakkan dahi porselen saat poninya ia geser ke tepi seperti gorden.

Baru saja hendak keluar lagi dari kamar, Sehun masuk berkalung handuk basah. Tentu saja ia dengan sesuka hatinya hanya mengenakan boxer seperti biasa. Yuna nyaris terjatuh karena terjingkat kaget dan membuat hells yang tak terlalu tinggi itu selip.

Seperti adegan dalam drama, Sehun meraih pinggang Yuna sedangkan perempuan itu berpegangan pada bahu lebar Sehun yang telanjang. Yuna dapat menghirup aroma khas sabun dari tubuh pria itu.

Sementara Sehun terpesona dengan wajah di bawahnya. Terlalu detail memperhatikan hingga bibir tipis Yuna yang bergradasi, tampak lebih merah di bagian dalam. Bibir itu sedikit terbuka, membuat Sehun menelan saliva.

"Sehun.."

Ditepuknya bahu pria itu.

"Sehun kamu ngerusak blouse-ku."

Alis pria itu terkesiap. Menatap blouse bagian pinggang Yuna yang agak ia remas, kini sedikit kusut.

"Maaf." Begitu Sehun melepaskannya.

"Eum. Makasih. Kamu, kok baru mandi? Buruan ya, anterin aku ke sekolah."

Sehun berkacak pinggang, sedikit menerka jawaban Yuna dalam kepala. "Emang kenapa mobil kamu?"

"Dipake Yeri. Sst!" Yuna segera mengacungkan telunjuknya sebelum Sehun memprotes dengan berbagai sergahan. "Aku yang kasih ijin ke dia. Biar gampang kalau kemana-mana."

"Ck! Tetep aja, anak itu akan semakin menjadi kalau dikasih fasilitas."

Yuna menghelas nafas sejenak, kedua lengannya bersilang di depan dada, garis bibir tertarik datar menatap sang suami.

"Kamu gak tanya kenapa aku bisa jadi deket sama dia? Padahal awal kita ketemu bisa disebut perkenalan yang buruk. Anak itu cuma butuh kepercayaan dari orang sekitarnya."

Tatapan keduanya yang bertumbukan memberi akses mudah bagi Sehun untuk menekan perhatian Yuna.

"Lalu gimana dengan aku?"

Yuna tiba-tiba berkedip gugup, menarik mundur kakinya. Menghindar dari pria yang masih tertuju padanya. Bukan hal ini yang dia harapkan. Dia hanya ingin Sehun mengerti niat baiknya pada Yeri. Tetapi yang terjadi justru Sehun seolah menjebaknya terjun dalam topik serupa.

"Udah gak banyak waktu lagi buat siap-siap. Buruan Sehun. Entar gak cuma aku yang telat, kamu juga. Atau gini aja, aku pesen taksi online-"

Pria itu menahan lengan Yuna yang hendak membuka ponsel. "Tunggu 5 menit, nanti aku turun. Atau..kalau mau nungguin aku disini juga gak masalah."

"Gila! Aku bukan cewek mesum."

"Gak ada hukuman buat istri lihatin suami yang lagi ganti baju, Na." Kekehan Sehun terdengar menyebalkan bagi Yuna.

"Kamu! Udah ah, buru!" Dia melengos, memutus basa basi yang sudah tentu hanya menghabiskan waktunya.

***

Mobil mereka telah berhenti di dekat taman kanak-kanak. Yuna meninggalkan untaian terimakasih pada Sehun sebelum keluar. Mengangguk, memberi kata semangat mengajar anak-anak, dan Sehun terbuai akan pemandangan menakjubkan hingga mata hazelnya enggan beranjak.

"Miss Nana!"

Karin kecil menyeringai lebar menciptakan bulan sabit pada matanya. Berlari dengan kaki mungilnya memeluk kaki Yuna karena tinggi yang hanya mencapai pinggang.

SHORT STORIES || YoonHunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang