Para undangan workshop dipersilahkan memasuki aula utama. Kursi-kursi serta bangku berjajar rapi dan mereka satu-persatu mulai menempatinya.
Sehun berjalan bersama Yuna, dia mengatakan pada istrinya untuk menikmati healing-nya sesuka hati selama dia mengikuti acara. Perempuan itu mengangguk setuju. Tak ada rencana pasti, dia mungkin akan berkeliling secara random di sekitar sini.
Yuna membenarkan turtle neck sambil sedikit menyisir rambut panjang yang tergerai tersapu angin pagi.
"Kalau bosen jalan-jalan. Rebahan aja di vila."
"Pengen berenang air anget, deh."
Tatapan Sehun berubah dengan kerutan yang dihasilkan di antara kedua alis tebalnya.
"Jangan berenang kalau gak ada aku disana."
"Yah, kalau nunggu kamu keburu siang, panas."
"Besok pagi aja kalau gitu."
"Emang kenapa sih? Kan di sekelilingnya ada pagar. Pintu depan kekunci semua."
Sehun menarik sudut bibirnya. Menepuk lembut puncak kepala Yuna seraya menggumamkan kelanjutan dari perkataannya.
"Tetep gak boleh ya, cantik."
Tak peduli dengan wajah istrinya yang memberengut menyiratkan celaan yang tertahan di tenggorokan. Dia tak tahu kapan tepatnya, tetapi dia memang merasakan Sehun sedikit posesif akhir-akhir ini.
Sehun memasuki area aula utama, sedangkan Yuna hendak berjalan keluar dari sekitar vila. Dia berhenti demi melakukan sedikit peregangan sambil menghirup dalam-dalam udara segar disini, seolah sedang memuaskan paru-parunya mengingat Jakarta bukanlah tempat yang menyediakan banyak pasokan udara bersih sebab tertutup polusi.
"Yuna!"
Mata yang terpejam sejenak itu segera terbuka dan mencari sumber suara yang memanggil namanya. Lengkungan senyum memudar, mendapati fakta mengejutkan di hadapannya.
"Hai."
Sapaan ramah di sela senyum yang mengembang justru membuat Yuna terdiam belum memberikan respon.
"Ah. Tolong jangan salah paham. Aku disini nemenin Hanbin. Dia gantiin rekan kerjanya yang sakit."
Yuna mengangguk seadanya. Tak juga antusias apalagi tertarik. Setitik kegelisahan sejenak hinggap di benaknya.
"Kamu gak lupa kan siapa namaku?"
"Eum. Inget, kok." Jawab Yuna dengan ekspresi datar. 'Gimana mungkin aku lupa.'
Selanjutnya Adele mengajak Yuna singgah di sebuah kafe dekat vila. Kafe 'Rumah Teh' yang berdekatan dengan rumah kaca yang tampak melindungi berbagai macam bunga indah di dalamnya menyita perhatian para pengunjung.
Yuna tak menolak ajakan itu, begitu berpikir bahwa dia juga ingin tahu apa yang hendak disampaikan perempuan yang sekarang duduk di hadapannya ini. Mereka agak canggung, seperti berusaha mengisi celah dengan memulai obrolan.
"Oh iya, kamu apa kabar?"
"Baik."
"Sehun gimana?"
"Dia baik. Hubungan kami juga baik. Gimana hubungan kalian? Sehun bilang kata Hanbin kalian mau tunangan bulan depan?"
Ekspresi wajah Adele berubah, menampilkan senyum yang dipaksakan. "Yah. Doain aja ya. Memang ada rencana, tapi belum tentu bulan depan. Dia masih sibuk sama kerjaan. Aku juga."
Dia diam sejenak, tak begitu memperhatikan ekspresi tersirat apakah di balik wajah tenang Yuna.
"Aku belum sempat ketemu secara personal kayak gini sama kamu. Jadi aku baru sempat minta maaf secara langsung untuk meluruskan kesalahpahaman yang mungkin terjadi di antara kalian."
KAMU SEDANG MEMBACA
SHORT STORIES || YoonHun
FanfictionBukan oneshoot, satu judul bisa berisi beberapa chapter, genre suka-suka yang nulis ^^ » Baku » Semi baku Baca aja, barangkali suka :))
