HEAD OVER HEELS [6]

154 24 7
                                        

"Stephane!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Stephane!"

Seorang wanita melambaikan tangan, senyumnya merekah melihat anak kecil mengenakan kemeja cerah. Musim panas telah tiba, bocah 4 tahun itu menoleh pada suara yang memanggilnya. Dia terlalu mandiri untuk anak seusianya, dia suka jalan-jalan berkalungkan kamera di leher.

"Kau kesini sendirian?"

"Hm. Ibu sedang sibuk bersiap untuk acara."

"Ah ya, gladi bersih. Dia jadi semakin sibuk setahun terakhir. Stephane, kau mau waffle tidak? Biar bibi belikan."

"Es krim. Deal."

"Kau bilang tidak suka manis."

"Apa menurut bibi waffle tidak manis?"

Dan, saat ini dia menggoyangkan kaki selagi menjilat es krimnya dengan rapi. Jiwon merapikan rambut Stephane sembari mengamati wajah rupawan anak itu.

"Kenapa kau cepat sekali besarnya, hm? Bulan depan kau sudah naik kelas. Wajah tampanmu ini pasti jadi incaran mereka."

"Ini harta bibi. Ibu bilang berharga."

"Ya.. itu benar." Tak lama seseorang menelfon, Jiwon segera mengangkatnya selagi melangkah menuju kasir. Dia meninggalkan Stephane yang masih sibuk dengan es krim dalam genggaman.

Stephane melihat sebuah bola milik anak laki-laki berambut pirang menggelinding nyaris ke jalanan. Dia mengambil langkah, mengejar bola hingga trotoar.

Brugh

Anak itu hanya ternganga melihat es krimnya jatuh dan kotor.

"Astaga. Hei, nak. Kau tak apa?"

Stephane mengangkat kepala melihat orang yang tinggi menjulang menghalangi sinar matahari.

"Kau mengejar bola ini?" Dia mengulurkan benda itu padanya. Berbahasa Perancis sederhana yang tidak begitu lancar. Dia duduk berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Stephane.

"Ya, terimakasih, paman."

"Paman belikan lagi es krimmu yang jatuh ya."

"Tidak perlu. Di sana ada bibiku. Aku bisa minta lagi padanya."

"Baiklah. Sebagai gantinya, ambil ini jika kau dan keluargamu nanti membutuhkannya."

"Ini apa?"

"Kartu VIP."

"Daebak. Bukankah ini berlian?"

Pria tinggi itu tertawa, mendengar Stephane keceplosan berbahasa korea membuatnya tertarik.

"Aku tidak menyangka kau anak orang Korea. Pasti orang tuamu bangga dengan kecerdasanmu. Oh ya, namamu siapa, nak?"

"Stephane. Apa paman dari Korea?"

SHORT STORIES || YoonHunTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang