Seperti yang dikatakan Sehun, pria itu saat ini sedang sibuk berlalu lalang kesana kemari mengurus proses rawat inap ibu dari mantan kekasihnya. Dia mengulurkan kotak dan air mineral pada Adele.
"Makan dulu. Aku beliin sandwich."
Adele berusaha tersenyum walau pahit, "Thank you. Tapi aku lagi gak selera. Mama belum makan, rasanya susah nelannya."
"Kalau mama kamu bangun dan lihat kamu ketiduran dalam kondisi belum makan, apa yang bakal dia lakuin ke kamu?"
Perempuan itu terdiam, mama selalu mengomel untuk tidak menunda makan, karena tidak ingin Adele merasakan seperti yang ia rasakan. Maag memang dianggap biasa saja, tetapi apabila sudah kronis dapat sangat berbahaya.
Adele pun mengalah.
Sementara itu di sisi lain, Yuna mengabari Sehun jika dirinya bersama sang ibu sudah hampir tiba hingga beberapa menit berikutnya barulah ia menghubungi pria itu.
Atensi Sehun saat ini tersita pada benda pipih yang bergetar di meja, begitu menengok nama yang tertera pada layar, kedua matanya membulat. Kemudian segera ijin untuk keluar sebentar.
"Halo? Na? Gimana kamu udah sampai?"
"Lagi di dalem lift. Kamu udah sampai rumah kan?"
"Aku lagi mau jalan. Maaf ya baru selesai. Kamu masih inget password unitku kan? Kamu ajak mama masuk duluan aja. Di kulkas ada pie almond kesukaan mama kamu."
"Okey. Kamu hati-hati nyetirnya."
"Siap.."
Yuna menutup telfon dan dihadiahi tatapan ibunya, "Kenapa?"
"Sehun masih di jalan, ma. Kita diminta masuk duluan."
Setibanya di unit apartmen Sehun, Yuna mempersilahkan ibunya untuk duduk senyamannya di sofa dan menyalakan siaran tv. Yuna tak banyak tahu mengenai isi unit Sehun karena memang biasanya ia berkunjung tidak lebih dari 3 jam. Mereka lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah.
Saat ini Yuna berkeliling ke dapur. Melihat beberapa bahan masakan yang masih tersimpan rapi di kulkas membuat Yuna ingin menghidangkan sesuatu. Sebelum itu, ia mengambilkan pie almond yang dimaksud Sehun untuk ibunya.
Begitu melipat lengan kardigan yang dikenakan, ia segera mengeluarkan bahan-bahan beserta bumbu, walau tak banyak, seadanya, mengingat Sehun seorang pria dan sibuk, pastinya tidak memiliki banyak waktu untuk mempelajari aneka masakan dan berbelanja.
Ketika membuka lemari bagian atas, Yuna menemukan kotak makan hijau di dalam sana. Dirinya sempat terdiam, bukankah itu adalah wadah yang berisi puding alpukat tempo hari? Ia tak menyangka Sehun masih menyimpan pemberian temannya, ia pikir akan segera dikembalikan atau dibuang.
Rupanya benda yang seperti tidak hanya satu, dua yang lainnya dengan warna berbeda dan merk yang sama terletak di sisi lain. Yuna yakin Sehun tak membutuhkan itu lagi, tetapi Sehun ternyata sangat menghargai semua pemberian untuknya. Ia berinisiatif memindakan dua kotak yang terpisah ke lemari sisinya. "Gini kan lebih rapi."
Namun, kemudian Yuna juga melihat cangkir yang semula tertutup oleh 2 kotak tadi. Ia menggeser cangkir tersebut, lalu tertegun akan sesuatu.
Beberapa waktu berikutnya terdengar suara yang berasal dari depan, menandakan baru saja seseorang membukanya. Sehun buru-buru melepas sepatu lalu menggantinya dengan sandal lantai.
"Hai, ma. Maaf Sehun terlambat," pria itu menghampiri serta mencium tangan calon mertuanya.
"Astaga, santai aja, mama juga lagi asik nonton running man ini," wanita setengah parubaya namun masih memiliki kulit yang terlihat muda itu terkikik. "Gimana nak Sehun kabarnya? Udah lama ya kita gak ketemu, terakhir di acara nikahan sepupunya Yuna kan."
KAMU SEDANG MEMBACA
SHORT STORIES || YoonHun
KurzgeschichtenBukan oneshoot, satu judul bisa terdiri dari beberapa chapter, genre suka-suka » Baku » Semi baku Baca aja, barangkali suka :))
