HEAD OVER HEELS [1]

191 26 9
                                        

Sayup suara dedaunan bergesekan dengan angin, beradu merdu bersama kepakan burung camar. Yoona kembali sambil mendekap pot bunga. Kaki jenjang mengantarkan pada vila sederhana yang setahun ini menjadi rumah untuk keluarga kecilnya.

Ibu mertua tak pernah memberondong pertanyaan persoalan buah hati. Beliau sibuk bersama bisnis yang digeluti selama beberapa tahun.

Tak ada program, segalanya mengalir begitu saja pada lintasan takdir yang menuntun dalam kebahagiaan. Menunda buah hati menjadi keputusan bersama kala suaminya tengah fokus membenahi perusahaan keluarga yang diambang kebangkrutan.

Everything will be fine

The sun will never be wrong when and where it rises

Kalimat ajaib yang selalu menjadi panduan dan kekuatan sang suami saat berjuang.

"Chan? Aku akhirnya dapatkan bunga yang kita cari beberapa hari ini. Orang-orang memburunya dan menyisakan satu pot untukku saat aku bilang sedang hamil." Dia tertawa geli, tak disangka aktingnya membuahkan hasil.

Seseorang di dalam bilik kamar mandi masih terdiam. Riuh gemericik air seketika terhenti kala suara perempuan itu menggema. Begitu meletakkan pot bunga, dia memang segera beranjak menuju wastafel dan bercermin disana. Membenarkan letak rambutnya yang tak beraturan diterpa angin pantai.

"Chan? Kau berangkat jam berapa?"

Suara geseran pintu bilik kamar mandi menarik atensi si perempuan. Manik rusanya melebar, hanyut dalam keterkejutan lalu canggung dalam beberapa saat.

Bagaimana tidak? Dia disuguhkan sebuah tubuh kekar dan lekukan tajam yang dihujani tetesan air dari surai hitam yang basah.

"Sehun? Sedang apa kau disini?" Cuitan Yoona dalam posisi berbalik membelakangi Sehun.

"A.. maaf kakak ipar, water heater di kamarku rusak. Kakak bilang kau akan lama kembali, jadi aku menggunakannya sebentar."

"Tak apa, apa kakakmu di dapur? Aku akan menyusulnya." Yoona bergegas terburu, sama sekali tak melihat yang lain.

***

Chanyeol berlutut di hadapan Yoona, membelai punggung tangan lembut dengan sorot mendamba. Benda berkilau berhias bunga daisy cantik sungguh memukau begitu melingkar di pergelangan kecil wanitanya.

Yoona takjub, seolah lupa cara menutup mulut dengan mata berbinar. Indah, sangat indah melampaui kilauan lampu yang menaungi mereka.

Daisy, lambang cinta tulus dan kesetiaan.

"Di hari ulang tahunmu nanti, aku akan membawamu ke negara impian yang sering kau sebut di catatan kecil."

"Tunggu, kapan kau membacanya?"

Dia yakin menyembunyikan itu sangat rahasia dan akan mengatakannya setelah Chanyeol benar-benar telah mengembalikan kondisi perusahaan.

Pria tinggi itu tersenyum jahil, "Apa yang tak kuketahui tentangmu, sayang. Kau adalah duniaku. Dan aku sangat mengenal itu."

Yoona terkekeh, "Mau berdansa?"

"With pleasure, wifey." Chanyeol merendah, uluran tangan telah diterima dan bertaut erat enggan terlepas.

Kudapan quesillo baru berkurang satu kunyahan menjadi saksi bisu suasana romantis di malam yang hening. Yoona berubah sangat manja tak seperti biasanya, seolah dunianya ingin dia genggam sekencang mungkin. Kecupan di keningnya, terasa dingin, mungkin karena udara malam. Tetapi dia bahagia, apapun, asalkan berdua, terasa spesial.

***

"Kak, biarkan aku yang mengemudi."

Celetukan singkat dibalas nada cuek pria semampai. Tinggi mereka tak signifikan, hanya berjarak beberapa senti. Tetapi akhir-akhir ini, tubuh Sehun memang lebih kekar dan berbentuk. Itu wajar, Sehun atlet tinju, dimana massa otot terus bertambah seiring waktu.

SHORT STORIES || YoonHunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang