GLIMPSE OF HER [15]

359 38 7
                                        

Disibukkan dengan persiapan karnaval tak membuat Yuna lupa dengan hal lain. Berbagai ornamen yang akan digunakan para murid disusun sedemikian rupa. Para guru semakin dibuat sibuk merangkainya. Ruang kelas pun seperti disulap menjadi lapak kerajinan tangan dengan potongan-potongan kertas dan plastik dimana-mana.

Bu Arni sudah membeli perlengkapan yang perlu dibeli, karena memang tidak seluruhnya melibatkan tangan-tangan para guru.

"Miss Yuna, kami udah sepakat menjadikan miss sebagai kaptennya anak-anak yang berdiri paling depan. Miss nanti akan didandani pake gaun peri."

Yuna menaikkan alis kembarnya, dengan manik mata bergulir ke sembarang arah sebelum kembali menatap Bu Arni.

"Bukannya dari awal udah sepakat Bu Arni yang jadi kapten?"

Arni menggoyangkan telunjuk sambil bergumam. "Aku lebih pilih didandani ala maleficent. Itu lebih keren." Dia terkikik.

Sudut bibir Yuna melengkung lembut. Dengan kepasrahan yang menyelimuti, dia pun menerima. Dia tahu pada akhirnya memang dia yang ditunjuk karena terkenal sebagai 'pawang-nya anak-anak'. Mereka yang sangat susah diajari berbaris diharapkan bisa patuh pada miss kecintaannya.

Esok harinya, setelah kegiatan belajar mengajar, kembali diadakan latihan berbaris dan beberapa di antaranya berkalungkan peralatan musik marching band yang diketuai guru musik, Miss Sophia. Barisan mereka berada di paling depan.

Yuna mengatur anak-anak barisan belakang yang dibekali bendera merah putih yang terbuat dari plastik. Dua di antaranya merengek lelah, beberapa yang lain terlibat kejar-kejaran. Yuna dan guru-guru berseru lembut mengaturnya.

Yuna sampai harus menggendong salah satunya yang menangis karena diganggu oleh temannya. Usapan menenangkan, membuat anak itu telungkup memeluk leher Yuna dan masih sesenggukan. Tepukan jarang-jarang disertai usapan berhasil membuat tangisnya reda. Begitu menurunkannya, dan masih berjongkok, dia mengeluarkan sapu tangan. Membersihkan sisa-sisa pipi yang basah, butir-butir air yang tersangkut di bulu mata panjang juga diseka.

Sekarang giliran bagian hidungnya yang mungil seperti buah matang, merah muda berkilauan. Yuna mendaratkan kecupan kecil pada pipi gembil anak itu yang saat ini masih membalas tatapannya.

"Amora cantik."

Dada yang sesenggukan di antara helaan nafas tenang berangsur hilang. Kembali menggenggam bendera imitasi dan menggoyangkan sambil tersenyum. Di saat bocah mungil itu mulai menunjukkan gigi susunya lagi, Yuna mengakhiri perhatiannya dengan usapan di puncak kepala. Membenahi surai tipis sehalus rambut jagung dan keriting bagian bawah.

***

Yuna terkekeh menonton hasil rekaman yang dibagikan di grup obrolan khusus guru dan wali murid. Dia tak sadar sudah direkam terang-terangan. Hari ini kali pertama mereka terjun latihan di lapangan. Sehingga banyak kegaduhan dan kekacauan kecil terjadi. Namun keseruan itu membuat rasa lelah menguap begitu saja.

Menurunkan ponsel dari genggaman, kepalanya berputar ke arah lain. Beberapa menit yang lalu Sehun pulang dan menegurnya. Namun setelahnya menghilang entah kemana. Sepertinya Sehun kembali bekerja, atau bahkan sudah tidur.

Dia menggeleng kecil begitu mengamati jam dinding. Ini belum jamnya. Yuna beranjak, menyelipkan kaki ke dalam slipper yang ringan membawanya ke arah dapur.

Sesuai dugaan, suaminya itu memang tengah duduk di balik meja makan. Memasang tampang serius dalam tatapan sayu. Satu tangannya memangku rahang sedang satu yang lain memainkan mouse serta keyboard. Terkadang tak habis pikir, pria ini terlihat lebih sibuk akhir-akhir ini.

'Apa dia punya cukup waktu buat tidur kalau kayak gini?'

Yuna jarang memperhatikan. Tetapi tak mengelak fakta itu. Selama ini dia memilih melihat tanpa mengamati lebih jauh. Sehingga minim sekali memahami kesibukan Sehun. Sekedar tahu tanpa ingin mencari tahu apa yang dibutuhkan pria ini darinya.

SHORT STORIES || YoonHunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang