GLIMPSE OF HER [6]

379 49 19
                                        

Yuna kini tengah lebih banyak menghabiskan hari-harinya di rumah, begitupun setelah mengajar. Setiap kali bangun tidur, kepalanya terasa pusing. Ia kerap murung seakan beban pikiran yang di kepala serta pundaknya menimpanya sejak hari itu. Pola makannya semakin tidak teratur dan itu mempengaruhi perubahan tubuhnya walau tak secara signifikan.

Setiap kali menatap foto pre-wedding dan gaun pengantin, perasaan tak nyaman itu kian menjadi.

"Lo ke outlet gak hari ini?"

"Eum..besok," jawab Yuna.

"Gue nanyanya hari ini, Na. Bukan besok."

"Eng..gak sih kayaknya. M-mau ninjau proyek sebelah."

"Gausah bohong lo. Gue ada di depan rumah. Cepet bukain!"

Sedetik kemudian terdengar gedoran pintu yang amat brutal yang nyaris membuat jantungnya melompat.

"Gila ya tuh anak."

"Bukain neng!"

"Nggak. Lagi males ketemu orang."

Seketika Yuna memutus sambungan telfon. Apa yang dilakukan Irene selanjutnya semakin menggila. Ia lebih keras menggedor-gedor pintu sambil memanggil nama Yuna berkali-kali. Tetangga depan rumah sampai menengok jendela saking berisiknya. Yuna merasa tak enak karena suara yang amat menganggu yang disebabkan Irene. Sehingga mau tak mau ia terpaksa membukakan pintu depan.

Respon pertama yang dilihatnya adalah seringaian Irene yang menyebalkan.

"DOKTERRR INI PASIENNYA KABURR! TOLONG!!"

"Kurang ajar!" Irene tak lagi bisa menahan umpatan.

"Argh..ngapain sih lo kesini, Ren?" Yuna yang malas langsung berbalik masuk diikuti Irene di belakangnya.

Gadis itu mengendikkan bahu. "Pengen mastiin lo hidup aja." Teramat singkat dan jelas jawaban itu wahai Irene.

Yuna menghempaskan tubuhnya ke sofa, memeluk bantal dan sangat malas untuk meladeni Irene. Sedangkan gadis itu berdiri tegak di dekat Yuna, menyilangkan lengan di depan dada dan memandang miris penampilan Yuna saat ini.

"Lo kalau kayak gini terus, makin nyiksa batin dan fisik lo sendiri, Na. Bukan lo yang seharusnya menderita. Tapi tuh laki."

"Ya kan gue yang korban disini." Suaranya agak parau.

"Tapi yang berhak menderita itu dia. Bukan lo. Menderita karna penyesalan udah nyakitin perasaan lo. Sebenernya gue udah curiga sejak lama. Memang menghadapi orang yang belum move on sering makan hati. Gue udah wanti-wanti juga buat gak gegabah nentuin tanggal. Tapi lihat lo makin happy bareng dia, gue gak bisa berbuat apa-apa, Na. Orang mana sih yang gak bahagia lihat sahabatnya bahagia."

Irene mengambil tempat duduk di dekat Yuna.

"Pokoknya lo harus balas dendam. Bikin dia menyesal semenyesal mungkin. Gue gak akan memaksa lo untuk batalin rencana nikahan kalian. Karena gue percaya apapun keputusan lo nanti, itu udah lo pikirin mateng-mateng. Lo dewasa dan berani mengambil keputusan terberat apapun resikonya. Lo yang berhak atas hidup lo sendiri. Tapi gue gak ikhlas kalau misalnya lo ngalah setelah semua yang terjadi."

***

Saat ini Yuna sedang berada di dekat lokasi pembangunan yayasan. Bahkan dekat dengan hari-H pun kesibukannya tak kunjung reda. Ia terlihat tengah membahas beberapa hal bersama teman-temannya.

"Oh iya Na. Denger-denger lo mau married?"

Ekspresi Yuna pun langsung berubah. Ia ragu-ragu memperlihatkan senyumnya. "Iya, sederhana aja kok gak gede."

SHORT STORIES || YoonHunCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang