Sean datang membawakan secangkir coklat panas untuk istrinya. Mereka saat ini berada di rumah orang tua Sean untuk sementara waktu. Sebelum kembali dari rumah mereka senja tadi, mereka sempat melakukan wawancara dengan para wartawan. Tak hanya Yuna dan Sean, namun juga bu Gina dan tetangga lainnya.
"Kamu ketemu lagi sama Keira?"
"Terakhir tadi siang sih waktu kalian berdua di dalam gudang. Dia genggam tangan aku, terus senyum." Sepasang netra itu berkaca-kaca mengingatnya. "Keira, selalu pengen di dekat An pasti karna pengen tau rasanya disayang kedua orangtua dengan tulus. Walau dia cuma diem, tapi matanya berbicara."
"Dia anak yang manis. Selama ini pasti yang dia butuhkan orang lain peka sama keadaannya. Tapi justru kehadiran dia bikin mereka takut."
"Gimana kalau An nyariin 'kakak'?"
"Kita pikirin itu nanti, yang jelas biar keliatan masuk akal. Kalau enggak, An pasti gak berhenti ngomong ini itu. Anak itu terlalu cerdas untuk dibohongin." Sean terkekeh.
"Ayah sama bunda ngomongin An?" celetuk seorang gadis mungil yang muncul dari balik pintu. Keduanya serentak menoleh.
"Tuh kan baru aja diomongin," kata Sean. Yuna ikut terkekeh gemas.
"Hah? No no. Ayah sama bunda gak ada rencana macem-macem kan?" Yuna nyaris menjatuhkan mulutnya sebelum kemudian An melanjutkan ucapannya. "Kasih waktu aku 1 minggu aja untuk milih les piano atau biola, ya?" Anak itu merengek di pangkuan Sean. Sedangkan Yuna mengulas senyum mengusap pipi gembil An.
"Bunda bebasin An pilih apapun yang An suka. Piano or violin? Both are very good to play."
***
50 jam usai siaran tv pertama yang memberitakan kasus tersebut...
"Ini rumahnya pak. Beliau sesekali keluar jalan-jalan, tapi lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Beliau lebih senang memesan barang belanjaan dengan menghubungi tetangga yang punya toko kelontong, beliau juga sering memberi uang lebih dan menolak kembalian," jelas seorang pria dewasa yang tak lain ketua RT setempat di kota Manado. Dia mengantarkan 1 orang berseragam dan 1 orang lagi berjaket hitam. "Kemana ya pak Santo, beliau juga tumben sekali belum pesan apapun hari ini."
Pria bernama Yayan itu sejak kemarin sempat ditanya-tanya oleh pemilik toko perihal pak Santo.
"Permisi, pak Santo."
Namun tidak ada sahutan sama sekali dari dalam. Yayan kemudian masuk melewati gerbang yang tidak terkunci, lalu mengetuk pintu kayu disana. Begitu tetap tak ada sahutan, Yayan perlahan mendorong pintu yang rupanya tidak terkunci. Mereka pun segera masuk dan menyisir rumah yang terlihat sepi itu. Yayan masih berusaha memanggil si pemilik rumah sambil sempat berpikir apakah pak Santo pergi ke luar kota?
Ketiganya merasa aneh ketika mencium aroma tidak sedap yang entah darimana asalnya.
"Ya Allah!" teriak seorang polisi berseragam dengan wajah yang amat shock. Rekannya dan juga Yayan menghampiri dan tak kalah terkejutnya melihat pemandangan mengerikan dimana Santo telah tewas gantung diri di rumahnya.
***
"Kamu serius gak pengen pindah ke apartemen aja?"
"Buat apa mas? Sayang rumahnya kalau gak ditempatin. Toh juga penyelidikan udah hampir kelar." Yuna yang berbaring di samping Sean berbantalkan lengan suaminya tengah sibuk mengetik pada ponsel.
"Na?"
"Hm?"
Dia masih sibuk membalas pesan dari Erika yang kemarin juga langsung menelfonnya begitu melihat berita di tv. Sama halnya dengan Jiya. Tak hanya itu, teman lama Ayuna pun ikut menghubungi perihal kebenaran kasus tersebut, beberapa di antaranya baru mendengar beritanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHORT STORIES || YoonHun
Short StoryBukan oneshoot, satu judul bisa terdiri dari beberapa chapter, genre suka-suka » Baku » Semi baku Baca aja, barangkali suka :))
