REAL BOSS [1]

1.1K 135 47
                                        

"Kenapa sejak tadi tidak dibuka ya? Padahal aku melihatnya pulang ke apartemen," ujarnya setelah beberapa kali menekan bel.

Gadis bermarga Lim itu memutuskan menghubungi sahabatnya tetapi sayang sekali tidak ada respon. Ponselnya aktif namun tidak diangkat. Ia ingin mengambil novel-novel yang dipinjam sahabatnya.

Beruntung ia mengetahui password apartemen karena sudah sering kemari. Begitu melangkah masuk, sepi. Sepertinya memang tidak di rumah. Saat melepas sepatu, Yoona membatin, bagaimana bisa ada sepatu ukuran besar disini? Apa di dalam sedang ada tamu?

Yoona semakin masuk dan dibuat heran lagi melihat beberapa pakaian berserakan di sofa dan lantai. Sahabatnya itu termasuk rapi mana mungkin betah lama-lama membiarkan ruangannya kacau.

"Soo-ya."

Dia menemukan sebuah ponsel yang tak asing. Bukan milik sahabatnya. Tetapi ada satu orang yang ia duga, namun segera dienyahkan. Tidak mungkin. Sesaat kemudian timbul keinginannya untuk memastikan. Begitu ditelfon, benar. Ini ponsel milik In Yeop.

"Ke-kenapa bisa ada disini?" Gumamnya gusar. Menoleh ke arah lain, ia menemukan jam tangan. Sayangnya, itu adalah jam tangan couple yang ia beli bersama kekasihnya 2 minggu yang lalu.

Bak tertimpa batu, dada Yoona mulai sesak. Ia menggeleng berkali-kali sambil menggigit bibir bawah.

"Tidak.." Masih berusaha mengenyahkan prasangka negatif yang menyelinap.

Di sudut sana, pandangan Yoona mengarah pada pintu kamar sahabatnya. Lidahnya kelu, sulit sekali menelan saliva, Yoona pun perlahan mendekat. "Soo-ya..." suaranya bergetar.

Begitu berdiri dekat dengan pintu, Yoona mendengar sesuatu yang membuatnya menutup mulut dan mata membulat. Betapa terkejutnya. Dia mengulurkan tangan, hendak membuka pintu, tetapi pada akhirnya diurungkan lalu mengepal erat.

Hancur.

Cairan bening di pelupuk mata membuat pandangan Yoona kabur. Ia mengambil novel di meja lalu didekapnya erat-erat. Menahan untuk tidak terisak. Ketika memakai sepatu, pandangannya kembali tertuju pada sepatu besar di samping flatshoes.

'Kau beli sepatu baru?'

'Hm! Bagus tidak?'

Pada saat itu Yoona mengangguk ketika kekasihnya bertanya. Itu, 3 hari yang lalu. Ketika mereka berdua jalan-jalan.

'Kenapa...kalian melakukan ini padaku?'

***

Sekian tahun kemudian.

Derap langkah seseorang bertubuh tegap nampak terburu-buru, hingga kurang fokus mengakibatkan dirinya menghantam tubuh kurus semampai seorang gadis dengan setelan kerjanya. Gadis tersebut terjerambab, mendarat dengan lengannya hingga beradu pada kerasnya ubin.

"Akh! Hei kau! Astaga.." Tidak terdapat robekan pada pakaiannya, tetapi telapak tangan yang ia gunakan untuk mendarat kini lecet dan mengeluarkan darah yang sedikit-sedikit merembes melalui goresan.

Laki-laki itu tertegun dengan raut agak shock, "Sorry," kemudian menyodorkan sebuah kartu yang ia ambil dari saku. "Ada hal mendesak yang harus aku urus, kau bisa menghubungiku setelah ini."

Alasan mengapa ia tidak langsung memberi uang pada gadis itu supaya mereka dapat bertemu lagi, barangkali ada hal lain yang siapa tahu lebih penting bisa ia bantu sebagai pertanggungjawaban.

"Apa?!" kening Yoona mengerut, nyaris memuntahkan amarahnya namun lelaki itu sudah menjauh entah kemana.

Suasana juga sangat ramai, hingga Yoona menelan emosinya lewat umpatan agar tidak mengundang perhatian yang lain. Terpaksa ia memutar arah menuju minimarket demi membeli plester.

SHORT STORIES || YoonHunTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang