"Tidak bisa."
"Sehun-ah."
"Aku tahu itu bukan ucapan ibumu. Tapi kau yang memintanya."
Jisoo bergeming, tatapannya berubah sendu. "Kenapa? Kenapa kau melakukan ini padaku? Bagaimana bisa pertunangan tidak dilandasi dengan cinta."
"Kau bisa membatalkannya."
"Apa? Lalu kau akan menghancurkan hati dua keluarga, Sehun. Apa itu tidak terpikirkan olehmu?"
"Bukankah sejak awal sudah jelas bagaimana akan berakhir. Tidak ada satu pun orang yang bisa merubahku, termasuk caraku bersikap padamu."
Dingin sekali. Ucapan Sehun berhasil menusuk perasaan Jisoo. Lagi-lagi dengan lidah tajam Sehun menyakitinya.
"Lalu bagaimana denganku? Apa kau tidak memikirkan sedikit pun perasaanku?" nampak selaput bening yang menebal pada netra Jisoo.
Keduanya masih bersitatap, "Apa yang kau dapat dengan hubungan sepihak ini? Jika itu terus menyakitimu, mengapa kau bersikeras memaksakannya?"
Genggaman Jisoo pun mengerat. 'Sebab mengalah, bukanlah diriku.'
***
"Bukankah kau baru saja membeli dispenser?"
"Yang dulu itu untuk ibuku."
Haein baru saja pindah rumah, jadi banyak barang-barang yang harus dia beli. Rumah sebelumnya adalah rumah sewa, sementara yang sekarang ia membayarnya kredit.
Sedangkan Yoona berkeliling, mana tahu ada barang yang tak terpikirkan tiba-tiba ingin dia beli. Begitu pandangannya menangkap benda tabung cantik disana, dia mendekat.
Hendak digapainya namun seseorang meraihnya lebih cepat, Yoona otomatis tidak sengaja memegangnya. Tetapi buru-buru ditariknya kembali.
"Maaf, aku tidak sengaja-" kedua netra Yoona membulat. "Tuan Oh?! Wah sedang apa anda disini?"
Sehun kembali menyimpan tangan ke dalam saku, "Kau sendiri?"
"Kebetulan menemani rekan kerjaku belanja perabotan," jawabnya lalu melirik lampu tidur hias yang sama. "Tuan Oh ingin beli yang ini? Silahkan. Aku akan cari yang lain."
"Kau ambil saja. Aku tidak berniat membelinya."
Senyuman gadis itu tersungging manis, ia mengikuti Sehun yang melanjutkan langkahnya. "Aku pikir Tuan Oh belum sampai level maksimum dalam tingkatan workaholic," gadis itu mengangkat satu tangan. "Buktinya masih punya waktu keluar dari basecamp."
"Aku manusia."
"Woah," Yoona mendadak menghadang di hadapan Oh Sehun membuat laki-laki itu bingung. "Akhirnya aku mendapatkan jawabannya."
"Kau ini bicara apa?" Sehun menunduk menatap wajah Yoona.
"Asal anda tahu, aku sering bertanya-tanya sendiri apa anda manusia atau robot yang tahan bekerja sampai berjam-jam. Apa tidak jenuh hm? Tidak mengantuk?" ujarnya melipat lengan di depan dada.
"Ada banyak proyek yang sedang aku kerjakan," Sehun membuang muka.
"Begitu ya, sudah jelas aku tidak bisa membantu. Tapi Tuan Oh kalau ingin jalan-jalan menikmati udara segar lagi, aku tidak akan menolak loh. Hehe." Hitung-hitung dapat tumpangan gratis.
Sementara Sehun memicing, condong dan mendekatkan wajahnya kontan membuat sepasang manik mata Yoona menyatu.
"Kau seperti orang yang tidak punya pekerjaan. Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"
KAMU SEDANG MEMBACA
SHORT STORIES || YoonHun
Cerita PendekBukan oneshoot, satu judul bisa terdiri dari beberapa chapter, genre suka-suka » Baku » Semi baku Baca aja, barangkali suka :))
