Kali pertama menginjakkan kaki di Swiss, tentu membuat hati Yuna membuncah dengan wajah berseri-seri. Perjalanan yang memakan waktu sangat lama itu mengantarkannya pada sebuah hotel tempat mereka menginap. Sinar keemasan musim panas telah menyambutnya dari langit dimana gerumul awan kecil ikut menambah keindahan menjelang senja.
Genangan air hangat membenamkan tubuhnya dalam bathub. Sehun disana, berdiri menyandar di ambang pintu sambil menekuk satu kaki dan kedua tangan bersila di depan dada.
"Jangan tidur."
Yuna sedikit terkesiap membuka mata. Dia tak ada niat sama sekali untuk tidur disana walau sangat mengantuk. Dia hanya membiarkan tubuhnya rileks ditelan air hangat yang menenangkan.
Sehun sudah mandi lebih dulu darinya. Dia yang menyuruh agar tak diganggu jika dia lebih lama.
"Gak tidur, kok. Cuma merem. Capek juga ya perjalanan jauh gini. Ini perjalanan terlamaku tau."
Walau dirasa terlambat, Sehun lega akhirnya bisa di tempat ini bersama wanita berharga yang dia cintai.
***
Angin malam musim panas yang dingin menyapa helaian surai kecoklatan milik Yuna. Dia berdiri dengan tangan menumpu pada pagar balkon. Sehun nyaris membuatnya terkejut kala melingkarkan lengan di perutnya.
"Aku pikir kamu bakal langsung tidur setelah ngeluh capek."
Dia terkekeh. "Aku masih gak nyangka bisa sampai tempat ini bareng kamu."
"Aku juga. Salah satu impianku."
Yuna menoleh, menghadap sisi samping wajah rupawan suaminya.
"Ke swiss?"
"Honeymoon. Kemana pun. Asalkan bareng kamu."
Yuna mengeryit aneh. Lebih pantas dikatakan ekspresi yang menggelikan mendengar penuturan yang baru saja merasuk pada gendang telinga.
Mereka saling bertukar cerita kecil mengenang masa-masa indah dulu. Tak ingin membahas hal menyakitkan. Biarkan hanya tersisa kenangan yang indah dan membekas. Lelahnya mereka mengantarkan keduanya terlelap berselimut hangat, bersiap untuk hari esok yang mungkin akan melelahkan.
Yuna perlahan membuka mata, dan memergoki suaminya berbaring dengan kaos putih memandangnya.
"Sejak kapan kamu bangun?"
Sehun tersenyum, mengulurkan tangan besarnya mengusap rambut istrinya.
"Sejak tadi."
"Jam berapa sekarang?"
"Baru jam 8. Zona waktu Swiss. Nanti kita jalan habis sarapan aja."
Yuna mendehem menyetujui. Lalu memasang seringai kecil mendorong perlahan bahu pria itu hingga terlentang. Kening Sehun berkerut, memperhatikan gerakan kecil Yuna yang bangkit mengikat rambut panjangnya yang agak bergelombang.
Dia memposisikan kakinya menjepit pinggang Sehun yang seolah menyerah di bawahnya.
"Kamu gak pernah ngijinin aku di posisi ini."
Memainkan telunjuk tajamnya berputar membuat pola di dada bidang pria itu.
"Terus?"
Sehun menantang dengan senyum jahilnya.
"Aku pikir itu bukan ide yang buruk."
Yuna memilin kecil ujung kaos yang Sehun kenakan. Pria itu setuju, dia jauh lebih cantik dari bawah sana. Cantik yang sama dengan kesan berbeda dan dia menyukainya. Jemari lentik yang merayap seolah ingin membalas dendam akan perbuatan Sehun.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHORT STORIES || YoonHun
NouvellesBukan oneshoot, satu judul bisa terdiri dari beberapa chapter, genre suka-suka » Baku » Semi baku Baca aja, barangkali suka :))
