MIRACLE IN LOVE [3]

1.7K 231 13
                                        

Yoona muak, tangannya mengepal erat. “Maaf, saya mengganggu. Tapi ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada menjadi penonton sebuah sandiwara yang sama sekali tidak sesuai dengan tipeku. Permisi,” ujar Yoona kemudian masuk.

Mereka mematung. Irene menyenggol lengan Sehun. “Apa kita ketahuan?” bisiknya.

“Kurasa kita berhasil.”

“Berhasil apanya, kau dengar dia bilang apa? Sandiwara? Dia sudah tahu rupanya.”

Sehun berdecak jengkel. “Aku tidak habis pikir kenapa kakakku bisa menikahi perempuan sepertimu. Oh tidak, aku lah yang bodoh, kenapa bisa aku mempekerjakanmu sebagai sekretarisku?”

Irene mendengus. “Kau bilang apa? Dasar bocah tengik. Kau mau bilang aku bodoh begitu?”

“Apa aku tadi mengatakan itu?” tanya Sehun dengan tampang polos.

“Arghh harusnya aku tidak menuruti si pendek itu.”

“Siapa yang kau maksud pendek? Tidak sadar diri.”

Irene meninggalkan Sehun dengan wajah kesal. Kalau saja Suho tidak mengancam akan membakar dolar dan black card pemberiannya, Bae Irene tidak akan menurut untuk menjadi sekretaris adik iparnya.

---

Rapat berjalan lancar dan serius. Yoona duduk tenang bersama manajer divisi lain. Tepat di sebelah Kang Joon, yang dulu sempat mengatakan menyukai Yoona ketika mereka sedang merayakan ulang tahun perusahaan dengan pesta soju di salah satu kedai. Ya, Kang Joon yang sedang mabuk tanpa sadar mengungkapkan perasaannya pada perempuan itu.

Well, hal yang membuat Sehun menancapkan gas lebih dalam untuk mendekati Yoona. Karena sadar bahwa saingannya tak hanya satu yang jika dikumpulkan bisa membentuk koloni persis semacam bakteri. Iya, bakteri kan memang seharusnya disingkirkan.

Namun ia tidak mau repot-repot melakukannya dengan menyentuh kulit para rivalnya atau dengan membayar orang untuk mencelakai mereka. Sayangnya Oh Sehun bukan pengecut.

Wajah Sehun berubah masam sejak tadi ia menatap mereka berdua. Tapi beruntung fokusnya pada topik rapat tidak pecah.
Rapat selesai dan semua kembali ke pekerjaan masing-masing.

---

Yoona melihat Sehun yang buru-buru menenteng jas kerjanya. Mau kemana pria itu? batin Yoona. Tapi mengingat perbuatan Sehun tadi pagi di depan ruang  GM membuat Yoona kesal, ia jadi tak peduli, lagipula bila dipikir, memang siapa dia?

Yoona memang mengatakan pada Sehun akan berusaha pelan-pelan, tapi Sehun malah menghancurkannya. Ngomong-ngomong Yoona juga tidak menjawab dengan jelas ia menerima lamaran Sehun kok. Dan ia bersyukur tidak mengatakannya mengingat ternyata Sehun tidak sebaik yang ia pikir. Semua laki-laki sama saja.

Oh Sehun menatap bangunan di hadapannya dan senyumnya merekah ketika melihat anak kecil keluar setelah bersalaman dengan guru. Sehun menghampiri dan menyapa.

Sementara Mark memiringkan kepala dan bergumam lirih, “Sedang apa paman Sehun kemari?”

Sehun tersenyum lalu menunduk salam ketika berhadapan dengan ibu guru. “Anda ayahnya?” wanita itu seolah tak percaya.

“Hm benar.”

Mark yang masih mendongak, memandang Sehun dengan tatapan polos. Berhasil membuat Sehun berdecak gemas lalu mengacak rambut Mark.

“Tapi Mark bilang ayahnya sudah tiada.”

“Dan anda percaya ucapan anak kecil?”

“Tentu saja, anak kecil mana mungkin berbohong.” Namun kenyataannya Mark sering berbohong tentang kondisinya pada orang lain. Miris.

SHORT STORIES || YoonHunTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang