REAL BOSS [4]

624 106 62
                                        

Yoona menyendok makanan yang telah ia campur di mangkuk besar. Tetapi kedua matanya tidak lepas dari ponsel yang sedari tadi di sampingnya.

"Kenapa aku masih yakin dia akan menghubungiku?"

Mendengus kemudian melahap kembali nasi campurnya.

"Sepertinya tahun ini aku tidak bisa menghadiri festival. Padahal aku ingin sekali. Kalau saja-" Yoona menghela nafas kasar. "-ketakutan masa lalu itu tidak membekas, aku akan kesana sendirian. Hah! Lupakan saja Yoona, kau bisa menghadiri acara seperti itu lain kali."

Tepat pada detik berikutnya, ponselnya bergetar, kedua mata Yoona membulat. Melihat nama Sehun terpampang, Yoona buru-buru meneguk air minum.

Aku berada di halte dekat rumahmu. Kuberi waktu 10 menit untuk bersiap -Sehun

Sedang apa anda disana?  -Yoona

Sambil mengetik ia dibuat bingung namun kemudian termenung sejenak. Apa ini seperti dugaannya?

9 menit -Sehun

"Apa-apaan sih?"

8  -Sehun

Iya Tuan Oh tunggu sebentar -Yoona

"Jaemin! Cepat keluar! Aku buru-buru."

Anak itu mengangkat kepala santai, "Aku sedang bab."

"Ah lama!" Yoona mendobrak pintu toilet yang kebetulan ternyata tidak dikunci.

"Orang ini gila ya, aku sudah dewasa!" Jaemin protes melihat kelakuan Yoona. "Sial, aku lupa tidak mengunci pintunya."

Semetara gadis itu tidak peduli dan sibuk membubuhkan pasta gigi. Setidaknya menyikat gigi dapat mengurangi bau mulut karena sisa makanan yang menempel di mulutnya.

Sesungguhnya ia tidak tahu mengapa Sehun memintanya bertemu malam-malam. Dengan sikat yang masih berada di dalam mulut, Yoona berhenti lalu berbalik.

"Jae."

"Jangan menatapku begitu," jengkelnya. Jaemin yang masih setia duduk di closet berusaha menutup bagian bawah tubuhnya dengan kaos.

Yoona memutar bola mata, "Aku bahkan melihatmu telanjang waktu balita. Hei Jaemin, kau tahu? Bos itu tiba-tiba mengajakku bertemu di halte depan."

"Jadi kau menggangguku hanya karena mau menemuinya? Malam-malam begini? Kau tidak takut dia berbuat macam-macam?"

"Kau tidak tahu saja dia sedingin batu karang di laut."

Sempat terlintas di pikirannya, jadi.. haruskah ia berdandan? Mana tahu bos hendak mengajaknya ke suatu tempat. Kemudian ia merutuki dirinya yang bisa-bisanya berpikir Sehun menyetujui ke acara festival. Dia bahkan tidak mengatakan apapun. Daripada dibilang ge-er lebih baik langsung menemuinya saja.

Yoona mengenakan hoodie pink miliknya dan setelan bawah jeans, dia telah melihat siluet seseorang yang berdiri disana. Geraian surai kecoklatan Yoona tertiup angin malam yang menyejukkan.

"Tuan Oh?"

Sehun berbalik, lalu memindai penampilan Yoona, kedua tangannya tersimpan hangat di saku hoodie.

"Tuan Oh ada perlu apa malam-malam menemuiku? Padahal kita bisa mengobrol lewat telfon."

"Kau terlambat 2 menit."

"Apa?" Yoona mengerjap, sejeli itukah laki-laki ini? "Anda bisa mengatakan tujuan anda sehingga aku bisa kembali."

Sehun membatin, ia agak menyesali dengan keputusannya mengunjungi gadis ini. Mengapa sampai repot-repot melakukan hal tidak berguna semacam ini. Sementara Yoona semakin bingung menunggu patung es itu membuka mulutnya. Dia menyerah.

SHORT STORIES || YoonHunTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang