Sehun beranjak dengan kedua tangan tersimpan di saku celana. Sudut bibirnya tertarik tipis selagi mencondongkan tubuh.
"Yoona..
...kau, berbohong."
Kini sepasang mata mereka kembali bertemu cukup intens. Sudah lama tak sedekat ini. Rasanya aneh, tapi Yoona menahan diri. Entah perasaan macam apa yang tak bisa diungkapkan.
"Bahkan jika aku menanyakan tentang Stephane lebih jauh, kau tidak akan jujur. Selama bertahun-tahun kau menyembunyikannya dariku. Melabeli dia sebagai anak yatim pada semua temanmu. Sekarang, haruskah aku melakukan tes DNA?"
"Jangan sentuh dia."
"Yoona.. hah!"
Sehun berpaling seraya nafas berhembus kasar. Dia meraup muka dengan tangan hampa dan tersenyum pahit.
"Aku selalu meminta maaf padamu atas semua kesalahanku. Meski kau takkan peduli sekalipun aku menjelaskan alasan kenapa aku melakukan itu. Kau pikir, aku akan diam saja melihatmu jatuh dari ketinggian dan menyia-nyiakan masa depanmu? Kau pikir aku hanya akan diam melihatmu tenggelam dalam kesedihan tak berujung? Aku.."
Sehun memberi jeda dari ucapannya. Setengah ragu dengan kata-kata yang hendak dilanjutkan.
"... aku menerimamu menjadi kakak iparku dan mengubur perasaanku dalam-dalam. Aku menjauh dari kehidupan kalian. Dari awal memang kesalahanku yang terlalu lambat. Tapi, dengan melihatmu bahagia, aku rasa cukup."
"Apa maksudmu?"
Sehun bergeming sejenak. Bahkan di kala rasa jengkelnya, dia tak sama sekali melontarkan nada tinggi.
"Lupakan saja. Aku tidak ingin kau terbelenggu dengan masa lalu. Perasaanku, tidak ada apa-apanya dengan rasa cintamu pada kakakku."
"Kau yang pengecut sejak awal."
"Benar. Karena itulah aku tidak layak mendapatkan segalanya."
Sehun kemudian menoleh hendak menyapa Stephane sebelum kembali. Namun, begitu melihat anak itu turun dari tangga dan menghampirinya, senyumnya mengembang.
"Paman mau pulang?"
"Ya. Besok kita akan ketemu lagi."
"Paman, apa yang tadi itu sukses?" Bisikan Stephane itu lucu. Tetapi Sehun hanya membalas anggukan.
Yoona tidak mengucapkan sepatah katapun ketika mobil Sehun menjauh dari pekarangan. Stephane mendongak di bawah ibunya.
"Mom, he is kind. He protects me well. So why don't you like uncle?"
Cukup mengejutkan Stephane mengatakan seperti anak dewasa. Namun, bukan Stephane bila tidak mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Stephane, kau tidak mengerti."
"Lalu kenapa ibu tidak membuatku mengerti? Apa aku terlalu kecil?"
"Nanti, ada waktunya, sayang."
***
Yoona benar-benar kehilangan fokus. Pekerjaannya tak kunjung rampung. Dia menghela nafas, meneguk air minum lalu kembali mengerjakan busana musim gugur. Sebentar lagi dia kedatangan seorang CEO warga negara asing menurut info dari asistennya.
Yoona tengah menunggu, asistennya telah mengatur jadwal sesi pengukuran tubuh pelanggan VIP-nya kali ini.
"Bonjour. Nona kami sedang di dalam, anda bisa masuk untuk sesi pengukuran outfit yang anda pesan."
Tak lebih dari deheman sebagai respon singkat. Dia memasuki area, dan bertemu dengan sang desainer. Yoona tercekat melihat siapa yang datang dipersilahkan si asisten.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHORT STORIES || YoonHun
Short StoryBukan oneshoot, satu judul bisa terdiri dari beberapa chapter, genre suka-suka » Baku » Semi baku Baca aja, barangkali suka :))
